Senin, 25 Mei 2009

Pengalaman Spiritual Berguru kepada Sunan Kalijaga

PENGANTAR

Dengan memohon perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk serta dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang penulis memulai menulis buku ini. Segala puji hanyalah hak Allah, Tuhan seluruh alam, Yang mengetahui yang gaib maupun yang lahir. Dia Maha Besar lagi Maha Tinggi. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, Rasul terakhir yang tidak ada lagi rasul sesudahnya. Semoga pula barokah dan karomah Allah senantiasa tercurah kepada para aulia, syuhada dan ulama pewaris nabi yang dengan segala daya dan upaya telah menuntun ummat untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Beliau-beliau itu adalah pejuang agama yang gigih, tak mengenal lelah menyebarkan Din al Islam ke berbagai pelosok negeri – dari pantai hingga ke puncak-puncak gunung yang sulit dicapai dengan tujuan menegakkan iman dan Islam.

Selanjutnya penulis sampaikan ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah membantu dalam bentuk apapun baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga buku ini bisa terbit dan dibaca oleh berbagai kalangan. Terima kasih tak terbilang penulis sampaikan kepada kolega penulis, Saudara Drs. Muslih Husien, M.Ag. yang mempertemukan dan memperkenalkan penulis dengan Saudara Budianto, teman penulis yang dengan segala jerih payahnya selalu penulis utus ke berbagai tempat guna melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan petunjuk Guru Gaib. Dalam istilah Jawa Saudara Budianto bisa disebut sebagai Cucuk Lampah.

Mudah-mudahan segala jerih payah baik Saudara Drs. Muslih maupun Saudara Budianto bisa mendapatkan barokah dari Allah SWT dan menjadikan beratnya timbangan amal baik di hari hisab nanti.

Bantuan dari putra-putra dan istri penulis tercinta juga begitu bermakna. Tanpa dukungan dari orang-orang dekat ini jelas tidak banyak yang dapat penulis lakukan apalagi sampai diterbitkannya buku ini. Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan barokahNya kepada mereka.

Mungkin saja dalam pandangan para pakar buku ini tidak memiliki kualifikasi atau standar ilmiah yang bisa diterima di kalangan ilmuwan. Namun paling tidak dapat dijadikan bahan renungan yang mengantarkan kita kepada jalan kebenaran atau petunjuk Ilahi yang jika petunjuk-Nya datang tak seorang pun dapat menghalanginya. Atas kekurangan dan kelemahan dalam buku ini penulis memohon maaf yang setulus-tulusnya. Penulis yakin tidak ada makhluk yang sempurna karena kesempurnaan adalah milik Allah saja. Karena itu kritik dan saran demi perbaikan buku ini penulis sambut dengan segala hormat dan kerendahan hati.

Sekalipun buku ini tidak memiliki standar ilmiah yang memadai dan barangkali sama sekali tidak memiliki bobot, penulis memohon kepada Allah agar melalui buku ini Allah melimpahkan barokah dan manfaaat yang besar bagi kehidupan kita bersama sehingga tercipta ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah watoniyah. Akhirnya semoga Allah selalu menerangi batin kita dan menetapkan kita sebagai manusia yang khusnul khotimah. Amien.

MUKADIMAH

Iman dan Islam merupakan dwitunggal yang tidak bisa dipisahkan. Di dalam terminologi Islam – mukmin pasti muslim dan seorang muslim haruslah mukmin. Realisasi dari kemukminan dan kemusliman adalah ketaqwaan. Sehingga seorang muslim yang mukmin itu disebut dengan muttaqin. Dengan demikian terdapat korelasi timbal balik antara iman dan taqwa yang bisa ditarik garis lurus. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al Baqoroh ayat 2 – 3 yang artinya : Kitab itu (Qur’an) tidak ada keraguan di dalamnya, menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa (ayat 2) yaitu orang-orang yang beriman pada yang gaib dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka (ayat 3). Dengan sangat lugas kedua ayat tersebut memberikan gambaran tentang ciri utama orang-orang yang bertaqwa (muttaqin) yaitu :

- beriman kepada yang gaib

- mendirikan sholat

- menafkahkan rezeki di jalan Allah

Kata amanu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan percaya atau beriman. Namun demikian kita bisa merasakan dalam penggunaan bahasa sehari-hari bahwa percaya tidaklah identik dengan beriman. Dalam ilmu semantik dikatakan bahwa synonym is always partial. Artinya synonym itu selalu sebagian saja. Lebih-lebih kata yang bukan sinonim jelas tidak mengandung pengertian yang sama persis. Sebagai contoh adalah murid-murid penulis menyapa penulis dengan sebutan Bapak tetapi mereka tidak mungkin menyapa dengan kata ayah. Padahal Bapak adalah sinonim dari ayah. Namun dalam konteks yang berlainan keduanya menjadi berbeda. Percaya merupakan terjemah dari kata amanu dan bukan sinonim dari kata beriman. Maka kata percaya dan beriman tidak selalu bisa digunakan secara bergantian. Kita bisa mengatakan “Saya percaya pada berita dari televisi itu”. Tetapi jelas tidak tepat kita mengatakan “Saya beriman kepada berita yang disiarkan televisi itu”. Kata beriman memiliki nuansa ritus religius sedangkan kata percaya tidaklah demikian adanya.

Di dalam setiap agama keimanan adalah sesuatu yang sentral dan prinsipal. Setiap keimanan tentu tidak terpisahkan dari segala hal yang gaib. Gaib bisa diartikan dengan “tidak hadir” atau “tidak kelihatan”. Karena itulah arus listrik, udara, ether, gelombang radio atau gelombang elektromagnetik secara bahasa bisa dipandang gaib sebab tidak nampak. Akan tetapi karena fenomena dari hal-hal tersebut bisa ditangkap maka hal itu semua bukanlah gaib hakiki, melainkan gaib nisbi. Terhadap gaib nisbi tidak diperlukan keimanan. Yang memerlukan keimanan atas eksistensinya adalah gaib hakiki saperti Allah, malaikat, ruh, surga dan neraka, jin, iblis dan sejenisnya serta kehidupan setelah mati dan kehidupan akhirat. Termasuk persoalan gaib juga yaitu dosa dan pahala, keberkahan, rezeki dan keselamatan.

Seperti telah penulis katakan di depan bahwa ciri utama orang yang bertaqwa di antaranya adalah beriman kepada yang gaib. Jin dan syetan atau iblis pun tergolong gaib. Tetapi keimanan kita terhadap mereka adalah sebatas iman atas eksistensinya. Berbeda dengan iman kita kepada rasul, malaikat dan Allah yang merupakan keimanan total termasuk mengimani firman-firmanNya.

Pembicaraan tentang hal yang gaib bisa menimbulkan persepsi yang berbeda-beda antara satu orang dan orang lainnya. Dan karena adanya perbedaan persepsi ini wajarlah apabila terjadi pro dan kontra. Jadi pro dan kontra dalam menyikapi persoalan gaib bukanlah sesuatu yang berlebihan dan tidak boleh menimbulkan sikap permusuhan.

Pada millenium ketiga ini nampaknya telah terjadi pergeseran nilai. Pada saat ini perbincangan tentang gaib tidak lagi dipandang aneh dan bodoh. Media massa baik cetak maupun elektronik tidak lagi menganggap tabu untuk menyajikan berbagai informasi tentang hal-hal gaib. Bahkan acara-acara yang bernuansa gaib ditayangkan di hampir semua stasiun televisi di negeri ini.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas penulis merasa perlu menulis buku ini untuk menyampaikan pengalamannya selama berguru kepada Sang Guru Gaib yang tidak lain adalah gaibnya Kanjeng Sunan Kalijaga. Tujuan utama penulisan buku ini adalah untuk memberikan kontribusi informasi mengenai alam gaib dan berbagai hal yang berhubungan dengan gaib kepada pembaca khususnya dan masyarakat muslim pada umumnya agar memiliki persepsi yang benar dan bersikap proporsional dalam menghadapi persoalan yang berhubungan dengan gaib. Sehingga tidak terjerumus ke dalam kesesatan aqidah. Di samping itu penulisan buku ini juga dimaksudkan sebagai Darma Bakti seorang murid kepada guru. “Dalam bahasa Jawa dikatakan sebagai sebuah sikap “mikul dhuwur mendhem jero”.

Melalui buku ini pula, penulis ingin memenuhi keinginan beliau, Kanjeng Sunan Kalijaga dan para anggota Walisongo lainnya agar penulis ikut serta menyampaikan dan meneruskan ajaran Islam yang telah disebarkan oleh para wali pada jaman dulu di Nusantara ini.

Yang penulis maksud dengan menyampaikan dan meneruskan ajaran Islam yang dibawa oleh para wali di sini bukan berarti penulis yang memulai aktifitas ini tetapi penulis sekedar mengulangi apa yang telah dilakukan oleh para da’i dan ulama sejak dulu hingga kini. Dengan demikian tidak terkandung maksud bahwa selama ini ajaran itu telah terhenti dan tidak disampaikan kepada ummat. Adanya kesempatan penulis menjadi murid dari Sang Guru Gaib, Kanjeng Sunan Kalijaga, penulis manfaatkan untuk meminta konfirmasi serta keterangan-keterangan tambahan mengenai ajaran yang telah beliau sampaikan pada waktu dulu. Tidak lupa juga penulis akan melakukan cross check atas fakta-fakta sejarah tentang beliau. Sehingga jika telah terjadi sesuatu penyelewengan atau manipulasi, kita dapat segera meluruskan sesuai dengan sumber aslinya.

Uraian tentang berbagai persoalan dalam buku ini tidaklah berdasarkan pada pendapat atau pikiran penulis belaka tetapi mengikuti petunjuk dan bimbingan beliau Sang Guru Gaib atau Guru Batin. Demikian pula informasi tentang sejarah tidak penulis ambil dari buku teks sejarah yang telah ada, lebih-lebih mengenai sejarah hidup beliau. Jadi sumber primer buku ini bukanlah hasil riset lapangan maupun perpustakaan melainkan wejangan-wejangan yang telah penulis peroleh dari gaib Kanjeng Sunan Kalijaga.

Yang menjadi pertanyaan dan persoalan tentang penulisan buku ini barangkali adalah cara atau teknik penulis memperoleh informasi maupun wejangan dari Kanjeng Sunan Kalijaga sebagai bahan penulisan. Hal ini kiranya membikin penasaran sementara pihak atau bahkan sama sekali tidak diterima karena Kanjeng Sunan Kalijaga telah wafat. Rasanya memang muskil bagaimana penulis bisa memperoleh wejangan atau informasi dari beliau. Melalui mimpikah? Dengan meditasi, kontemplasi atau imajinasi? Penulis tidak melakukan semua itu. Yang penulis lakukan adalah tanya jawab atau konsultasi.

Berhubung Kanjeng Sunan Kalijaga itu telah wafat dan berada di alam gaib yang penulis lakukan adalah berkonsultasi atau tanya jawab secara gaib. Penulis tidak tahu pasti apakah cara memperoleh data atau informasi yang demikian bisa diterima oleh dunia ilmu pengetahuan.

Buku ini bukan hasil penelitian atau karya ilmiah. Yang penulis sajikan adalah deskripsi dan narasi mengenai pengalaman penulis saat berguru kepada Kanjeng Sunan Kalijaga. Jadi gaib di sini bukan merupakan obyek penelitian melainkan sumber informasi/data.

Sebagian hasil konsultasi/komunikasi penulis sajikan dalam teks berbasa Jawa sebagaimana aslinya. Untuk memudahkan pemahaman bagi pembaca yang tidak mengerti bahasa Jawa penulis memberikan terjemahnya dalam bahasa Indonesia.

Peristiwa maupun fenomena gaib bagi orang beriman sesungguhnya bukanlah perkara irrational tetapi hanyalah soal perbedaan dimensi, karena di alam syahadah pun melekat sisi-sisi gaib.

PERTEMUAN DENGAN GAIB-NYA KANJENG SUNAN KALIJAGA

A. Menghadirkan Mbahurekso

Meskipun belum pernah mengetahui dan mengalami peristiwa gaib, penulis mempercayai hal-hal yang bersifat gaib. Barulah pada tanggal 1 Juli 2002 – Senin malam Selasa, penulis mengenal dan mengalami peristiwa yang berhubungan dengan gaib. Pada waktu itu penulis tinggal di rumah famili yang merupakan rumah kuno, bangunan jaman Belanda. Salah seorang kolega penulis yang merupakan murid dari salah satu perguruan tarekat ketika mengetahui tempat tinggal penulis mengatakan bahwa kemungkinan di tempat itu terdapat benda-benda tinggalan jaman dulu baik berupa harta benda maupun pusaka yang bisa diambil melalui upaya gaib. Kolega penulis tersebut mengatakan hal yang demikian karena dia bersama dengan teman seperguruannya yang sudah memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan mendatangkan gaib telah beberapa kali mendapatkan benda-benda gaib. Kemudian pada 1 Juli 2002 – Senin malam penulis diperkenalkan dengan orang yang telah memiliki kewaskitaan gaib tersebut.

Sekitar pukul 22.00 WIB kami bertiga di rumah tua yang penulis tempati itu, orang yang memiliki kewaskitaan dan bisa menghadirkan gaib itu memanggil Mbahurekso. Gaib Mbahurekso pun hadir dengan mengucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Ana wigati apa Ngger jenengsira nimbali ingsun? Ingsun Ki Ageng Honggowongso kang Mbahurekso pedukuhan kene.” (Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Ada kepentingan apa Ngger kamu memanggil saya? Saya adalah Ki Ageng Honggowongso yang mbahurekso desa ini). Penulis sebagai juru bicara menjawab “Nuwun sewu Eyang Honggowongso, kulo bade nyuwun piterangan punapa ing papan panggenan punika wonten wewujudanipun raja brana utawi pusaka-pusaka tilaran jaman kuna ingkang saged dipun ginakaken ing jaman punika” (Permisi, Eyang saya ingin memperoleh keterangan apakah di tempat ini terdapat harta benda atau pusaka peninggalan jaman dulu yang bisa dimanfaatkan pada saat ini).

Lantas Ki Ageng Honggowongso pun menjelaskan “Bener Ngger ing papan dunung kene ana wewujudane mas picis raja brana lan pusaka-pusaka. Nanging jenengsira kudu mangerteni yen barang-barang kuwi mau wis di kuasani dening lelembut. Yen jenengsira ngersakake barang-barang iku abot lelakone. Apa jenengsira sanggup?” (Betul Ngger di sini terdapat harta benda berupa emas dan juga pusaka. Tetapi kamu harus tahu bahwa benda-benda itu telah dikuasai oleh lelembut. Kalau kamu menginginkan benda-benda itu yang harus kamu jalani itu berat. Apakah kamu sanggup?). “Insya Allah sanggup Eyang” jawab penulis.

Keterangan Ki Ageng Honggowongso selanjutnya demikian ”Ing jaman Walandi naliko semono, akeh para kawula kang tanpa dosa diperjaya ana papan dunung iki saengga ninggalake anak-anak yatim. Awit saka iku mula jenengsira aweha bebungah marang anak-anak yatim” (Pada jaman Belanda dulu, banyak orang tak berdosa dibunuh disini sehingga meninggalkan anak-anak yatim. Karena itu berikanlah sedekah pada anak yatim). Kemudian kolega penulis nyeletuk “Kados pundi Eyang manawi sedekahipun mangke sak sampunipun raja brana saged kula pendet. Sebagianipun kangge sodakoh” (Bagaimana Eyang kalau memberikannya sedekah itu nanti setelah saya bisa mengambil harta benda itu? Sebagian harta itu untuk bersedekah?). Jawab Ki Ageng Honggowongso, “Apa wis jamak lumrahe yen panen disik banjur nandur?” (Apakah layak panen lebih dulu baru menanam itu?”. Kami pun tidak menyangkal argumen Mbahureksa (Ki Ageng Honggowongso) yang rasional itu. Ki Ageng Honggowongso pun memberi petunjuk lebih lanjut, ”Kejaba saka iku jenengsira nindakake puasa sajeroning pitung dina lan aja sare sak durunge tengah wengi” (Kecuali dari itu kamu harus melakukan puasa selama satu minggu dan jangan tidur sebelum tengah malam).

Empat hari kemudian penulis berpuasa selama satu minggu dan sekaligus tidak tidur sebelum tengah malam atau pukul 24.00 WIB selama berpuasa. Barangkali karena terdorong oleh keinginan untuk mendapat harta terpendam itu penulis sangat antusias menjalani petunjuk gaib Mbahurekso. Padahal menahan diri untuk tidak tidur sebelum tengah malam itu terasa berat. Menahan kantuk memang terasa lebih berat dari pada menahan lapar dan dahaga. Penulis menjalankan petunjuk tersebut walaupun terasa berat yang harus dilakukan itu adalah hal-hal yang penulis pandang Islami.

Konsultasi dengan Mbahurekso selanjutnya atau yang kedua adalah pada Kamis malam Jum’at tanggal 11 Juli 2002. Di dalam konsultasi itu penulis bersama kolega melaporkan bahwa puasa dan tirakat telah selesai. Ki Ageng Honggowongso di dalam pertemuan itu menjelaskan bahwa berkat kekuatan puasa itu benda-benda yang ada dalam perut bumi sedalam + 11 kaki naik menjadi + 2,5 kaki. Tetapi untuk mengambilnya tetap tidak bisa dengan cara digali. Karena benda-benda itu telah berada di alam gaib untuk mendapatkannya pun harus dengan laku tirakat. Pada kesempatan itu juga Mbahurekso menjelaskan bahwa raja brana (harta karun) itu dijaga oleh pusaka dari Kraton Kasepuhan Cirebon. Oleh sebab itu agar pusaka-pusaka itu muncul ke permukaan bumi tanah di sekeliling rumah itu harus disiram dengan air yang diambil dari Sumur Jalatunda yang berada di bawah makam Syeh Datuk Kahfi.

Penulis pun semakin penasaran. Sama sekali penulis belum pernah tahu siapa Syeh Datuk Kahfi dan dimana letak sumur Jalatunda itu. Nama-nama itu pun baru penulis dengar dari Mbahureksa – kecuali nama sumur Jalatunda yang ada dalam cerita pewayangan. Penulis pun minta penjelasan yang akurat pada Mbahurekso, “Lajeng papan dunungipun makam Syeh Datuk Kahfi saha sumur Jalatunda punika wonten pundi, Eyang?” (Lalu dimanakah letak makam Syeh Datuk Kahfi dan sumur Jalatunda itu?). Kata Ki Ageng Honggowongso “Makam Syeh Datuk Kahfi iku ya ana ing Cirebon sak cedake makam Sunan Gunung Jati. Sumur Jalatunda iku ya ana sangisore makam Syeh Datuk Kahfi”. (Makam Syeh Datuk Kahfi ya ada di Cirebon dekat makam Sunan Gunung Jati. Sumur Jalatunda itu ada di bawah makam Syeh Datuk Kahfi). Penulis pun segera menanyakan apakah sumur Jalatunda itu dekat makam Sunan Gunung Jati. Sekali lagi Mbahurekso mengatakan bahwa sumur Jalatunda tidak terletak di dekat makam Sunan Gunung Jati tetapi dekat makam Syeh Datuk Kahfi.

Berhubung baru mengenal nama Syeh Datuk Kahfi penulis pada saat itu juga mohon penjelasan tentang Syeh Datuk Kahfi. “Syeh Datuk Kahfi iku asale saka Gujarat. Panjenengane iku ora liya ya Gurune Sunan Gunung Jati, nah nalika Syeh Datuk Kahfi mulang wuruk Sunan Gunung Jati panjenengane nate duka lan nggejuk bantala sahingga nuwuhake wewujudaning sumur kang dening para kawula diarani Sumur Jalatunda” (Syeh Datuk Kahfi itu berasal dari Gujarat. Beliau tidak lain adalah Guru dari Sunan Gunung Jati. Ketika beliau mengajar Sunan Gunung Jati – waktu itu Sunan Gunung Jati masih kecil beliau pernah marah dan menghentakkan kakinya ke bumi sehingga terjadilah sebuah sumur yang kemudian diberi nama Sumur Jalatunda).

Ki Ageng Honggowongso masih berkenan melanjutkan keterangannya, “Kanjeng Sunan Gunung Jati iku ya wayah dalem Prabu Siliwangi. Nalika samana Prabu Siliwangi kagungan putra lan putri kang peparap Kian Santang, Walang Sungsang lan Rara Santang. Rara Santang pala krama kelawan raja saka Mesir patutan putra kang diparingi asma Syarif Hidayatullah” (Kanjeng Sunan Gunung Jati itu ya cucu dari Prabu Siliwangi. Ketika itu Prabu Siliwangi punya 2 orang putra dan 1 putri yang bernama Kian Santang, Walang Sungsang dan Rara Santang. Rara Santang menikah dengan raja dari Mesir dan memiliki putra yang diberi nama Syarif Hidayatullah).

Pada hari Senin 15 Juli 2002, penulis bersama seorang kolega yang tersebut di depan pergi ke Cirebon untuk mengambil air dari Sumur Jalatunda. Sebelumnya penulis telah bertanya kepada seorang kawan yang asli orang Cirebon. Segala hal tentang Cirebon yang diterangkan oleh Mbahurekso penulis cross check dengan keterangan kawan yang asli Cirebon itu dan ternyata sama informasinya. Ketika penulis dan kolega sampai di Cirebon, di lokasi, yang telah diterangkan ternyata memang demikian keadaannya. Bahkan ketika penulis cross check dengan teman dari Cirebon dan ternyata informasi dari Mbahurekso benar adanya, terbesitlah dalam pikiran penulis alangkah senang kalau saya mempunyai guru gaib seperti Ki Ageng Honggowongso yang bisa memberi informasi-informasi tentang alam nyata maupun alam gaib yang orang lain belum tentu mengetahuinya.

Senin malam, setelah mengambil air Sumur Jalatunda, kami bertiga wirid Surat al An’am 103 sebanyak 333 x sesuai petunjuk Mbahurekso pada konsultasi ke II. Kami menghadirkan lagi gaib Mbahurekso dan melaporkan bahwa wirid telah dilakukan dan air Sumur Jalatunda telah tersedia. Mbahurekso memerintahkan agar air itu disiramkan di sekeliling rumah dan kami diingatkan untuk berhati-hati karena banyak lelembut yang mengganggu. Kami juga disuruh untuk mengamat-amati setiap hari. Tetapi hingga hari Kamis 18 Juli 2002 belum ada pusaka atau harta benda yang muncul ke permukaan bumi.

B. Ditemukan Keong Buntu

Hari itu adalah Kamis malam Jum’at. Jarum jam telah menunjukan pukul 21.00 WIB. Karena belum ada satu benda pun yang muncul ke permukaan bumi, kami pun segera menghadirkan kembali gaibnya Mbahurekso. Petunjuk yang kami terima adalah supaya kami mengamati dengan teliti di sebelah selatan rumah. Apabila ditemukan suatu benda kami tidak boleh langsung menyentuhnya kecuali dengan bersahadat 3 x terlebih dahulu. Segera kami dalam kegelapan menuju ke sebelah selatan rumah. Dengan menggunakan lampu senter penulis bisa melihat dan menemukan sebuah benda berbentuk keong dalam keadaan kotor seperti baru terkena lumpur atau tanah sawah. Setelah membaca sahadat 3 x, benda itu penulis ambil dan segara kami bersihakan. Ternyata benda itu adalah Keong Buntu yang berwarna kuning keemasan – mungkin terbuat dari kuningan.

Kami kembali berkonsultasi kepada Ki Ageng Honggowongso. Menurut beliau benda itu adalah pusaka milik Kanjeng Sunan Kalijaga yang ditemukan pada waktu Kanjeng Sunan Kalijaga sedang berwudlu di pinggir sungai. Pusaka itu, kata Ki Ageng Honggowongso, pernah digunakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga untuk memberantas santet di daerah Gunung Kidul. Dalam konsultasi itu pula kami diberi petunjuk untuk mengambil air dari makam Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak untuk menjamasi Keong Buntu itu. Kolega penulis menawar supaya mengambil air tidak dari
Kadilangu tetapi dari makam wali yang lebih dekat yaitu di makam syeh Maulana Maghribi di Wonobodro – Blado – Batang.

Berhubung yang ditemukan itu adalah pusaka milik Kanjeng Sunan Kalijaga penulis berinisiatif untuk menghadirkan gaibnya Kanjeng Sunan Kalijaga. Kemudian pada malam itu juga, kawan dari kolega penulis yang memiliki keahlian khusus menghadirkan gaib itu memohon kepada Allah agar dihadirkan gaibnya Kanjeng Sunan Kalijaga.

Dengan suara yang mantap dan penuh wibawa terdengarlah ucapan, “Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Ingsun gaibe Sunan Kalijaga, Raden Said, ya Lokajaya. Sedulur iku sapa?” (Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Saya ini adalah gaibnya Sunan Kalijaga, Raden Said, ya Lokajaya. Saudara siapa?). Kolega penulis tidak berani bicara takut keliru dalam menggunakan bahasa Jawa halus. Dan lagi-lagi penulis yang menjelaskan maksud kami, “Nuwun sewu Kanjeng Sunan, lepat nyuwun gunging samodra pangaksami. Ing wekdal punika kawula manggihaken wewujudanipun barang ingkang miturut pangandikanipun Mbahurekso barang punika rumiyin mujudaken pusaka kagungan dalem Kanjeng Sunan. Awit saking punika mbok menawi barang punika wonten daya katiyasanipun, kawula nyuwun kaikhlasan panjenengan supadosa kawula saged ngginakaken barang punika.” (Maaf, apabil;a saya salah saya mohon maaf setulus-tulusnya. Saat ini saya mendapatkan suatu benda yang menurut penjelasan Mbahurekso barang ini dulu adalah pusaka milik Kanjeng Sunan. Karena itu barngkali barang ini memiliki kekuatan/tuah, saya mohon keikhlasan Kanjeng Sunan supaya saya bisa memanfaatkannya).

Kanjeng Sunan Kalijaga memberikan keterangan demikian “Alhamdulillah wa syukurilah wa la khaula wa la quwata illa billah. Perlu jenengsira mangerteni, Ngger, aja nganti salah tampa. Sejatine kang kagungan kekuatan iku ya mung Gusti Kang Maha Agung Maha Suci. Mula barang kang jenengsira iku bakal nduweni daya katiyasan yen jenengsira nyuwun marang Gusti Kang Maha Agung Maha Suci supaya maringi daya katiyasan marang barang iku sahingga jenengsira bisa nggunaake” (Alhamdulillah wa syukurilah wa la khaula wa la quwata illa billah. Perlu kamu ketahui, Ngger, jangan sampai salah paham. Sesungguhnya yang memiliki kekuatan hanyalah Allah. Barang yang saya berikan padamu akan memiliki kekuatan apabila kamu memohon kepada-Nya agar Allah memberikan kekuatan pada barang itu sehingga kamu dapat memanfaatkannya). Selain itu kami diingatkan untuk selalu mengingat Allah dengan selalu bertasbih.

Harapan agar emas berlian (mas picis raja brana) yang dikatakan oleh Eyang Honggowongso ada ditempat tinggal penulis cepat muncul ke permukaan bumi belum surut. Kami bertiga sangat antusias untuk segera mendapatkan harta karun itu. Untuk meyakinkan kebenaran eksistensi emas picis raja brana itu penulis pun melakukan cross check kepada seorang paranormal. Paranormal tersebut memberikan jastifikasi bahwa di tempat tinggal penulis dilihat secara spiritual memang ada emas berlian terpendam. Bahkan dia meyakinkan penulis bahwa emas yang terpendam itu berbentuk batangan dan bertuliskan huruf Cina atau huruf Jepang (dia tidak tahu persis karena memang tidak mengenal huruf Cina atau Jepang) dengan angka tahun 1925. Kesamaan informasi itu membuat penulis semakin antusias. Apalagi katanya jumlah batangan emas itu sangat banyak. Penulis perkirakan bernilai milyaran rupiah. Penulis yang ingin mewujudkan obsesinya menjadi hartawan semakin bersemangat untuk senantiasa berkonsultasi dengan gaib.

Ki Ageng Honggowongso dalam beberapa konsultasi mengingatkan adanya lelembut yang akan selalu mengganggu. Paranormal yang penulis mintai konfirmasi juga mengatakan bahwa di rumah itu memang ada banyak lelembut. Hal itu diperkuat oleh beberapa orang yang menuturkan pengalamannya bahwa di sekitar rumah itu memang mereka sering melihat sosok wanita cantik di tengah malam yang tiba-tiba menghilang. Lelembut-lelembut di tempat itu nampaknya memang ngotot tidak mau hengkang dan menguasai emas picis raja brana itu, kata sang paranormal. Yang menguasai adalah jin perempuan atau wewe. Ia bernama Rantinah. Sebetulnya ia berwajah cantik tetapi bila tertawa muncul taring-taringnya.

Hingga hari Sabtu 20 Juli 2002 belum ada satu pun bentuk emas yang muncul. Karena itu pada hari Ahad malam Senin 21 Juli 2002 kami kembali berkonsultasi kepada Mbahurekso. Jawabnya berupa nasihat-nasihat yang antara lain, “Jenengsira kudu tansah nyawiji lan aja nganti nggugu marang hawa nafsuning jenengsira kabeh. Yen jenengsira ngetut wuri marang hawa nafsu mangka jenengsira dileleda lan digeguyu dening para lelembut. Tansah eling marang Gusti Kang Maha Agung Maha Suci, sabar lan tawakal iku luwih prayoga. Kabeh kang kedaden mau amung kersaning Gusti Kang Maha Agung Maha Suci…… (Kalian harus senantiasa bersatu dan jangan mengikuti hawa nafsu. Apabila kalian terlalu bernafsu maka kalian akan dilecehkan oleh para lelembut. Selalu ingat Tuhan Yang Maha Suci, sabar dan tawakal itu lebih utama. Semua yang terjadi adalah kehendakNya). Sebelum berpisah Ki Ageng Honggowongso menyarankan agar kami berkonsultasi kepada Kanjeng Sunan Kali dalam menghadapi persoalan ini.

Segera kami melakukan konsultasi kepada Kanjeng Sunan Kalijaga. Beliau mengingatkan agar kami selalu melangkah dengan kemantapan hati, tidak ragu-ragu – yen wedi aja wani-wani yen wani aja wedi-wedi (kalau takut jangan coba-coba berani kalau berani jangan coba-coba takut). Untuk mendapatkan keanugrahan dan keberkahan, menurut Kanjeng Sunan, kita harus banyak bersyukur dan menahan hawa nafsu.

Berkaitan dengan Keong Buntu yang telah muncul ada kewajiban bagi kami untuk bersedekah. Sedekah kami lakukan di lingkungan makam Kanjeng Sunan Kali di Kadilangu – Demak.

Senin pagi tanggal 22 Juli 2002 penulis bersama kolega yang selalu berpartisipasi dalam setiap momen konsultasi berangkat ke kota Wali. Dimakam Kanjeng Sunan Kali kami bertahlil. Seorang teman penulis yang satu lagi tidak ikut berziarah tetapi melakukan wirid di tempat tinggal penulis. Wirid yang ia lakukan di siang bolong sekitar pukul 14.00 WIB itu terpaksa ia hentikan karena ia dikejutkan oleh munculnya sosok perempuan cantik yang kemudian menghilang dengan menembus pintu yang terkunci. Aktifitas wirid tidak ia lanjutkan malah ngacir pulang.

Hampir selama satu bulan kami mencoba mengambil harta karun yang eksistensinya tidak kami ketahui secara empirik. Informasi-informasi dari alam gaib terus kami buru. Konsultasi kepada Mbahurekso kembali kami lakukan pada Kamis malam, tanggal 25 Juli 2002. Menurut Ki Ageng Honggowongso setelah Keong Buntu muncul ke permukaan bumi, seharusnya pusaka-pusaka lainnya dan macam bentuk perhiasan (mas picis raja brana) yang dijaga oleh pusaka-pusaka itu juga keluar. Namun tidak demikian kenyataanya dan beliau menyarankan agar kami berkonsultasi lagi kepada Kajeng Sunan Kali.

Petunjuk yang kami peroleh dari konsultasi kali ini adalah agar kami mengambil air dari makam Kanjeng Sunan Kali. Kami juga dinasihati agar keikhlasan menjadi landasan dalam melakukan setiap aktifitas. Apabila yang kita lakukan itu selalu dilandasi perasaan ikhlas, Insya Allah, akan menghasilkan keberkahan dan anugrah yang lebih besar lagi.

Pada malam berikutnya kami mendapat petunjuk agar air yang telah diperoleh dari Kadilangu itu disiramkan di sekitar lingkungan rumah. Beberapa saat kemudian, menindaklanjuti petunjuk Mbahurekso kami mengamat-amati dan mencari sesutau yang telah muncul di dalam dan di luar rumah. Kami menemukan dua buah permata di dalam rumah dan tiga buah permata kami temukan di halaman.

Dalam sebuah kesempatan berkonsultasi Ki Ageng Honggowongso menginformasikan kepada kami, “……Ana cahya ijo sajroning bumi kang mlayu rana-rene nanging ingsun dhewe ora mangerteni babagan iki Ngger, mula jenengsira nyuwun piterangan marang panjenengane Kanjeng Sunan Kali……” (Ada cahaya hijau di dalam bumi lari kesana kemari tetapi saya sendiri tidak mengetahui hal ini, Ngger, maka kalian mintalah keterangan kepada beliau, Kanjeng Sunan Kali).

Cahaya hijau yang lari kesana kemari itu, menurut keterangan Kanjeng Sunan Kali adalah pasangan atau kembaran dari Keong Buntu yang muncul pada 18 Juli 2002 lalu Keong Buntu yang satu ini masih berupa cahaya hijau dan menanti saat yang tepat untuk maujud.

Malam Jum’at Kliwon bertepatan dengan tanggal 1 Agustus. Sebagaimana biasanya kami memohon kepada Allah untuk dihadirkan gaib Mbahurekso. Beliau hadir seraya mengucapkan salam selanjutnya memberi petunjuk, “……Ing bengi iki ana kahanan kang ngedap-edapi, Ngger. Mula jenengsira enggal wirida bebarengan. Sarampunge wirid jenengsira upadinen satepis wiringe papan dunung iki, wasana cukup samene Assalamu’alaikum Warahmatullahi wa barakatuh” (Pada malam ini terjadi keadaan yang luar biasa, Ngger, maka hendaklah kalian wirid bersama. Setelah wirid kalian cari di sekitar tempat ini. Akhirnya cukup sekian Assalamu’alaikum Warahmatullahi wa barakatuh).

Kami bertiga mencari pasangan Keong Buntu itu. Penulis lihat jarum jam telah menunjukan pukul 23.45 WIB. Saat itu penulis di halaman rumah sembari mengamat-amati benda-benda di halaman. Tiba-tiba terdengar bunyi benda keras terjatuh. Penulis kira ada orang melempar batu. Penulis menengok dan melihat sebuah benda di lantai teras depan. Ketika penulis dekati dan ambil ternyata Keong juga. Bentuk dan ukurannya hampir sama (mirip) namun warnanya kuning kehitam-hitaman. Beberapa saat setelah Keong Buntu yang kedua itu turun (maujud), turun pula hujan walaupun tidak lebat dan hanya beberapa menit. Yah maklumlah bulan Agustus tergolong musim kemarau.

Penulis belum mengetahui kegunaan dari kedua Keong Buntu yang telah diperolehnya itu. Karena itu meski malam telah larut penulis berkonsultasi kepada Kanjeng Sunan Kali, “….Ingsun ambali maneh piterangan ingsun wektu kapungkur. Perlu jenengsira mangerteni, barang kang jenengsira tampa iku dudu barang geguyonan. Mula kang ati-ati. Yen jenengsira nyuwun marang Gusti Kang Maha Agung Maha Suci Insya Allah barang iku bakal nuwuhake daya katiyasan kang gunane maneka warna miturut kersane jenengsira. Nanging aja nganti jenengsira mundi-mundi lan ndadekake sesembahan. Kang kaya mangkono iku luput. Ora liya barang iku ya mung wujude pangeling-eling jaman kapungkur. Ingsun uga paring pangerten marang jenengsira supaya krenteging atinira keturutan jenengsira kudu bisa ngendaleni hawa nafsu. Yen jenengsira ngetut wuri hawa nafsu ateges cedak marang iblis lan syetan sahingga angel tumuruning kanugrahan. Uga ana tetembungan jer basuki mawa beya….” (Saya ulangi lagi keterangan saya waktu yang lalu. Perlu kamu ketahui barang yang kau terima itu bukan barang mainan. Maka berhati-hatilah. Kalau kamu memohon pada Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci Insya Allah barang itu aka bertuah, memiliki kekuatan gaib, yang banyak kegunaannya sesuai yang kamu inginkan. Tetapi jangan sampai kau memuja-mujanya dan menjadikannya sesembahan. Yang demikian itu keliru. Tidak lain barang itu hanyalah pengingat-ingat mengenai waktu lampau. Saya juga beritahukan kepadamu supaya keinginanmu terkabul kamu harus bisa menahan nafsu. Kalau kamu mengikuti hawa nafsu berarti dekat dengan iblis dan syetan sehingga mempersulit turunnya anugrah. Juga ada ungkapan jer basuki mawa beya – keberhasilan memerlukan beaya). Demikian wejangan yang kami terima malam itu.

Satu bulan sudah kami berjuang keras mengupayakan agar emas picis raja brana itu bisa benar-benar muncul ke permukaan bumi. Namun impian atau obsesi itu belum juga terealisir. Petunjuk-petunjuk gaib dari Mbahurekso maupun Kanjeng Sunan Kali kami patuhi dan kami jalankan sebaik-baiknya.

Munculnya Sebuah Gelang

Mudah-mudahan Ki Ageng Honggowongso, Mbahurekso, desa ini tidak bosan melihat tingkah kami yang selalu meminta informasi tentang mas picis raja brana di alam gaib. Entah konsultasi yang keberapa yang kami lakukan pada hari Ahad malam Senin 4 Agustus 2002 ini. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh”, “Wa alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh” jawab kami serentak. Lantas beliau melanjutkan bicara, “Ingsun gaibe Honggowongso, Mbahurekso padhukuhan kene. Kepiye, Ngger, anggone jenengsira ngupadi sarana-sarana kang insun aturke wektu kapungkur?” begitu sapanya penuh perhatian. Kami merasa benar-benar diperhatikan oleh mbahurekso. “Alhamdullilah Eyang, sedaya dhawuh sampun kawula tindakaken “ (Alhadulillah, semua yang Eyang perintahkan telah kami laksanakan).

“Mengkene Ngger, jenengsira kudu tansah ngati-ati. Aja nggugu marang hawa nafsu. Kahanane jenengsira wektu iku kaya dene kinepung wakul binaya mangap. Akeh lelembut kang bakal ngganggu gawe. Yen kurang ing kaprayitnan bisa nuwuhake perkara kang kurang becik. Sira kabeh kudu tansah nyawiji lan nindakake samubarang kanti ikhlas” (Begini Ngger, kalian harus selalu berhati-hati. Jangan turuti hawa nafsu. Keadaan kalian bagaikan terkepung buaya yang siap menerkam. Banyak lelembut yang akan mengganggu. Kalau kurang waspada bisa berakibat kurang baik. Kalian semua herus selalu bersatu dan menjalankan setiap hal dengan ikhlas). Demikian nasihat beliau pada kami. Dalam konsultasi ini juga kami diberi petunjuk tentang wirid yang harus segera dibaca dalam kesempatan ini juga agar Tuhan menunjukkan keadaan yang sebenarnya – kekeadaan gaib – ditempat ini.

Wirid segera kami lakukan dan setelah itu teman penulis yang memiliki kewaskitaan gaib berkontemplasi. Di dalam dimensi gaib dia melihat tempat/bangunan seperti stadion yang di dalamnya banyak manusia ada yang duduk dan ada yang berdiri berkeliling. Tetapi mereka dalam keadaan tenang seperti still picture. Di antara mereka ada yang mengenakan perhiasan dan mahkota emas dengan intan berlian bercahaya. Di dalam gambaran itu mereka menunggui tumpukan harta benda (emas). Terlihat pula bermacam-macam pusaka seperti keris dan tombak.

Kami terus menanti dan mencari barangkali ada benda-benda yang kami harapkan muncul ke muka bumi. Malam semakin sunyi. Orang maupun kendaraan yang tadi lalu-lalang melewati jalan di depan rumah kini semakin langka. Konsultasi kepada ki Ageng Honggowongso kami lakukan lagi untuk melaporkan bahwa petunjuk beliau telah kami lakukan dan sekaligus meminta keterangan tambahan.

Petunjuk berikutnya pun beliau sampaikan lagi. Kali ini kami diperingatkan supaya tidak tergiur dengan benda kuning berbentuk gelang yang telah muncul di teras rumah bagian selatan. Sebelum mengambil kami diperintahkan supaya bersahadat tiga kali. Setelah diambil barang itu tidak boleh disimpan tetapi harus dibuang ke laut. Kata Mbahurekso dengan cara ini para lelembut/jin yang menguasai dan menunggu harta benda di situ akan mengikuti benda yang dibung ke laut itu. Setelah para lelembut berhamburan mengikuti benda yang dibuang ke laut diharapkan benda-benda perhiasan/emas yang sebenarnya akan bermunculan dengan sendirinya. Benda yang telah kami buang itu bukan emas yang sesungguhnya tetapi bahan lain yang digunakan untuk mengecoh kami.

Karena Mbahurekso meminta kami untuk melaporkan hal ini kepada Kanjeng Sunan Kali, rasa kantuk kami tahan untuk bisa berkonsultasi. Harapan akan munculnya emas intan berlian tak terelakkan.

“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Insun gaibe Sunan Kali. Ana wigati apa Ngger jenengsira nimbali ingsun?” (Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Saya gaibnya Sunan Kali. Ada perlu apa Ngger kalian mengundang saya?) begitu Kanjeng Sunan menyapa kami.

“Wa alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh. Kepareng matur, lepat nyuwun gunging samodra pangaksami” (Wa alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh. Ijinkan saya bicara apabila keliru mohon dimaafkan) “Ya enggal matura” (Segeralah bicara) begitu jawab beliau. Lantas penulis segera melanjutkan bicara, “Wewujudan barang kuning arupi gelang sampun jumedul. Mundi dawuhipun Eyang Honggowongso, barang ingkang arupi gelang emas kalawahu kawuka bucal wonten ing segara. Lajeng kados pundi barang-barang sanesipun punapap saged enggal-enggal jumedul?” (Barang kuning berupa gelang sudah muncul. Menuruti perintah Eyang Honggowongso, barang yang berupa gelang emas tadi saya buang di laut. Lalu bagaimana barang-barang lainnya apakah bisa cepat-cepat muncul?).

“Ingsun paring pangerten marang jenengsira, kabeh kang kedaden iku ya mung kersane Gusti Kang Maha AgungMaha Suci. Ingsun iku amung titah wenang mbudi daya nanging ora wenang nemtokake kedaden kang gumatok. Yen ingsun paring piterangan kang gumatok ateges ndingini kersa. Mula kabeh mau pasrahake marang Gusti Kang Maha Agung Maha Suci. Yen Gusti Kang Maha Agung Maha Suci ngersakake kabeh bakal jenengsira tampa. Sajatine barang-barang kang jenengsira karepake iku dudu apa-apane yen dibandingke kalawan barang-barang kang jenengsira tampa. Mas picis raja brana kang tansah jenengsira antu-antu iku durung mesti bisa gawe becike uripmu malah kapara bisa ndadekake perkara lan rusake jenengsira. Nggayuh kanugrahan linuwih iku ya kanti cara makarya kang becik direwangi rekasa ora mung ungkang-ungkang. Mangkono iku wujuding titah kang minulya” (Saya beritahukan padamu bahwa semua yang terjadi itu hanyalah Kehendak Gusti Yang Maha Agung Maha Suci. Saya ini hanyalah makhluk boleh berusaha tetapi tidak berhak menentukan kejadian yang pasti. Maka serahkan saja semua itu pada Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki semuanya akan bisa kamu terima. Sesungguhnya barang-barang yang sudah kamu kehendaki itu belum apa-apa bila dibandingkan barang yang telah kamu terima. Harta benda yang kamu nanti-nantikan itu belum tentu bisa membikin hidupmu lebih baik, bisa-bisa malah menimbulkan persoalan dan membikin rusak dirimu. Berusaha mendapat anugrah yang besar itu ya dengan bekarja keras tidak hanya duduk manis. Begitu itu adalah hamba Tuhan yang mulia). Demikian keterangan dan nasihat dari Kanjeng Sunan Kali.

Dari konsultasi itu penulis dapat memetik pelajaran bahwa kemuliaan itu harus diupayakan dengan bekerja keras serta penuh tawakal. Terimplikasi pula bahwa harta benda yang selalu kita upayakan belum tentu membuat kualitas hidup kita lebih baik. Bahkan sering terjadi harta benda membawa konsequensi tidak menyenangkan.

Meskipun keinginan dan harapan untuk mengeksploitasi harta karun dari alam gaib belum sepenuhnya punah, dengan memperhatikan wejangan tersebut antusiasme penulis menjadi memudar. Ki Ageng Honggowongso dalam konsultasi sebelumnya juga menyarankan agar untuk sementara waktu kami tenang dulu (lerem) supaya para lelembut yang menguasai barang-barang (mas picis) di tempat ini melupakan aktifitas kami sehingga barang-barang tersebut mau muncul dengan sendirinya. Bahkan Mbahurekso, Ki Ageng Honggowongso, menyarankan untuk menanti sampai datangnya 1 Muharam.

Selama satu bulan lebih penulis selalu berkonsultasi dengan gaib khususnya, Kanjeng Sunan Kali dan Ki Ageng Honggowongso. Ini merupakan suatu pengalaman baru yang sangat menarik bagi penulis. Bagaimana tidak? Di dalamnya penulis dapat selalu berwawancara dengan beliau yang memiliki kewaskitaan sehingga penulis mendapatkan petunjuk dan aneka informasi yang belum tentu bisa diperoleh dari dunia empiri.

Karena terbukti tidak semudah yang penulis duga untuk bisa mendapat warisan harta karun dari alam gaib, perhatian penulis mulai bergeser kepada realitas yang memungkinkan untuk diupayakan. Kedekatan kontak dengan Kanjeng Sunan Kali penulis anggap sebagai suatu keberhasilan yang tak ternilai. Intensitas komunikasi dengan beliau semakin bertambah. Banyak macam persoalan penulis adukan kepada beliau. Jawaban-jawaban arif sedikit demi sedikit menjadi referensi di dalam aktifitas sehari-hari.

Sebagai sebuah contoh persoalan yaitu ketika anak penulis yang baru berumur satu setengah tahun sakit rewel, selalu menangis pada malam hari, penulis adukan kepada beliau penulis diberi suatu amalan untuk mengatasinya dan alhamdulillah berkat amalan itu Allah memberikan solusi dan sejak saat itu anak tersebut tidak rewel lagi. Ini sebuah pengalaman awal penulis menggunakan kekuatan do’a untuk mengatasi masalah. Sebelumnya penulis tidak pernah memperoleh pengalaman semacam itu. Kejadian itu mandorong penulis untuk semakin intens ngangsu kawruh kepada Kanjeng Sunan Kali. Lebih-lebih dalam suatu konsultasi beliau pernah mengatakan agar penulis tidak segan-segan untuk selalu berwawancara dengan beliau.

Sesuai dengan kehendak Kanjeng Sunan Kali konsultasi penulis lakukan tiap Kamis malam. Pada tanggal 15 Agustus 2002 hari Kamis malam Jum’at penulis kembali mendapatkan wejangan, “….Yen jenengsira kepingin dadi manungsa utama saha gesang kang minulya mangka jenengsira kudu tansah nindakake syari’ating agama Islam. Perlu jenengsira gatekake kaseimbanganing antarane jiwa lan raga, donya lan akherat, ndedonga lan mbudidaya saha muamalah lan ibadah. Paring pitulungan kanti ikhlas marang sapa bae kang mbutuhake. Yen jenengsira tansah eling lan syukur Gusti Kang Maha Agung Maha Suci bakal nggatekake jenengsira. Kanti mangkono krenteging atimu bakal tinurutan. Waosa surat al Baqarah ayat kaping 152 Tansah Eling marang Gusti Kang Maha Agung Maha Suci iku ya kanggo mbebentengi jenengsira saka para lelembut kang tansah ngrubuti atimu. Iblis, jin lan syetan tansah ngiming-imingi manungsa kanti mas picis raja brana lan kasenengan kang maneka warna” (Kalau kamu ingin menjadi manusia utama dan hidup mulia maka kamu harus selalu berbuat sesuai dengan syari’at Islam. Perlu kamu perhatikan keseimbangan antara jiwa dan raga, dunia dan akhirat, berdoa dan berusaha, muamalah dan ibadah. Beri pertolongan siapa pun ynag membutuhkan. Kalau kamu selalu ingat Allah dan bersyukur, Dia selalu memperhatikan dirimu. Dengan begitu keinginan hatimu akan terkabulkan. Bacalah surat al Baqarah ayat 152. Ingat kepada Allah setiap waktu itu bisa menjadi bentengan bagimu dari para lelembut yang selalu mengerubuti hatimu. Iblis, jin, dan syetan selalu memberi iming-iming kepada manusia dengan harta benda dan aneka macam kesenangan).

Tawajuh Menjadi Siswa

Terus terang sekian banyaknya konsultasi yang penulis lakukan serta berbagai petunjuk baik dari Mbahurekso maupun Kanjeng Sunan Kalijaga belum pernah penulis landasi dengan motivasi untuk mendapatkan suatu ilmu. Sebaliknya penulis hanya memohon petunjuk-petunjuk berlandaskan keinginan untuk cepat-cepat bisa mengangkat atau mengeluarkan mas picis raja brana yang terpendam di tempat tinggal penulis. Dilihat secara nalar memang yang penulis inginkan ini benar-benar suatu hal yang tidak masuk akal. Tetapi berita dari mulut ke mulut yang penulis ketahui memang ada orang-orang yang melakukan seperti yang penulis lakukan. Bahkan ada yang menindaklanjuti informasi-informasi gaib itu dengan tindakan empiris seperti yang terjadi di Situs Batu Tulis Bogor. Pernah juga ada berita yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi mengenai orang yang mendapatkan warisan harta karun berupa batangan emas dengan menampilkan bukti berupa emas batangan bergambar Bung Karno. Walaupun demikian penulis masih belum yakin dan karena itu penulis terus mencoba dan mencoba.

Pengalaman penulis sendiri menunjukan bahwa mengupayakan hal yang demikian itu memang sangat sulit. Sampai akhirnya benar-benar tidak terbukti bahwa penulis bisa mengeksplorasi harta karun dengan upaya gaib. Entahlah, apakah ada orang yang berhasil menjadi hartawan dengan cara-cara seperti itu. Sebuah gelang yang telah muncul itu pun bukanlah emas yang sesungguhnya sehingga baik Mbahurekso maupun Kanjeng Sunan Kali menginstruksikan untuk membuangnya ke laut.

Dalam beberapa kesempatan konsultasi sebenarnya telah ada isyarat-isyarat dari Kanjeng Sunan Kali agar penulis tidak terlalu banyak berharap untuk mendapatkan harta karun itu. Hal tersebut penulis pahami diantaranya dari pernyataan beliau, “…..nggayuh kemulyan linuwih iku ya kanti makarya direwangi rekasa ora mung ungkang-ungkang…..” (mencari anugerah yang besar itu harus dengan kerja keras, tidak hanya duduk manis).

Berkonsultasi setiap Kamis malam terus penulis lakukan. Setelah mendapatkan suatu petunjuk yang bisa penulis manfaatkan untuk mengatasi persoalan seperti yang penulis katakana di depan, kini motivasi penulis untuk berkonsultasi tidak lagi tertumpu pada eksplorasi harta karun. Penulis menginginkan untuk bisa memperoleh ilmu-ilmu spiritual. Apalagi Kanjeng Sunan Kali adalah salah satu Wali Allah yang dikenal banyak memiliki keistimewaan.

Keterangan dari Kanjeng Sunan bahwa yang telah penulis peroleh itu memiliki nilai lebih dibanding mas picis raja brana mendorong penulis menjadi lebih tertarik untuk mendapatkan ilmu. Bahwa ilmu memiliki nilai lebih dibanding harta benda maupun yang lain juga penulis ketahui dari riwayat Nabi Sulaiman yang oleh Allah diberi opsi tiga hal yaitu harta, tahta atau ilmu dan Nabi Sulaiman memilih ilmu. Justru dengan ilmu itu beliau bisa menguasai ketiga-tiganya.

Kali ini konversi dalam diri penulis telah terjadi. Pada mulanya penulis rajin berkonsultasi karena motivasi mendapatkan harta benda tetapi sekarang bertambahnya ilmu dan kemampuan spiritual yang penulis idam-idamkan. Apalagi dalam suatu konsultasi Kanjeng Sunan pernah mengutarakan maksudnya, demikian “……ingsun lan para gaibe leluhur kepingin nuntun marang jenengsira supaya dadi manungsa sejati, sejatining manungsa lan gesang kang minulya kanti berkah dunya akhirat bisa paring pengayoman marang para kawula uga dadi tepa palupi tumraping sasama” (saya beserta gaib-nya para leluhur ingin menuntun dirimu supaya menjadi manusia sejati (insan kamil) dan hidup mulia penuh berkah dunia akhirat bisa memberi pengayoman kepada orang banyak dan menjadi contoh bagi sesama).

Tentu saja pernyataan Kanjeng Sunan itu menambah kemantapan dan membuat penulis berbesar hati. Penulis yakin siapa pun akan merasa bahagia mendapatkan petunjuk dan bimbingan untuk mencapai kemuliaan dunia akhirat.

Sebelum mengangkat penulis sebagai siswa, Kanjeng Sunan menjelaskan bahwa untuk mendapatkan ilmu itu harus berjuang dengan penuh kesungguhan dan kemantapan hati dengan konsekuensi pengorbanan dalam berbagai hal termasuk harta benda. Beliau mengumpamakan penulis sebagai orang yang hendak menyeberangi sungai yang arusnya sangat deras, bila tidak dilakukan dengan keteguhan hati dan penuh kewaspadaan bisa jadi terbawa arus dan hanyut tidak bisa mencapai tempat yang dituju.

Karena itu penulis diberi kesempatan untuk mempertimbangkan masak-masak sekiranya merasa berkeberatan dan tidak bisa melakukan dengan sungguh-sungguh lebih baik untuk tidak melakukannya agar tidak terjebak ke dalam hal yang sia-sia. Penulis pun menyatakan kesiapannya untuk menghadapi konsekuensi sebagai murid yang menuntut ilmu.

Pada suatu malam Jum’at awal bulan September Kanjeng Sunan memberikan wejangan tentang delapan pintu surga.

Pintu yang pertama bertuliskan kalimat “La ilaha ilallah Muhammad rasulullah” yang bakal masuk surga lewat pintu ini adalah para nabi dan rasul, orang-orang yang mati syahid dan para dermawan.

Pintu yang kedua adalah pintu surga yang akan dilewati oleh orang-orang yang mengerjakan shalat, yang shalat dan wudlunya sempurna.

Pintu yang ketiga adalah pintu masuk surga bagi para pembayar zakat (muzaki).

Pintu yang keempat disediakan bagi orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Pintu yang kelima bakal dilewati oleh orang-orang yang selalu menahan hawa nafsunya dari hal-hal yang melanggar syari’at Islam.

Pintu yang keenam adalah pintunya orang yang mengerjakan haji mabrur dan ibadah umroh.

Pintu yang ketujuh tidak lain adalah untuk para pejuang yang berjuang di jalan Allah (fi sabilillah).

Pintu yang kedelapan akan dilewati oleh mereka yang memejamkan mata dari segala hal yang diharamkan dan orang yang mengerjakan kebajikan serta berbakti kepada orang tua (birul walidain), bersilaturahmi dan berbagai kebajikan lainnya.

Penjelasan dari Kanjeng Sunan Kali tentang delapan pintu surga ini diberikan sebelum penulis melakukan tawajuh sebagai siswa. Keterangan tentang delapan pintu surga ini selaras dengan keterangan sahabat Rasulullah yaitu Ibnu Abas r.a yang ditulis dalam kitab durotun Nasikhin. Setelah mendapat pelajaran tersebut baru penulis diangkat menjadi siswa.

Pengangkatan penulis sebagai siswa Kanjeng Sunan Kali terjadi Kamis malam Jum’at 12 September 2002. Dalam ilmu tarekat proses pengangkatan atau pengakuan sebagai siswa ini disebut “Tawajuh”. Setelah secara resmi Kanjeng Sunan mengangkat penulis menjadi siswa , beliau memberikan amalan dan tugas atau kewajiban yang harus dilakukan di antaranya berpuasa.

Perjalanan menjadi siswa selama lebih kurang 3 (tiga) tahun bisa dianggap sebagai proses yang pendek sekaligus proses yang panjang dan melelahkan. Berbagai tugas dan kewajiban silih berganti penulis lakukan dengan penuh kesungguhan. Yang sangat ditekankan dalam proses penggemblengan ini adalah pembentukan pribadi yang selalu ingat Allah. Bersabar dan tawakal, ikhlas dan mampu mengendalikan hawa nafsu.

“….manungsa sejati sejatining manungsa iku manungsa kang tansah eling marang Gusti Kang Maha Agung Maha Suci, sabar lan tawakal, uga ikhlas nindakake samubarange sarta bisa ngendaleni hawa nafsu ora nggugu marang kerepe dhewe. Ikhlas iku mujudake kuncining kabeh amaling jenengsira. Tanpa kaikhlasan apa bae kang jenengsira lakokake ora bakal migunane lan nuwuhke kaberkahan. Mula kabeh kudu linambaran rasa ikhlas, ya mung kanti rasa ikhlas kekuataning amalan bakal bisa nyawiji marang jenengsira. Yen kabeh mau wis nyawiji mangka jenengsira bakal bisa migunakake. Kejaba saka iku ngendaleni hawa nafsu iku kanggo mbentengi jenengsira saka iblis lan syetan. Amarga sapa bae kang kasinungan iblis lan syetan iku angel anggone bakal nampa kenugrahan. Golek pamrih lan pangalembana saka sapada padane manungsa iku ya mujudake sarananing iblis lan syetan kanggo ngrusak amale jenengsira. Mula kang ati-ati aja pamer ing samubarange. Muga-muga kanti mangkono jenengsira bisa dadi manungsa sejati sejatining manungsa dadi pepayunge para kawula lan paring pitulungan marang sapa bae kang mbutuhake….” (… manusia sejati itu adalah manuasia yang selalu ingat Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci, sabar dan tawakal juga ikhlas dalam melakukan apa saja serta bisa mengendalikan hawa nafsu tidak selalu menuruti kemauan sendiri. Ikhlas itu merupakan kunci bagi semua amalanmu. Tanpa keikhlasan apa pun yang kamu lakukan tidak akan berguna dan menimbulkan keberkahan. Karena itu semuanya harus didasari rasa ikhlas. Ya hanya dengan rasa ikhlas kekuatan amalan akan bisa menyatu dengan dirimu. Kalau semua itu telah menyatu maka kamu akan bisa menggunakannya. Kecuali itu mengendalikan hawa nafsu itu untuk membentengi dirimu dari iblis dan syetan. Karena siapa saja yang dilekati iblis dan syetan itu sulit untuk memperoleh anugerah. Mencari pamrih dan pujian dari sesama itu ya merupakan sarana bagi iblis dan syetan untuk merusak amalmu. Maka berhati-hatilah jangan pamer dalam segala hal. Mudah-mudahan dengan begitu kamu bisa menjadi manusia sejati dan menjadi payung/pelindung bagi orang banyak dan memberi pertolongan kepada siapa saja yang membutuhkan…) Demikian di antaranya wejangan dari Kanjeng Sunan Kali kepada penulis setelah tawajuh menjadi siswa.

Penulis benar-benar merasa terharu atas segala perhatian Kanjeng Sunan Kali terhadap diri penulis sekeluarga. Bahkan ketika beberapa wejangan harus diterima oleh penulis beserta istri beliau mendoakan agar penulis segera dianugerahi oleh Allah kehidupan yang mulia penuh barokah dunia-akhirat, tercapai segala cita-cita kami yang mulia, bisa menjadi panutan dan pengayoman bagi orang banyak serta selalu bisa memberikan pertolongan kepada siapa saja yang memerlukan.Dalam kesempatan itu kami mengamini dengan penuh hikmad dan rasa haru. Hampir-hampir kami melinangkan air mata.

Namun semua itu, kata beliau, Allah yang menentukan. Manusia hanyalah berupaya dan berdoa serta menyerahkan kepada Allah segala kesudahannya.

Obsesi untuk mendapatkan kanugerahan dan kehidupan yang mulia ini jelas membawa konsekuensi yang harus di hadapi dengan lapang dada. Orang Jawa mengatakan “jer basuki mawa beya”. Artinya untuk mendapat keberhasilan ada konsekuensi pengorbanan finansial.

Dalam perjuangan ini penulis harus menjalani ngelmu sumur. Sungguh merupakan hal yang harus benar-benar dihadapi dengan lapang dada, penuh keikhlasan dan tawakal. Sumur merupakan suatu perumpamaan tentang sumber kehidupan. Sumur yang baik, jernih airnya, bisa dimanfaatkan sebagai sumber kehidupan bagi siapa saja yang memerlukannya. Tetapi sumur yang terkena polusi akan menimbulkan side effect yang negative. Airnya tidak bisa mensucikan dan menyehatkan bahkan mengakibatkan timbulnya penyakit dan gangguan kesehatan.

Untuk bisa mendapatkan air sumur yang higgienis, air yang di dalamnya harus dikuras sampai habis tidak tersisa sedikit pun. Kalau memang belum bisa mengeluarkan air yang berkualitas bagus dalam jumlah besar perlu digali lagi biarpun kering kerontang. Jadi kalau sumur kita kurang banyak debit airnya ataupun tercemar keadaannya, maka tidak ditambah dengan memasukan air dari luar. Karena cara yang demikian ini tidak memecahkan persoalan. Sama halnya dengan melakukan hal yang sia-sia.

Supaya rezeki yang kita peroleh bisa menimbulkan manfaat yang sebesar-besarnya (barokah) dan bertambah banyak maka yang dilakukan bukannya terus menerus menumpuk harta apalagi dengan cara yang tidak selaras dengan syari’at Islam. Sebaliknya kita harus senantiasa bersedekah, Allah berjanji kepada mereka yang bersedekah akan digantikan dengan jumlah yang berlipat ganda. Hal ini termasuk dalam persoalan gaib karena memerlukan landasan keimanan untuk melakukannya.

Demikian juga kalau kita menghendaki kesehatan jiwa raga disamping selalu hidup bersih makan makanan bergizi (menjaga keseimbangan gizi) serta rajin berolah raga maka bersedekah dengan niat khusus untuk menghindari bermacam-macam penyakit atau kepentingan tolak balak lainnya harus dilakukan dengan ikhlas. Sabda Rasulullah SAW :

Artinya : Sedekah itu bisa menolak balak (petaka).

Hendaklah jangan kita lupakan bahwa disamping rasa ikhlas harus melandasi seluruh amal perbuatan kita, niat yang mengarahkan amalan itu pun harus tersirat secara khusus di dalam hati kita untuk apa yang kita lakukan itu. Sesuai dengan Sabda Rasulullah : (Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niatnya). Jadi niat itu ibarat nahkoda pada sebuah kapal. Kemana kapal melaju bergantung pada nahkoda yang mengarahkannya.

Secara lahiriah nampak bahwa menguras sumur itu suatu aktifitas membuang air, seolah-olah sia-sia dan merugikan tetapi hakikatnya justru akan memperoleh air yang lebih bening dan lebih banyak. Orang yang hendak menguras sumur tentu harus yakin bahwa setelah dibuang seluruh isi yang ada maka akan keluar mata air yang lebih banyak dan tidak tercemar lagi. Itulah hakekat dari ilmu sumur.

Pengobatan dengan do’a

Sekalipun penulis adalah juga staf pengajar tidak tetap di salah satu Akademi Keperawatan swasta, pengalaman penulis tentang pengobatan baik secara medis maupun alternatif benar-benar nihil. Karena jalur yang penulis tempuh adalah pendidikan bahasa Inggris.

Setelah penulis bertemu dan dibimbing oleh Sang Guru Gaib, Alhamdulillah penulis mendapatkan sutau anugrah atau amanat berupa kemampuan pengobatan. Dalam rangka memberikan bekal yang bisa digunakan untuk menolong sesama. Sang Guru Gaib atau Guru batin kepada penulis memberikan amalan-amalan dan sarana-sarana yang bisa dimanfaatkan untuk membantu banyak orang dalam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi penulis.

Awal mula penulis memahami adanya kemampuan pengobatan dengan do’a adalah ketika istri penulis mengeluhkan sakit gigi yang dialaminya sering kumat. Timbullah keinginan penulis untuk menggunakan amalan dan sarana yang diberikan oleh para Guru gaib baik itu dari Kanjeng Sunan Ampel maupun Kanjeng Sunan Kali. Memang yang secara langsung mengangkat penulis sebagai siswa adalah Kanjeng Sunan Kali. Tetapi Kanjeng Sunan Ampel dan para anggota Walisongo yang lainnya pada hakekatnya adalah Guru gaib penulis juga. Sebab berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan penulis selalu ditetapkan melalui musyawarah diantara para Wali Allah tersebut. Kanjeng Sunan Ampel juga ikut serta memberikan amalan-amalan.

Atas dasar pengalaman itu, kemudian istri penulis memberikan saran kepada tetangga dan orang lain yang ia kenal untuk minta didoakan oleh penulis untuk mendapat kesembuhan dari penyakit atau gangguan kesehatan yang dialaminya itu. Alhamdulillah sebagian besar mereka mendapatkan kesembuhan.

Kolega penulis di kantor pun akhirnya mengetahui hal ini dan mereka ikut serta memanfaatkannya. Berbagai jenis penyakit termasuk penyakit-penyakit yang menurut medis dinyatakan tidak bisa disembuhkan melainkan dikendalikan saja seperti asma dan hipertensi dan aneka macam penyakit kronis ternyata bisa disembuhkan dengan pendekatan Ilahiyah (doa).

Sebenarnya manusia tidak boleh menentukan bahwa suatu penyakit tidak bisa disembuhkan. Karena yang bisa menyembuhkan bukanlah manusia lantaran teknologi dan obat-obatannya. Kesembuhan hanya ditentukan oleh Allah dengan syari’at/cara beraneka macam.

Firman Allah dalam Al-qur’an S. Asy Syuara ayat 80

Artinya : Dan apabila aku sakit maka Dialah yang menyembuhkan

Apabila secara empiris suatu penyakit sukar disembuhkan itu berarti ilmu pengetahuan belum menemukan obatnya. Dalam kenyataan ini pendekatan Ilahiyah (doa) lebih tepat. Pendekatan medis dan pendekatan Ilahiyah keduanya saling melengkapi.

Berusaha untuk mendapatkan kesembuhan adalah hak manusia. Cara dan lantaran apa saja bisa kita lakukan sepanjang tidak melanggar syari’at dan menimbulkan syirik. Sekalipun kita menempuh pendekatan empiris seperti datang ke dokter atau tabib terkenal serta mengkonsumsi obat-obat yang mahal bisa menjadi keliru apabila keyakinan kita atas kesembuhan itu tertuju pada dokter atau tabib dan obat. Keyakinan semacam itu juga masuk ke wilayah syirik. Karena kesembuhan itu tidak berada di tangan dokter atau pada obat tetapi sepenuhnya pada Allah, Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci. Sekali lagi dokter, tabib, obat dan ramuan adalah lantaran.

Mencari kesembuhan dengan lantaran seseorang yang mendoakan juga bisa keliru apabila orang itu tidak memohon kepada Allah tetapi minta kesembuhan kepada selain Allah. Kiranya kita perlu berhati-hati ketika mencari kesembuhan dengan cara non medis. Kita harus tahu apakah permohonan orang yang kita mintai pertolongan itu benar-benar ditujukan kepada Allah. Apabila diperlukan syarat adanya sesajian tertentu maka ada indikasi permohonan itu tertuju kepada selain Allah. Karena Allah Yang Maha Agung Maha Suci tidak memerlukan berbagai macam bentuk sesajian atau persembahan.

Sebagian orang yang berpikiran ekstrim bahkan menganggap mencari kesembuhan dengan minta didoakan oleh seseorang pun termasuk syirik. Argumen mereka adalah bahwa berdoa kepada Allah itu harus dilakukan tanpa perantara/langsung. Pendapat semacam itu tidak keliru, tetapi juga tidak mutlak kebenarannya. Walaupun siapa saja boleh dan bisa melakukan doa itu sendiri kenyataan menunjukkan bahwa ketika kita sakit dan berdo’a untuk mendapat kesembuhan belum tentu kita segera mendapatkannya. Karena itu meminta tolong kepada seseorang untuk didoakan agar tercapai apa yang diharapkan juga bukan suatu yang keliru. Sebagai contoh yang mudah dipahami adalah seorang anak yang sudah setinggi apapun ilmunya meminta didoakan oleh orang tuanya adalah tidak keliru. Setiap orang tentu memiliki kelebihan dan sekaligus kekurangannya masing-masing. Oleh sebab itu tidak ada salahnya kita meminta pertolongan orang lain. Lebih-lebih meminta tolong untuk didoakan.

Dalam keadaan bagaimana pun berdo’a kepada Allah adalah suatu keharusan bagi orang yang beriman. Bahkan seorang hamba yang tidak mau berdo’a kepada-Nya berarti telah melakukan kesombongan. Apalagi ketika kita mengalami suatu problema yang rumit misalnya menderita penyakit yang secara medis sukar disembuhkan maka memohon kesembuhan melalui do’a adalah jalan terbaik. Tidak berarti bahwa ketika penyakit kita dipandang ringan kita boleh meninggalkan do’a. Karena seringan apa pun penyakit pada hakekatnya hanya Allah yang menyembuhkannya.

Ada sebagian orang yang ketika sakit diobati dengan lantaran hal-hal yang serba mahal tetapi belum juga diberi kesembuhan. Semua itu adalah rahasia dan hak Allah.

Kalau do’a yang kita panjatkan dikabulkan Allah, tentu tak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan tak ada persoalan yang tidak dapat dipecahkan.

Seperti telah penulis singgung di depan bahwa atas dasar petunjuk dan amalan dari Guru Gaib, Kanjeng Sunan Kali, penulis telah menjadi lantaran kesembuhan bagi sejumlah orang, termasuk para tetangga dan kolega penulis. Melalui berita dari mulut ke mulut sejumlah orang di luar lingkungan penulis pun mengetahui hal yang penulis lakukan ini memberikan pertolongan penyembuhan dengan pendekatan Ilahiyah untuk segala jenis penyakit.

Karena do’a itu bersifat multifungsi dan multidimensi, maka pertolongan yang penulis lakukan pun tidak terbatas pada persoalan penyakit. Beberapa orang dengan berbagai problema seperti anak rewel, istri bawel, suami bandel, keretakan rumah tangga, dan persoalan sosial lainnya pun penulis do’akan untuk mendapatkan penyelesaian.

Pengobatan dengan pendekatan Ilahiyah yang penulis lakukan cukup praktis dan sederhana. Pasien pun tidak harus datang ke tempat praktek pengobatan. Dengan mengutus anggota keluarga atau siapa saja yang dipercaya juga bisa. Dalam mengobati pasien penulis tidak meminta untuk disediakan alat dan syarat. Media yang penulis gunakan cukup air bening. Pijat dan urut, apalagi tusuk jarum tidak penulis lakukan. Ramuan-ramuan khusus pun tidak pernah penulis berikan.

Air bening yang penulis gunakan sebagai media pun boleh berasal dari pasien atau dari penulis. Dengan beningnya air itulah penulis berdo’a kepada Allah agar ke dalam air bening itu Allah memasukan potensi atau zat-zat yang berguna untuk memberantas penyakit yang diderita oleh pasien. Berkat do’a dan ayat-ayat suci Al Qur’an Allah melimpahkan karunia-Nya berupa suatu potensi yang tidak kasat mata ke dalam air bening itu sehingga dapat digunakan sebagai lantaran kesembuhan penyakit.

Karena yang memberikan potensi atau zat pengobatan adalah Allah Yang Maha Tahu maka pasti tidak akan terjadi yang disebut over dosis atau pun side effect yang kontra produktif. Yang diberikan Allah adalah zat-zat yang tepat dan efektif untuk menyembuhkan penyakit dan/atau mengatasi problem lain. Dengan demikian penyakit apa pun termasuk penyakit yang belum ditemukan obatnya dan tidak bisa diatasi dengan pendekatan medis apabila Allah menghendaki tentu terjadi kesembuhan pada pasien.

Dapat kita ambil pengertian dari uraian di atas bahwa tidak ada kemanjuran atau kemustajaban kecuali karena Allah Yang Maha Agung Maha Suci. Baik obat maupun zat apa saja bukanlah suatu hakikat melainkan hanya suatu syari’at atau lantaran yang kita gunakan untuk mendapatkan ridha Allah. Dan oleh sebab itu maka sikap meyakini kehebatan apa saja dan siapa saja tanpa merujuk kepada Allah sebagai causa prima adalah sikap yang keliru.

Dalam pendekatan Ilahiyah ini yang perlu diperhatikan adalah tata cara agar do’a yang kita panjatkan itu dikabulkan Allah. Pada dasarnya Allah mengabulkan do’a yang dipanjatkan kepada-Nya. Firman Allah dalam Surat Al Qur’an Surat Al Mu’min ayat-60

Artinya : Berdo’alah kepada Ku maka akan Aku Kabulkan.

Namun sering kita tidak mengerti kapan do’a kita akan terkabulkan. Dikabulkan atau tidaknya atas do’a kita meskipun itu hak prerogatif Allah tetapi bergantung juga kepada manusia yang melakukan do’a itu. Ada beberapa syarat supaya do’a kita dikabulkan oleh-Nya antara lain :

- makanan yang kita konsumsi adalah makanan halal yang diperoleh dengan cara yang halal pula.

- diawali do’a kita dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Rasulullah SAW.

- dilakukan dengan rendah hati dan berbaik sangka kepada Allah.

- hati kita tidak diliputi sifat syaithoniyah seperti marah, dengki, benci, iri hati, riya’, ta’ajub dan takabur.

Apabila syarat tersebut di atas dapat kita penuhi, Insya Allah do’a kita akan dikabulkan.

Untuk memudahkan dikabulkannya do’a kita kecuali beberapa syarat yang penulis sebutkan diatas ada hal lain yang harus kita ketahui yaitu menyatunya do’a maupun amalan itu dengan diri kita. Guru Gaib (Kanjeng Sunan Kali) mengatakan demikian, “…Yen ayat-ayat suci Al Qur’an iku wis nyawiji marang batinira, mangka bakal bisa jenengsira gunakake kekuatane kabeh kanggo kaperluan apa bae miturut krenteging atimu…” (Kalau ayat-ayat suci Al Qur’an itu telah menyatu dengan hatimu, maka akan bisa kamu gunakan kekuatannya untuk keperluan apa saja menurut kemauan hatimu…).

Mengenai menyatunya do’a atau amalan (ayat-ayat suci Al Qur’an ) dengan diri kita dapat penulis berikan ilustrasi sebagai berikut :

Penulis/kita ingin mengemudikan mobil tetapi hanya mengerti teori – tentang tata cara mengemudi tentu kita tidak akan bisa mengemudikan mobil dengan baik karena belum punya ketrampilan mengemudi. Sekalipun kita bisa mengemudikan mobil tetapi belum terampil justru akan menimbulkan bahaya. Belum trampil itu berarti kemampuan menyetir atau mengemudi belum menyatu dengan diri kita. Nah supaya kemampuan mengemudi itu benar-benar menyatu ya kita harus melakukannya terus menerus atau berulang-ulang. Seorang sopir yang telah terus menerus atau berulang-ulang dalam waktu lama menyetir tentu tidak akan mengalami kesulitan mengemudikan jenis mobil apa saja baik kecil maupun besar. Bisa terjadi hal seperti itu karena di dalam mengemudi dia tidak lagi dikendalikan oleh pikiran saja tetapi perasaannya juga. Di dalam ilmu jiwa keadaan yang seperti itu disebut dengan “terkondisi”. Ketrampilan-ketrampilan melakukan aktifitas kerja yang lainnya pun memerlukan proses “mengkondisikan” agar ketrampilan itu menyatu dengan diri kita.

Amalan (ayat-ayat suci Al Qur’an) dan do’a akan bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan memunculkan hasil yang sesuai keinginan kita apabila semuanya telah menyatu “nyawiji” dengan diri kita. Sama seperti ketrampilan amalan atau do’a harus di ulang-ulang dengan cara wirid secara istiqomah dan mudawamah. Kalau amalan itu telah menyatu pada saat kita memerlukannya bisa digunakan secara spontan. Dan bahkan ketika kita tidak bermaksud menggunakannya pun apabila situasi memerlukan kekuatan amalan akan muncul dengan sendirinya dan itulah yang dalam ilmu tarekat lazim disebut dengan “karomah”.

Seperti penulis katakana tadi bahwa agar do’a kita dikabulkan oleh Allah salah satunya kita harus terhindar atau terbebaskan dari sifat-sifat syaethoniyah. Maka dari itu disamping do’a atau amalan itu harus diulang-ulang dengan wirid secara istiqomah dan mudawamah membersihkan hati kita dari sifat-sifat syetan harus dilakukan juga.

Melakukan puasa dan sholat malam serta senantiasa dzikir dan bertasbih merupakan cara-cara yang efektif untuk membersihkan hati. Kebersihan hati tentunya tidak diperoleh dalam waktu singkat atau “instant” tetapi memerlukan proses panjang.

Wirid dan Amalan

Di dalam berbagai budaya di dunia terdapat banyak ragam frasa maupun kalimat yang diyakini memiliki kekuatan magis atau kekuatan supranatural. Dalam budaya jawa frasa atau kalimat semacam itu disebut mantra. Apabila suatu mantra dibaca atau diucapkan oleh orang yang telah mendapatkannya maka akan muncul kekuatan gaib atau supranatural sesuai dengan sifat mantra dan tujuan orang yang menggunakannya. Kekuatan gaib yang yang muncul dari mantra itu bisa positif maupun negatif ataupun negatif. Kekuatan yang positif adalah kekuatan yang muncul untuk digunakan dalam kemaslahatan misalnya penyembuhan. Tetapi tidak jarang kekuatan gaib itu disalahgunakan untuk kejahatan dan mencelakakan orang.

Kekuatan supranatural dari sejenus mantra pada umumnya berasal dari kekuatan makhluk gaib seperti jin maupun siluman. Kekuatan-kekuatan gaib yang berasal dari jin ataupun siluman biasanya menyebut pemilik atau penggunanya untuk berlaku riya’, sombong, ujub, demonstrative dan bahkan cenderung untuk menggunakannya di jalan yang tidak diridlai Allah.

Perlu kita ketahui bahwa sekalipun suatu kekuatan gaib atau supranatural itu digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan apabila diperolehnya kekuatan gaib itu dari sejenis jin dan siluman atau gaib yang menyimpang (semacam sihir) maka itu dilarang oleh ajaran Islam. Kekuatan supranatural yang diperbolehkan oleh syari’at Islam untuk kita miliki dan gunakan adalah kekuatan supranatural yan bisa muncul henya atas ijin Allah dengan membaca ayat-ayat suci al Qur’an ataupun doa-doa dari para nabi dan rasul serta doa para aulia. Kekuatan supranatural yang demikian ini tidak bersifat demonstrative dan bahkan tidak kita ketahui kemunculan dan keberadaannya hanya saja dampaknya dapat dirasakan.

Untuk mendapatkan dan memiliki kekuatan supranatural ada yang melakukan dengan cara membeli kepada suhu. Adapula yang melakukan tirakat atau riyadhah misalnya puasa. Puasa pun beragam cara dan bentuknya. Sekalipun dengan cara membeli, riyadhah tetap selalu menyertainya.

Di alam modern dimana manusia semakin benyak memanfaatkan dan tergantung pada teknologi hal-hal supranatural masih tetap mendapatkan tempat di masyarakat. Hal ini dibutikan paling tidak dengan adanya tayangan-tayangan pada hampir semua stasiun televisi di negeri ini yang bernuansa mistis dan supranatural. Tabloid, majalah maupun Koran pun ada yang mengambil spesialisasi bidang tersebut.

Sebagian warga masyarakat pun tertarik untuk mendapatkan macam kekuatan supranatural itu. Mereka membeli majalah, tabloid maupun buku-buku yang didalamnya ada petunjuk-petunjuk untuk memperoleh kekuatan supranatural. Pada umumnya mereka diwajibkan mengirimkann sejumlah uang sebagai mahar dan kemudian disuruh melakukan amalan-amalan tertentu dengan cara wirid.

Tidak sedikit orang yang kemudian menjadi stress dan rusak jiwanya sebagai akibat dari melakukan wirid amalan yang diperoleh dari buku, tabloid maupun majalah. Karena itulah warga masyarakat perlu berhati-hati dalam ensikapi hal ini. Apabila salah langkah kita, bukannya untung tetapi malah buntung. Tidak kita peroleh manfaat tetapi mendapatkan mudlarat.

Para sufi mengajarkan bahwa mencari ilmu tanpa guru maka gurunya adalah syetan. Ilmu yang dimaksud bukanlah knowledge atau science. Science dan ilmu pengetahuan bisa diperoleh secara autodidak tanpa seorang guru dan tidak akan menimbulkan dampak pada kerusakan jiwa. Tetapi ilmu dalam pengertian kemampuan spiritual sering berdampak bahaya bagi jiwa atau pikiran seseorang. Dengan demikian langkah yang awal yang harus ditempuh oleh seseorang yang ingin memperoleh kemampuan spiritual dan supranatural adalah menemukan seorang mursid yang telah masyhur dan terbukti kesalehan dan ketaqwaannya pada Allah S.W.T.

Setelah bertemu dengan mursid yang shaleh, biasanya mursid tersebut akan mempertimbangkan dan kemudian memutuskan layak atau tidaknya kita menjadi siswa. Apabila kita dipandang layak maka mursid akan “membaiat” kita menjadi siswa. Barangkali “baiat” atau “tawajuh” ini bisa diibaratkan sebagai sebuah wadah bagi potensi ataun kekuatan supranatural yang akan menyatu dengan diri kita. Sebelum dilakukan baiat tetntu ada proses pembersihan terhadap pikiran da hati kita. Proses ini bisa berlangsung lama atau cepat tergantung pada keadaan pikiran dan hati kita. Pembersihan hati dan pikiran ini biasanya berupa wejangan-wejangan yang harus dilakukan dalam tindakan sehari-hari.

Ketika baiat telah dijalani seiring dengan berlangsungnya proses pembersihan pikiran dan hati dari sifat-sifat syaitoniyah seperti ujub, hadzib, dengki, iri hati dan riya’ mursid memberikan amalan berupa ayat-ayat suci dari al Qur’an, do’a para nabi dan rasul maupun do’a para aulia.

Seperti telah penulis paparkan di depan agar kekuatan ayat-ayat suci maupun doa bisa menyatu (nyawiji) dengan diri kita maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain :

- Suatu amalan harus ditebus dengan shodaqoh (mahar)

- Dilandasi dengan puasa

- Mohon kepada Allah agar dimasukkan pada diri kita kekuatan suatu ayat atau doa (amalan)

- Dibaca dengan cara wirid

Wirid artinya membaca suatu amalan secara teratur dan kontinyu (daim). Wirid harus dilakukan dengan ikhlas, hanya berharap ridha Allah. Melakukan wirid ini dapat diibaratkan sebagai suatu proses conditioning atau pembiasaan agar suatu kecakapan menjadi satu (nyawiji) dengan diri kita. Apabila suatu kecakapan itu telah menyatu dengan diri kita maka pada saat kecakapan itu diperlukan baik sengaja atau terpaksa kecakapan tersebut akan muncul secara spontan. Sebagai contoh orang yang memiliki kecakapan berenang ketika tercebur ke dalam air, disengaja atau tidak kecakapan berenag itu akan muncul secara spontan. Demikian pula kekuatan suatu doa atau amalan apabila senantiasa kita baca dengan wirid maka akan muncul dengan sendirinya baik disengaja atau tidak pada saat situasi memerlukannya. Wirid suatu amalan lazimya dilakukan setelah shalat dimana kita dalam keadaan berwudlu’ (suci dari hadats dan najis).

Kekuatan suatu amalan yang muncul bisa dilihat oleh seorang yang memiliki penglihatan dengan mata batin biasanya dalam wujud suatu cahaya dengan berbagai warna tergantung pada sifat kekuatan supranatural atau kekuatan gaib itu sendiri. Kekuatan-kekuatan yang bersifat positif dan bertujuan kemaslahatan muncul dalam bentuk cahaya hijau sedangkan kekuatan yang bersifat negatif dalam bentuk cahaya merah. Bisa juga kekuatan supranatural yang disalurkan ke dalam air menjadikan air tersebut nampak seperi mendidih dan mengandung aneka warna. Dan kekuatan yang disalurkan ke dalam benda padat menjadikan benda tersebut seperti memiliki daya magnit atau arus listrik. Tentu hal ini hanya bisa dilihat atau dirasakan oleh orang yang memiliki penglihatan batin.

Orang-orang yang memiliki kekuatan supranatural pada umumnya terdapat aura pada tubuhnya. Warna cahaya aura itu menunjukkan sifat kekuatan supranatural yang dimiliki. Terang dan tidaknya cahaya aura menunjukkan besar dan kecilnya kekuatan supranatural itu semakin terang dan merata pada seluruh tubuh semakin besar pula kekuatan supranaturalnya.

Bagi yang telah dibaiat leh seorang mursid yang shaleh dan bertanggung jawab bisa diibaratkan telah mendapat wadak (tempat) untuk kekuatan supranatural yang diperolehnya. Dalam hal ini kekuatan supranatural itu tidak menyebabkan kegoncangan jiwa dan bahkan bisa dimanfaatkan untuk kepentingan yang maslahat.

Tetapi seperti penulis katakana tadi bahwa tidak sedikit orang yang menjadi goncang jiwanya karena efek negatif suatu amalan. Hal yang demikian ini bisa terjadi karena amalan itu diperoleh secara sembarangan dan tidak adanya bimbingan dari mursid shaleh dalam menjalankan wirid amalan itu. Mungkin bisa diumpamakan dengan luapan air karena tidak tertampung oleh wadahnya sehingga merambah kemana-mana.

Tanda-tanda adanya efek negatif dari kekuatan supranatural antara lain adanya ketidakseimbangan antara pikir atau akal dan hati. Orang yang tindakannya tidak bisa dikendalikan oleh akal dan pikirannya seperti hatinya terus menerus membeca kalimah-kalimah do’a atau bertasbih atau apa saja yang justru sulit dikendalikan atau tanpa kemauan akal dan pikir orang etrsebut bisa diindikasikan mengalami gangguan gaib. Gangguan gaib banyak ragamnya. Ada yang dalam bentuk selalu mengerti yang akan terjadi tanpa adanya suatu kepentingan untuk itu. Ada pula yang berupa penglihatan makhluk-makhluk gaib serta ada juga dalam bentuk selalu melihat manusia dalam bentuk hewan. Hal-hal semacam ini justru menimbulkan kegoncangan pada jiwa seseorang.

Gangguan-gangguan gaib itu masuk ke dalam diri seseorang tidak hanya karena melakukan suatu amalan secara sembarangan (tanpa mursid) atau secara tidak proposional tetapi bisa juga akibat dari kekosongan pikiran seseorang oleh sebab melamun, depresi dan kesedihan yang berlebihan. Untuk menghindari hal-hal semacam itu kita harus selalu ingat Allah (dzikir), tidak menjalankan alaman secara sembarangan (tanpa mursid) dan tidak banyak berkhayal.

Dengan banyak berdzikir dalam kesempatan apapun berarti kita semakin dekat kepada Allah. Apabila kita dekat kepada Allah, insya Allah doa-doa yang kita panjatkan akan selalu dikabulkan oleh-Nya. Inilah sebenarnya tujuan dari wirid dan amalan kita. Makbulnya doa merupakan sesuatu yang tak ada bandingnya bagi kesejahteraan dan keselamatan kita dunia dan akhirat.

Beberapa Peristiwa Aneh

Pada bagian awal telah penulis ceritakan mengenai ditemukannya Keong Buntu. Sebenarnya disamping dua buah Keong Buntu penulis juga mendapatkan beberapa jenis benda yang tidak perlu penulis uraikan. Penulis sengaja tidak menceritakan karena memang ada pesan untuk itu. Benda-benda tersebut semula berada di alam gaib dalam bentuk cahaya. Karena beberapa alasan Guru gaib, Kanjeng Sunan Kali, meminta agar penulis mengirimkan benda-benda tersebut ke Kadilangu (makam Kanjeng Sunan Kali) di Demak. Penulis pun memenuhi permintaan beliau. Melalui seorang utusan benda-benda dimaksud penulis kembalikan. Orang yang penulis utus melaporkan bahwa bungkusan yang tidak ia ketahui isinya itu telah ia letakkan di sekitar bangunan makam Kanjeng Sunan Kali. Ketika penulis melakukan konsultasi, Kanjeng Sunan Kali memberitahukan bahwa tugas sudah dilakukan dengan benar dan benda-benda yang pernah penulis miliki telah berada di makam beliau.

Pada kesempatan konsultasi berikutnya Kanjeng Sunan Kali menginformasikan kepada penulis bahwa dua buah Keong Kembar itu pulang ke tempat tinggal penulis. Setelah enam bulan terhitung dari waktu penulis mengembalikan kedua Keong Kembar itu pun sampai di tempat tinggal penulis. Pagi hari ketika penulis mengangkat meja yang bagian bawahnya tertutup, penulis mendapati dua buah Keong Kembar berada di tempat itu.

Peristiwa lainnya terjadi ketika orang yang selalu penulis utus untuk melakukan berbagai tugas menerima SMS dari seseorang di Jakarta. Isi SMS itu adalah pesanan untuk dicarikan permata yang memiliki kegunaan untuk kekebalan (biasanya disebut batu anti cukur). Kebetulan teman penulis mendapatkan informasi bahwa di sebuah makam ada batu permata yang bernama “Badar Besi”. Kami bertiga melakukan check dan memang benar adanya. Setelah kami berkonsultasi dengan gaib dari orang yang dimakamkan di situ – pada waktu hidup dia adalah pemilik permata “Badar Besi’ itu – ia meminta agar kami melakukan syarat-syarat (laku) seperti ketika dia memperoleh batu permata itu pada jaman dulu. Kami tertarik untuk mendapatkan batu permata tersebut karena pesan dalam SMS itu menyebutkan harga yang sangat tinggi apabila memang kami memiliki.

Baru saja penulis melakukan check awal tentang eksistensi batu Badar Besi itu, keesokan harinya terjadi peristiwa aneh di tempat tinggal penulis. Di seluruh ruangan dalam rumah tercium bau kotoran manusia dan sisi kanan rumah tercium bau kencing sangat menusuk hidung. Penulis beserta anak-anak dan istri mencari-cari sumber bau itu. Kami tidak menemukannya karena kamar kecil dalam keadaan sangat bersih dan pintunya pun tertutup. Anak-anak pun tidak pernah pipis sembarangan.

Kanjeng Sunan memberikan keterangan tentang kejadian itu dan beliau memberi petunjuk cara menetralisirnya. Hari berikutnya penulis mengutus seseorang untuk memperoleh sarana yang ditunjukkan oleh Kanjeng Sunan Kali. Dan ketika utusan itu berangkat tiba-tiba tercium bau harum sari melati. Padahal kami tidak memakai sari melati. Kemudian kami mendapat air harum seperti melati.

Penulis merasa bersalah karena telah melupakan atau mengabaikan pesan Sang Guru Gaib bahwa selama menjalani amalan yang beliau berikan penulis tidak diperkenankan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan gaib kecuali atas petunjuk beliau. Alhamdulillah gangguan itu bisa teratasi.

Peristiwa aneh yang ketiga sebagai berikut kejadiannya. Petang itu sekitar pukul 19.00 WIB penulis bersilaturahmi ke rumah teman yang jauhnya kira-kira 12 km dari tempat tinggal penulis. Ketika penulis berangkat ketiga putra penulis bersama ibu mereka berada di rumah. Tidak seperti biasanya, kali ini penulis tidak bercerita banyak di rumah teman tersebut. Penulis segera mohon pamit dan langsung pulang. Sampai di rumah, penulis mendapati rumah dalam keadaan sepi. Rupanya anak-anak bersama ibunya sedang keluar. Penulis tidak membuka pintu depan karena pintu itu seperti biasanya apabila rumah ditinggal pergi digerendel dari dalam. Penulis menduga pintu samping tidak dikunci walaupun ada kuncinya. Dugaan penulis benar dan penulis masuk lewat pintu itu. Anak-anak dan ibunya datang. Mereka terkejut mendapati penulis (ayah) sudah ada di dalam rumah. Anak-anak tanya, ”Ayah lewat mana tadi?”

“Ayah lewat perempatan tapi tidak tahu kalian berada di sana” jawab penulis.

“Maksud saya lewat pintu mana?”anak penulis mengulang pertanyaannya. Ternyata penulis salah paham karena yang dimaksud bukan lewat jalan mana. Penulis menjelaskan bahwa karena pintu depan digerendel dari dalam tentu lewat pintu samping. Ibu dan anak-anak pun tidak percaya dan mengira penulis lewat jendela. Mereka berpikiran begitu karena sebelum pergi pintu samping juga telah dikunci. Penulis mempertanyakan “jangan-jangan kalian lupa, tadi pintu belum dikunci ditinggal begitu saja”. Ibu dan anak-anak penulis meyakinkan penulis bahwa pintu benar-benar telah dikunci dan telah dicek bersama-sama sebelum pergi. Kejadian seperti itu terjadi sudah tiga kali dengan jalan cerita yang berbeda.

Penulis pun tidak tahu mengapa terjadi peristiwa seperti itu padahal kunci pintu tidak rusak dan penulis tidak pernah menjalankan amalan atau ilmu buka pintu terkunci.

Meskipun telah terulang sampai tiga kali, peristiwa tersebut benar-benar terjadi di luar dugaan atau rencana penulis. Faktanya penulis memang tidak biasa melakukan hal seperti itu. Barangkali karena Allah menghendaki supaya penulis cepat-cepat masuk ke rumah tanpa harus menanti kedatangan pembawa kunci. Kalau Allah menghendaki tidak ada hal yang mustahil.

Ada lagi peristiwa aneh yang terjadi pada istri penulis. Waktu itu sekitar pukul delapan pagi. Penulis telah berangkat ke kantor. Menurut penuturan istri penulis, tidak diketahui entah dari mana datangnya tiba-tiba di halaman rumah ada seseorang yang berpenampilan sederhana, dengan baju dan celana yang bersih tetapi tidak diseterika. Gerak-gerik dan bahasanya nampak sangat sopan. Dia menanyakan apakah penulis ada di rumah. Orang itu pun menyebut nama penulis. Istri penulis mengira ia adalah orang yang telah mengenal penulis dan mau minta tolong doa atau pengobatan. Kemudian istri penulis memberikan saran agar datang lagi nanti sore kalau mau bertemu penulis.

Lelaki itu memohon kepada istri penulis agar ia diperkenankan untuk menyampaikan maksudnya. Istri penulis mempersilakan tamu itu untuk duduk. Sambil menarik kursi untuk duduk ia mengatakan dengan menyebut nama istri penulis yakin bahwa istri penulis pasti telah lupa dan tidak lagi mengenali bahwa dia adalah teman sekelas istri penulis di SMP. Istri penulis mulai curiga karena menurut ingatannya dia tidak pernah punya teman orang tersebut. Apalagi nama yang disebutkan tidak ada dalam memori istri penulis dan ia yakin tidak ada teman sekelasnya dengan nama seperti yang disebutkan itu. Kakak atau adik kelas pun tidak ada yang bernama seperti itu.

Istri penulis penasaran dan melakukan check dengan mengajukan beberapa pertanyaan tentang hal-hal yang bersangkutan dengan sekolahnya di SMP. Tamu tersebut menyebutkan semua guru yang pernah mengajarnya, nama-nama teman sekelasnya, tempat duduk istri penulis hingga kebiasaan-kebiasaan berkaitan dengan pelajaran di kelas. Identitas ruangan kelas pun ia gambarkan dengan benar seperti yang ada dalam ingatan istri penulis. Dilihat dari jawabannya seharusnya ia benar-benar teman istri penulis karena tidak mungkin orang yang bukan teman sekelasnya bisa mengetahui banyak tentang peristiwa-peristiwa di dalam kelas secara persis. Kalau pun kakak atau adik kelas maksimal hanya tahu tentang identitas kelas serta posisi tempat duduk istri penulis bukan peristiwa-peristiwa dalam kelas.

Lagi-lagi istri penulis mengingat-ingat tentang nama dan wajah orang itu. Benar-benar ia tidak menemukan nama dan wajah orang itu dalam ingatan. Istri penulis yakin bahwa dia adalah bukan teman sekelasnya kemudian mengaku telah menikah dengan teman sekelasnya.begitu dia tamat SMP. Nama teman sekelas yang ia sebut-sebut telah dinikahi itu juga bukan teman sekelas atau teman satu sekolah istri penulis. Kesimpulannya adalah dia sebenarnya bukan teman sekelas istri penulis. Yang kelihatan aneh adalah bagaimana orang yang bukan teman sekelas bisa tahu persis kejadian-kejadian dan kebiasaan-kebiasaan dalam kelas. Kalau pun orang itu mendapat informasi dari orang yang benar-benar teman sekelas istri penulis tentu tidak akan sangat terinci dan ia tidak akan bisa memberi jawaban spontan atas pertanyaan-pertanyaan istri penulis mengenai kejadian-kejadian di kelas.

Kecurigaan istri penulis bahwa orang tersebut hendak menipu tidak terbukti karena ia hanya mohon bantuan sekedarnya untuk membeli paku barang satu atau dua kilo. Pembicaraan lainnya serba simpang siur dan membingungkan.

Penulis pada malam harinya berkonsultasi kepada Sang Guru Gaib, Kanjeng Sunan Kali. Beliau menjelaskan bahwa yang datang itu sebenarnya adalah penjelmaan sedulur papat Klimo Pancer dari istri penulis sendiri. Dan yang dia minta adalah sumbangan untuk membeli paku. Menurut Kanjeng Sunan paku merupakan simbol dari keteguhan atau kemantapan pikir dan hati.

RIWAYAT KANJENG SUNAN KALIJAGA

A. Silsilah

Tentang silsilah Kanjeng Sunan Kalijaga paling tidak ada tiga informasi yang berbeda-beda. Ada yang menyatakan bahwa beliau keturunan Arab asli, yang lain menyatakan sebagai keturunan Cina dan ada pula yang menyatakan keturunan Jawa asli. Masing-masing pendapat mempunyai sumber dan argumen yang berbeda pula. Informasi yang penulis peroleh adalah dari hasil berkonsultasi dengan beliau.Menurut Kanjeng Sunan Kalijaga pada konsultasi tanggal 5 Pebruari 2004 itu. Perbedaan informasi ini sempat bikin geger ( polemik, pen ) pada jaman dulu.

Pernyataan beliau kepada penulis adalah sebagai berikut : “Perlu jeneng sira mangerteni, Ngger, Ing jaman Walanda ana buku kang ditulis dening Jendral Van den Berg De Handramaut et les Colonies Arabes dar’l Archipel Indian. Buku iku ngandakake yen jeneng ingsun iku keturunan Arab, dene silsilahe mengkene : Abdul Muthalib ya Eyange panjenengane Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Peputra Abbas. Abbas peputra AbdulWahid. Abdul Wahid peputra Mudzakir. Mudzakir peputra Mundao’af. Terus nganti keturunan kaping selikur. Keturunan kang kaping selikur iku (Abdur Rakhim) numurunake Arya Teja I. Arya Teja I (Bupati Tuban) numurunake Arya Teja II. Arya Teja II numurunake Arya Teja III, Arya Teja III iku numurunake Kanjeng Rama Wilatikta. Kanjeng Rama Wilatikta peputra jeneng ingsun”. (Perlu kamu ketahui Ngger, Pada Jaman Berlanda ada sebuah buku yang ditulis oleh seorang Belanda Jendral Van den Berg berjudul De Handramaut et les Colonies Arabes dar’l Archipel Indian. Buku itu mengatakan bahwa saya adalah keturunan Arab. Demikian silsilahnya : Abdul Muthalib yaitu Kakek Nabi Muhammad SAW berputra Abbas. Abbas berputra Abdul Wahid. Abdul Wahid Abdul Wahid berputra Mudzakir. Mudzakir berputra Mundo’af. Terus hingga keturunan ke dua puluh satu. Keturunan ke dua puluh satu itu (Abdur Rakhim) menurunkan Arya Teja I (Bupati Tuban). Arya Teja I berputra Arya Teja II. Arya Teja II berputra Arya Teja III. Arya Teja III berputra Tumenggung Wilatikta. Tumenggung Wilatikta berputra Sunan Kalijaga).

Informasi yang menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan Cina berasal dari Klenteng Sampo Kong. Menurut penuturan Kanjeng Sunan Kalijaga, “… nalika iku Pandanaran isih klebu wewengkon Demak. Ana buku kang nyaritakake ingsun iku jarene keturunan Cina. Dene silsilahe mengkene. Oei Tik Too nduweni putra Wiratikta lan Sam Oei Ik. Lah Wiratikta iku nduweni putra ingsun. Ingsun iku diarani Sam Ik…”(“…ketika itu Pandanaran masih berada dibawah kekuasaan Demak. Ada buku yang menceritakan bahwa saya keturunan Cina. Begini silsilahnya. Oei Tk Too berputra Wiratikta dan Sam Oei Ik.Wiratikta berputra saya. Saya diberinama Sam Ik…”)

Selanjutnya beliau mengatakan “Ingsun iku dudu pawongan kang linuwih ing babagan sejarah. Nanging yen ingsun waspadaake kang nerang ake mangkono iku pada nggugu karepe dhewe, padha golek pamrih Walanda bakal gawe bodho para kawula Nuswantara lan nyimpangake sejarahe bangsa Nuswantara” ( Saya bukan orang ahli dalam bidang sejarah, tetapi kalau saya perhatikan yang memberikan keterangan begitu itu, semaunya sendiri dan cari pamrih. Belanda akan membikin bodoh penduduk Nusantara dan menyimpangkan sejarah bangsa Nusantara).

Keterangan beliau tidak berhenti di sini tetapi dilanjutkan lagi, “Yen ingsung rasakake, sejatine ingsun iku saka keturunan raja-raja Majapahit. Caritane mengkene, Raden Wijaya kaderekake dening Ronggo Lawe. Sateruse Ronggo Lawe diparingi bumi Tuban. Adipati Ronggo Lawe utawa Bupati Tuban kagungan putra Arya Teja I, Arya Terja I numurunake Arya teja II. Arya Teja II peputra Arya Teja III. Banjur Arya Teja III iku kagungan putra Kanjeng Rama Tumenggung Wilatikta. Kanjeng Rama Wilatikta peputra ingsun iki. Ingsun nate dadi manungsa kang ora karu-karuan. Pikantuk pitulung ing Gusti Kang Maha Agung Maha Suci, ingsun pinaringan guru gaib lan mlebu agama Islam. Ingsun uga ketemu guru lahir yaiku panjenengane Bapa Sunan Bonang. Ya amarga lantaran Bapa Sunan Bonang ingsun bisa dadi manungsa sejati sejatining manungsa. (Kalau saya rasakan sebenarnya saya ini berasal dari keturunan raja-raja Majapahit. Ceritanya begini, Raden Wijaya didampingi oleh Ronggo Lawe. Selanjutnya Ronggo Lawe diberi bumi Tuban. – diangkatr menjadi Bupati Tuban – Adipati Tuban, Ronggo Lawe, berputra Arya Teja I. Arya Teja I berputra Arya Teja II. Arya Teja III berputra Arya Teja III. Selanjutnya Arya Teja III berputra Bapak saya Tumenggung Wilatikta. Tumenggung Wilatikta berputra saya ini. Saya pernah menjadi manusia tak karuan. Mendapat pertolongan Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci, saya diberikan guru gaib dan memeluk agama Islam. Saya juga bertemu guru lahir yaitu beliau Bapa Sunan Bonang. Ya karena jasa Bapa Sunan Bonang saya bisa menjadi manusia sejati).

Benar yang dikatakan dalam buku Islamisasi di Jawa Walisongo, Penyebar Islam di Jawa, menurut penuturan Babad bahwa terdapat perbedaan tentang silsilah itu. Adanya perbedaan itu menunjukkan adanya indikasi maksud-maksud tertentu dalam penyusunan silsilah itu.

Interpretasi penulis buku tersebut sesuai dengan pernyataan dari Kanjeng Sunan Kalijaga sendiri dalam konsultasi penulis dengan beliau seperti telah penulis paparkan tadi. – pada nggugu karepe dhewe, padha golek pamrih.

Informasi tambahan yang penulis peroleh secara langsung dari beliau melalui suatu komunikasi gaib itu kiranya bisa memberikan kejelasan mengenai silsilah Kanjeng Sunan Kalijaga sehingga tidak lagi memunculkan spekulasi tentang kebenaran sejarah. Diakui atau tidak dalam penulisan suatu sejarah sering ada motivasi-motivasi tertentu yang sesuai dengan kehendak atau kebutuhan berkaitan dengan penulisan sejarah itu. Dalam hal ini objektivitas sering dikorbankan demi kepentingan pihak-pihak yang melakukan penulisan sejarah itu. Karena itu koreksi perlu dilakukan demi kebenaran yang akan menghasilkan kebenaran berikutnya

B. Sebelum Menjadi Wali

Di dalam buku Islamisasi di Jawa nama Raden Said dan Lokajaya adalah pemberian Sunan Ampel. Penulis dalam suatu konsultasi pada Jum’at malam Sabtu 20 Pebruari 2002 meminta konfirmasi kepada Kanjeng Sunan Kalijaga tentang kebenaran informasi itu. Penulis juga menanyakan tentang nama Kalijaga yang diperkirakan berasal dari bahasa Arab Qodli Zakka. Berikut ini keterangan beliau kepada penulis, “…Kang ngarani yen jeneng ingsun iku saka tembung Qodli Zakka kaya kang wis ingsun paring piterangan marang jenengsira, iku mawa pamrih. Aran Lokajaya lan Raden Said iku pinaringan dening panjenengane Sunan Bonang…” (Yang menyatakan bahwa nama saya berasal dari kata Qodli Zakka, seperti saya pernah terangkan kepadamu, itu cari pamrih. Nama Lokajaya dan Raden Said itu pemberian beliau, Sunan Bonang). Selanjutnya Kanjeng Sunan Kalijaga menceritakan kisah beliau sebelum menjadi Wali Allah “… Nalika iku ingsun urip kakungkung tembok kraton nanging ora lega lan seneng penggalih ingsun amarga tansah aningali kahanan-kahanan kang kurang trep mungguhing ingsun. Wong atuwa ingsun tansah nggugu karepe dhewe ora mikirake kawula cilik kang uripe nandang kasangsaran, malah tansah gawe susah. Apa ta darunane? Para punggawaning praja kudu tansah asok glondong pengareng-areng marang raja. Mula Tumenggung Wilatekta, ya wong atuwaningsun, tansah meres para kawula cilik. Kahanane ora karu-karuan mula ingsun oncat saka kraton ngumbara saparan-paran dadi pawongan kang tanpa guna tumrape kulawarga. Sajroning ingsun ngumbara, ingsun nelukake para brandal ing alas Lokajaya. Awit saka iku ingsun dijuluki Lokajaya. Jenengingsun terus ngupadi raja brana ingsun bagi-bagi marang kawula cilik kang mbutuhake. Nanging atiningsun durung tentrem kanti urip tansah nuruti hawa nafsu kang tundone nuwuhake kahanan kang kurang becik. Ingsun tansah golek kabecikan kanti cara kang ora becik. Nganti kapan ingsun kudu urip kanti cara kang kaya mangkene? Kang kaya mangkono iku ibarate ingsun ngagem ageman kang dikumbah banyu kotor nuwuhake ganda kang ora enak. Iku lakuningsun, mbudi daya kabecikan kanti sodakoh nanging dasaring pambiantu saka ngrampas. Ingsun ngrampas para pawonganing raja, para punggawaning praja sing sing nggugu karepe dhewe, sing ora nggatekake para kawula. Iku kabeh dadi jejalarane ingsun pinanggih guru lahir ing alas Lokajaya yaiku panjenengane Sunan Bonang. Nalika iku ingsun aningali pawongan kang agemane sarwo becik, gumebyar, kanti ngasto teken emas. Pawongan iku ya panjenengane Sunan Bonang. Ingsun ngrampas teken emas iku. Sunan Bonang dawah ing bantala amarga tekene ingsun rampas. Sunan Bonang nangis sengguk-sengguk. Apa sing dimuwuni. Ingsun gumun setahun. Sunan Bonang ora muwun amarga tekene ingsun rampas nanging nangisi tanduran kang kabedol. Sunan Bonang muwun sesenggukan amarga rumangsa dosa gedhe anggone dhawah nganti mbedol tetanduran tanpa kajarag lan tanpa tujuan. Atiningsun lolos. Pangandikane Sunan Bonang, jenengsira arep nyuwun apa, ngarepmu ana donya brana kang linuwih. Ana wit aren satemah dadi emas kabeh. Saka wite nganti godong lan wowohane. Ingsun arep ngraup emas iku nanging kawirangan, emas malih wit aren sanalika. Sawise iku ilang atiningsun. Ilang nafsune kabeh anggone bakal ngraup raja brana. Ingsun rumangsa adhem kaya dene piraningan tirta nalika ingsun piraningan wewejangan mangkene, yen jenengsira tansah golek kabecikan nanging kanti dasar ora becik, sodakoh nanging carane ora bener iku kaya dene nganggo ageman becik kang dikumbah nganggo banyu uyuh. Ingsun banjur kepingin dadi siswane Sunan Bonang. Sadurunge dadi siswa ingsun pinaringan teteran. Dawuhe mengkene, yen jenengsira kepingin dadi wong kang luhur, iki teken ditunggoni nganti ingsun tekan kene maneh. Ingsun nuli sinidikara tapa nunggoni teken suwene telung tahun setengah ana pingir bengawan. Sawise telung tahun setengah Sunan Bonang kelingan njur bali ana papan dunung teken. Ingsun digugah diparingi nama Kalijaga awit anggone ingsun tapa sapinggiring kali dadi wong kang njogo kali. Apa sajatine kedaden kang kaya mangkono. Iku nggambarake Sunan Bonang mangerteni batiningsun kang kaya dene ngetut wuri lakuning banyu. Ingsun ngetut wuri pawongan jaman semana kaya ngetut wuri lakuning banyu, tansah nuntun para pawongan supaya dadi ademing perkara” (…Ketika itu saya hidup di balik tembok keraton tetapi tidak merasa lega hati saya karena selalu menyaksikan keadaan-keadaan yang kurang pas menurut pikiran saya. Orang tua saya semena-mena tidak memikirkan orang kecil yang hidupnya sengsara, bahkan selalu bikin susah. Apa sebabnya ? Para punggawa kerajaan harus selalu memberikan upeti kepada raja. Karena itu Tumenggung Wilatikta, ya orang tua saya, selalu memeras rakyat kecil. Keadaannya tidak karuan maka saya pergi dari kraton mengembara tanpa tujuan, menjadi orang tak berguna bagi keluarga. Di dalam pengembaraan, saya mengalahkan berandal di hutan Lokajaya. Karena itu saya dijuluki Lokajaya. Saya terus mencari harta benda yang kemudian saya bagi-bagikan kepada rakyat kecil yang membutuhkan. Tetapi hati saya belum merasa tentram dengan hidup mengikuti hawa nafsu yang akhirnya mengakibatkan keadaan yang kurang baik. Sampai kapan saya harus hidup dengan cara begini? Keadaan yang demikian itu ibarat saya mengenakan pakaian yang dicuci dengan air kotoran, menimbulkan bau tidak sedap. Itulah perjalanan hidup saya, mengusahakan kebaikan dengan bersedekah tetapi dasar dari saya membantu orang itu dari hasil merampas. Saya merampas orang-orang kerajaan, para pejabat kerajaan yang semena-mena, yang tidak memperhatikan rakyat. Semua itu menjadi penyebab saya bertemu guru lahir di hutan Lokajaya yaitu beliau Sunan Bonang. Ketika itu saya melihat seseorang yang pakaiannya serba bagus gemerlapan, dengan membawa tongkat emas. Orang itu adalah Sunan Bonang. Saya merampas tongkat emas itu. Sunan Bonang terjatuh di tanah karena tongkatnya saya rampas. Sunan Bonang menangis tersedu-sedu. Apa yang ditangisi. Saya benar-benar heran. Sunan Bonang tidak menangis karena tongkatnya saya rampas, tetapi menangisi tanaman yang tercabut. Sunan Bonang menangis tersedu-sedu karena merasa berdosa besar ketika terjatuh sampai mencabut tanaman tanpa sengaja dan tanpa tujuan. Hati saya seperti tersayat. Sunan Bonang berkata demikian, kamu mau minta apa. Di depanmu ada harta benda yang sangat banyak. Ada pohon aren seketika menjadi emas seluruhnya. Dari pohon hingga daun dan buahnya. Saya mau mengambil emas itu tetapi saya mendapat malu, emas menjadi pohon aren seketika itu juga. Setelah itu seperti hilang hati saya. Hilang semua hawa nafsu untuk meraup harta benda. Hati saya terasa sejuk seperti tersiram air ketika mendapat wejangan demikian, kalau kamu selalu mencari kebaikan tetapi dengan dasar yang tidak baik, sedekah tetapi dengan cara yang tidak baik (dari hasil rampasan) itu seperti mengenakan pakaian bagus yang dicuci dengan air kencing. Saya lantas ingin menjadi siswa Sunan Bonang. Sebelum menjadi siswa, saya diuji. Perintah beliau demikian, kalau kamu ingin menjadi orang baik, tungguilah tongkat ini hingga saya sampai di tempat ini lagi. Saya lalu memohon kepada Tuhan bertapa menunggui tongkat selama 3 1/2 tahun di pinggir sungai. Setelah tiga setengah tahun Sunan Bonang datang lagi ke tempat ditancapkannya tongkat itu. Saya dibangunkan dan diberi nama Kalijaga karena saya bertapa di pinggir kali menjadi penjaga kali. Apa arti kejadian itu. Itu menggambarkan bahwa Sunan Bonang mengerti batin saya yang seperti halnya mengikuti arus air. Saya mengikuti rakyat pada jaman itu bagaikan mengikuti arus air (aliran sungai) selalu menuntun rakyat supaya menjadikan suasana sejuk.

C. Kelebihan Sunan Kalijaga

Dari berbagai ceritera yang kita ketahui Kanjeng Sunan Kalijaga memiliki banyak kelebihan. Tetapi mengenai kelebihan-kelebihan itu beliau tidak berkenan untuk menginformasikan kepada penulis. Permohonan informasi yang ada kaitannya dengan kelebihan-kelebihan yang beliau miliki penulis disuruh untuk meminta penjelasan kepada Ki Ageng Raga Sela.

Penjelasan tentang kelebihan-kelebihan Kanjeng Sunan Kalijaga penulis peroleh dari konsultasi dengan Ki Ageng Raga Sela pada hari Kamis malam tanggal 19 Pebruari 2004. Demikian antara lain yang beliau sampaikan, Panjenengane Kanjeng Sunan Kali iku akeh kaluwihane, Ngger. Mbok menawa yen ingsun ceritakake ora rampung sewengi. Kajaba kasekten lan kewaskitaan, panjenengane Kanjeng Sunan Kali iku ahli falak, tata negara uga pinter mikut manahe para kawula. Para kawula cilik tansah pada rumaket awit panjenengane ora mbedak-mbedakake aliran kang maneka warna malah kepara tansah nyedaki para kawula sapa bae ora ndulu marang cendek dhuwure drajad.” (Beliau, Kanjeng Sunan Kali itu memiliki banyak kelebihan Ngger. Barangkali saya ceritakan tidak selesai dalam satu malam. Kecuali kesaktian dan kewaskitaannya, beliau itu ahli falak, ahli tata negara juga pandai menarik hati rakyat. Rakyat kecil selalu dekat dengan beliau karena beliau tidak membeda-bedakan aliran tetapi malah selalu mendekati rakyat tidak melihat tinggi rendahnya derajad).

Tentang sikap beliau yang selalu berhati-hati dalam menghadapi berbagai aliran banyak diceritakan berbagai buku. Sikap hati-hati serta tidak membeda-bedakan itu menurut penjelasan Ki Ageng Raga Sela tampak dalam peristiwa sebagai berikut, ….Nalika semana para Wali Allah pada bentrok amarga salah paham. Beda panemu. Babagan kang kaya mangkono iku njalari kedadeyan anane kang diarani Islam putih lan Islam abangan. Antarane golongan Islam putih lan golongan Islam abangan pada pancakara. Ngendikane Kanjeng Sunan Kali, kahanan iku bakal ngembet wohing pakarti. Ing tembe mburine ummat Islam gegontokan sapada padane Islam. Akehe golongan iku kanggo kepentingane dhewe-dhewe. Yen ingsun waspadakake wektu iki golongan Islam pada pancakara kalawan sapada padane Islam. Kabeh mau pada nguja kepentingane dhewe. Jaman semana golongan Islam putih dipandegani dening panjenengane Kanjeng Sunan Giri. Pendereke ya Kanjeng Sunan Ampel lan Kanjeng Sunan Drajad. Wondene golongan Islam abangan dipandegani dening Kanjeng Sunan Kali. Kang nderek golongan Islam abangan iku, Kanjeng Sunan Bonang, Kanjeng Sunan Kudus, Kanjeng Sunan Muria, Kanjeng Sunan Gunung Jati lan Syeh Maulana Maghribi. Islam putih iku becik nanging kurang trep marang kahanane para kawula jaman semana. Miturut panemune golongan Islam putih para pawongan iku bisa ora bisa kudu nindakake aturan agama kanti kenceng. Nah kang kaya mangkono iku Kanjeng Sunan Kali ora sarujuk. Amarga kahanane agama pawongan ing tanah Jawa isih morak-marik maneka warna aliran lan pahame. Golongan Islam putih kang ngruda pari peksa – bisa ora bisa aturan agama kudu ditindakake iku njalari para kawula ora kersa ngaket. Kanti ningali kahanan wektu semono Kanjeng Sunan Kali mandegani Islam abangan, nyiarake agama kanti ngati-ati, sitik ndemo sitik ora meksa. Samubarange ditindakake miturut kekuatane. Ibarate bisa nyekel iwak ora nganti buthek banyune. Kahanane para wali crah sawetara”. (Ketika itu para Wali Allah saling berselisih karena salah paham. Berbeda pendapat. Hal ini mengakibatkan munculnya yang disebut golongan Islam putih dan golongan Islam abangan. Antara Islam putih dan Islam abangan saling bertikai. Menurut Kanjeng Sunan Kali keadaan semacam itu akan mengakibatkan buah yang mesti dipetik. Pada masa yang akan datang ummat Islam bentrokan dengan sesama ummat Islam. Munculnya banyak golongan itu hanya untuk mencari kepentingan sendiri. Kalau saya perhatikan saat ini (tahun 2004) golongan ummat Islam bertikai melawan golongan Islam juga. Semua itu mengejar kepentingan sendiri. Pada waktu itu golongan Islam putih dipimpin oleh Kanjeng Sunan Giri. Pengikut (pendukungnya) Kanjeng Sunan Ampel dan Kanjeng Sunan Drajad. Sedangkan golongan Islam abangan dipimpin oleh Kanjeng Sunan Kali. Pendukungnya adalah Kanjeng Sunan Bonang, Kanjeng Sunan Kudus, Kanjeng Sunan Muria, Kanjeng Sunan Gunung Jati dan Syeh Maulana Maghribi. Islam putih itu bagus hanya saja kurang tepat untuk situasi masyarakat pada waktu itu. Menurut pandangan Islam putih pemeluk agama bisa tidak bisa harus menjalankan aturan agama dengan ketat. Hal yang demikian itu Kanjeng Sunan Kali tidak setuju. Karena keadaan keagamaan masyarakat tanah Jawa masih porak poranda berbagai macam aliran dan paham. Golongan Islam putih yang memaksakan bisa tidak bisa aturan agama harus dijalankan menyebabkan warga masyarakat enggan mendekat. Dengan melihat keadaan waktu itu Kanjeng Sunan Kali memimpin Islam abangan, menyiarkan agama dengan berhati-hati sedikit demi sedikit tidak memaksa. Segalanya dilakukan sesuai kemampuan. Bisa diumpamakan menangkap ikan tidak sampai keruh airnya. Keadaan para wali berselisih paham untuk sementara waktu).

D. Sunan Bayat

Kelebihan Kanjeng Sunan Kali yang lainnya lagi menurut penuturan Ki Ageng Raga Sela sebagai murid beliau yang menyaksikan ketika itu adalah demikinan, …..Sawise Syeh Siti Jenar tumeking lalis ana kedadean kuranging rombonganing walisongo yaiku sedane penjenengane Kanjeng Sunan Ampel. Saksedane Kanjeng Sunan Ampel mbutuhake anane wali kang linuwih. Kanjeng Sunan Kali kaya dene nduweni pamikir kang ora bisa tinampa dening pamikiring para kawula. Kahanan iku sawetara gawe geger. Kanjeng Sunan Kali nyuwun marang Gusti Kang Maha Agung Maha Suci. Satemah Kanjeng Sunan Kali ngendika marang para kadang wali. Ngendikane Kanjeng Sunan Kali among gantining tinambah kaya dene kanggo njangkepi rombonganing Walisongo. Kanjeng Sunan Kali nyuwun marang kang samya seba supaya Adipati Pandanaran pinaringan kalenggahan ana ing kelompok wali. Satemah geger awit ora tinemu nalar apa kang dadi pangandikane Kanjeng Sunan Kali tumrap kang samya sumeba ana ing pasewakan. Kepriye nalare sahingga Kanjeng Sunan Kali nganti milih Adipati Pandanaran lumebu ing rombonganing wali kang kepara yen ningali tingkah polahe Pandanaran anggone ngasta bawat pamarentahan gawat kahanane. Pandanaran mujudake adipati kang adigung adiguna, ora nduweni tata susilo, ora percaya marang Gusti Kang Maha Agung Maha Suci. Panguripane tansah ngumbar hawa nafsu, ngendelake harta karun saha ora nggatekake para kawula. Babar pisan ora menggalih kahananing para kawula kabeh. Nah kang mangkono iku ora tinemu akal anggone Kanjeng Sunan Kali milih Adipati Pandanaran. Kanjeng Sunan Kali rehne wis pinaringan pituduh dening Gusti Kang Maha Agung Maha Suci ngendika, ingsun sing bakal nemtokake, ndadekake supaya Adipati Pandanaran mlebu kelompoking wali. Pokale Kanjeng Sunan Kali ora tinampa satemah nyuwun pamit. Sateruse Kanjeng Sunan Kali ngreka daya supaya Adipate Pandanaran atine binuka, percaya marang Gusti Kang Maha Agung Maha Suci Kanjeng Sunan Kali membawarna wewujudaning pawongan bakul suket sowan Adipati Pandanaran arep adol suket. Adipati Pandanaran ningali membawarna bakul suket, satemah Adipati Pandanaran ningali kang kaya mangkono suket kasuwun tanpa tedheng aling-aling. Kanjeng Sunan Kali nglebokake remukaning bata sajroning suket. Suket pinarengake tanpa binayar. Satemah Kanjeng Sunan Kali matur supaya Adipati Pandanaran niti priksa apa suket bisa dipakakake turangga. Nalika Adipati Pandanaran niti priksa kasunyatan sanjroning suket akeh wewujudane mas picis raja brana. Bata sak jroning suket dadi mas. Satemah Adipati Pandanaran gijlog-gijlog, ngguyu lakak-lakak. Adipati Pandanaran ngutus abdine supaya ngupadi bakul suket. Bakul suket kasuwun supaya saben dina adol suket marang Adipati Pandanaran. Panjenengane ora mangerteni sajatine bakul suket iku Kanjeng Sunan Kalijaga. Liya dina bakul suket lewat nggawa suket ijo-ijo. Ora kesuwen anggone Adipati Pandanaran ngadang bakul suket ana sajabaning regol. Bakul suket kabayar kanti dawuh supaya saben dina adol suket, nanging bakul suket ora gelem kabayar. Kabuka sukete isih ana emase. Sawuse kang kaya mangkono Adipati Pandanaran gilang gumuyu. Kanjeng Sunan Kali rumaos cukup anggone paring pacoban. Mula panjenengane Kanjeng Sunan Kali ngendika yen Adipati Pandanaran butuh banda donya akeh bisa diaturi emas kanti sak paculan. Kanjeng Sunan Kali nyahut pacul, macul sangarepe Adipati Pandanaran. Panculan malih dadi emas. Adipati Pandanaran tenger-tenger satemah tiba ngadepi bantala nyembah-nyembah bakul suket. Sawuse kang kaya mangkono bakul suket ngaku apa kang kedaden kanti blak-blakan yen deweke sejatine Sunan Kalijaga. Adipati Pandanaran nyuwun supaya diangkat dadi siswane, Kanjeng Sunan Kali kersa nampa Adipati Pandanaran minangka siswa nanging kanti syarat ninggalake kedaton. Adipati Pandanaran kersa netepi syarat ninggalake kedaton saisine klebu kabeh banda donyane. Nah sisihane kang ora trima atine. Anggone sumusul ngetut wuri garwane kanti nggawa banda donya kang awujud mas berlian diwadahi sajroning teken. Amarga tinilar adoh sisihane Adipati Pandanaran dibegal dening pawongan loro. Ing sajroning kedaden iku ana wong telu kang luput yaiku kang sepisan sisihane Adipati Pandanaran kang wis nduweni tekat mituhu nderek garwane nanging tetep nggawa banda donyane, kaping pindo yaiku wong loro kang padha mbegal. Sisihane Adipati Pandanaran luput amarga anggone nggawa banda donya ateges durung wani pasrah sawutuhe marang Gusti Kang Maha Agung Maha Suci. Wong loro kang padha mbegal iku ya luput amarga ngrampas kagunganing liyan. Gandeng ana wong telu kang luput utawa salah mangka papan dunung iku dening Adipati Pandanaran diarani Salahtiga utawa Salatiga. Amarga Ki Adipati Pandanaran lan sisihane wis pinaringan kekuatan uga pinaringan rajah kala cakra kang dayane cilike lumpuh gedene dadi membawarna kewan. Wong loro kang padha mbegal satemah sing siji sirahe malih dadi endas wedus sing sijine sirahe malih dadi endas ula. Sawise mertobat pawongan iku sing siji dijenengi Syeh Domba lan sing sijine Syeh Cahsaka. Tumekaning Dusun Tembayat rombongane Adipati Pandanaran lan Kanjeng Sunan Kali kapethukan juragan beras kang gumedhe, ora nduweni tata susila saha ngumbar hawa nafsu. Anggone nawakake beras ora pantes regane sahingga para pawongan ora bisa mundut beras. Adipati Pandanaran kadhawuhan methukake juragan beras iku. Rehne wis diparingi kekuatan lahir batin dening panjenengane Kanjeng Sunan Kali, nalika Adipati Pandanaran methukake juragan beras ngendika, sing sampeyan tawakake iku dudu beras regane kok larang, satemah beras malih dadi pasir kabeh. Adipati Pandanaran diangkat dadi wali kanti asma Sunan Bayat”. (…..Setelah Syeh Siti Jenar meninggal terjadilah keadaan berkurangnya anggota Walisongo yaitu wafatnya Sunan Ampel. Sepeninggal Kanjeng Sunan Ampel diperlukan adanya pengganti yang memiliki kelebihan. Kanjeng Sunan Kali mempunyai pendapat yang tidak bisa diterima oleh pemikiran orang banyak. Keadaan itu sementara bikin geger. Kanjeng Sunan Kali memohon kepada Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci. Kemudian Kanjeng Sunan Kali berbicara kepada para wali. Pernyataan Kanjeng Sunan Kali adalah, gantinya hanyalah dengan penambahan untuk melengkapi rombongan Walisongo. Kanjeng Sunan Kali meminta kepada segenap yang hadir supaya Adipati Pandanaran diberi kedudukan dalam kelompok wali. Seketika itu geger karena tidak masuk akal yang dikatakan Kanjeng Sunan Kali bagi yang hadir dalam pertemuan. Apa dasarnya Kanjeng Sunan Kali sampai memilih Adipati Pandanaran masuk ke dalam rombongan wali padahal kalau melihat tingkah laku Pandanaran dalam menjalankan pemerintahan gawat keadaannya. Pandanaran merupakan Adipati yang congkak, tidak punya tata susila, tidak percaya kepada Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci. Kehidupannya selalu mengumbar hawa nafsu, mengandalkan kekayaannya serta tidak memperhatikan nasib rakyat. Sama sekali tidak memikirkan keadaan rakyat. Nah yang demikian ini tidak masuk akal bahwa Kanjeng Sunan Kali memilih Adipati Pandanaran. Kanjeng Sunan Kali berhubung telah mendapat petunjuk dari Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci mengatakan, saya yang akan menentukan, menjadikan supaya Adipati Pandanaran masuk kelompok wali. Tindakan Kanjeng Sunan Kali tidak diterima makanya mohon pamit, meninggalkan pertemuan. Selanjutnya Kanjeng Sunan Kali membuat strategi supaya Adipati Pandanaran terbuka hatinya, percaya kepada Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci. Kanjeng Sunan Kali menyamar menjadi seorang penjual rumput menghadap Adipati Pandanaran mau menjual rumput. Adipati Pandanaran melihat penjual rumput. Ketika melihat penjual rumput itu Adipati Pandanaran meminta rumput itu tanpa basa-basi. Kanjeng Sunan Kali memasukkan pecahan batu bata ke dalam rumput tanpa diketahui Adipati. Rumput diserahkan tanpa dibayar. Ketika itu Kanjeng Sunan Kali yang menyamar mengatakan supaya Adipati Pandanaran memeriksa rumput apakah semua rumput itu bisa untuk memberi makan kuda. Ketika Adipati Pandanaran memeriksa rumput ternyata terdapat emas di dalam rumput itu. Pecahan batu bata di dalam rumput berubah menjadi emas. Seketika itu Adipati Pandanaran berjingkrak-jingkrak tertawa terbahak-bahak. Kemudian Adipati Pandanaran mengutus abdinya untuk mencari penjual rumput. Penjual rumput diminta agar setiap hari menjual rumputnya kepada Adipati Pandanaran. Adipati tidak mengetahui bahwa sesungguhnya penjual rumput itu adalah Kanjeng Sunan Kalijaga. Lain hari penjual rumput lewat membawa rumput hijau-hijau. Tidak terlalu lama Adipati Pandanaran menanti penjual rumput di luar pintu kedaton. Penjual rumput dibayar dengan permintaan supaya setiap hari rumput dijual kepadanya, tetapi penjual rumput tidak mau menerima bayaran itu. Rumput dibuka masih ada emasnya. Setelah itu Adipati Pandanaran tertawa-tawa. Kanjeng Sunan Kali merasa cukup dalam memberikan cobaan. Maka beliau berbicara, apabila Adipati Pandanaran membutuhkan harta benda yang banyak bisa diberikan emas oleh penjual rumput itu dengan sekali cangkul. Kanjeng Sunan Kali mengambil cangkul, mencangkul dihadapan Adipati Pandanaran. Tanah yang dicangkul berubah menjadi emas. Adipati Pandanaran tertegun seketika menjatuhkan diri ke tanah menyembah penjual rumput. Setelah itu penjual rumput mengaku terus terang tentang yang telah terjadi bahwa dia sebenarnya adalah Sunan Kalijaga. Adipati Pandanaran memohon supaya diangkat menjadi siswanya. Kanjeng Sunan Kali mau menerima Adipati Pandanaran sebagai siswa tetapi dengan syarat meninggalkan kedaton, istana kadipaten. Adipati Pandanaran mau memenuhi syarat meninggalkan kedaton beserta seluruh isinya termasuk harta benda semuanya. Nah istrinya yang kurang menerima dalam hatinya. Ketika mau menyusul mengikuti suaminya itu dengan membawa harta benda yang berwujud emas berlian yang dimasukkan ke dalam tongkat bambu. Karena tertinggal jauh istri Adipati Pandanaran dirampok oleh dua orang. Di dalam kejadian itu ada tiga orang yang bersalah, yaitu yang pertama istri Adipati Pandanaran yang telah bertekat turut mengikuti suaminya tetapi tetap membawa harta bendanya. Yang kedua yaitu dua orang yang merampok istri Adipati Pandanaran salah karena tindakan dia membawa harta benda itu berarti belum berani pasrah seutuhnya kepada Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci. Dua orang yang merampok itu bersalah karena merampas milik orang lain. Berhubung ada tiga orang yang bersalah dalam kejadian ini maka tempat itu dinamakan Salahtiga atau Salatiga oleh Adipati Pandanaran. Karena Adipati Pandanaran dan istrinya telah diberi kekuatan juga diberi rajah kala cakra yang memiliki kekuatan yang bisa membuat manusia pengganggu menjadi lumpuh atau berubah menjadi bentuk hewan. Dua orang yang merampok itu, satu orang kepalanya berubah menjadi kepala domba yang satu orang lagi kepalanya berubah menjadi kepala ular. Setelah bertobat dua orang itu yang satu diberi nama Syeh Domba karena kepalanya pernah berubah menjadi domba. Sedangkan yang lainnya diberi nama Syeh Cahsaka karena kepalanya pernah menjadi kepala ular. Setibanya di Desa Tembayat rombongan Adipati Pandanaran dan Kanjeng Sunan Kali bertemu juragan beras yang congkak, tidak punya tata susila dan mengumbar hawa nafsu. Dalam menawarkan beras harganya sangat mahal sehingga penduduk tidak mampu membeli beras itu. Karena telah diberi kekuatan lahir batin oleh Kanjeng Sunan Kali, ketika Adipati Pandanaran menghadapi juragan beras beliau berkata, yang Anda tawarkan itu bukan beras harganya kok mahal, seketika itu beras berubah menjadi pasir semua. Adipati Pandanaran diangkat menjadi wali dengan julukan Sunan Bayat.

Mengenai kelebihan Kanjeng Sunan Kali kecuali yang telah sekelumit penulis paparkan masih banyak lagi yang lainnya. Bisa dikatakan dalam hampir setiap persoalan Kanjeng Sunan Kali diberi karomah oleh Allah untuk menghadapi masyarakat pada waktu itu sehingga tugas menyebarkan Islam itu dapat beliau lakukan dengan baik dan berhasil. Di antara keberhasilan dakwah para wali, khususnya Walisongo, itu dapat kita rasakan dan kita saksikan pada saat ini di negeri ini.

Berikut ini penulis sampaikan penuturan Ki Ageng Raga Sela tentang kelebihan Kanjeng Sunan Kalijaga yang penulis peroleh dari berkonsultasi pada Sabtu malam tanggal 21 Pebruari 2004 bertepatan dengan Malam Tahun Baru Islam 1425 Hijriyah.

Rikala jaman semono, isih klebu jaman Majapahit, panjenengane Kanjeng Sunan Kali ngadepi kahanan kaya dene kekuataning ilmu jin lan syetan. Akeh teluh, santet lan sapanunggalane kang tansah gawe cintrakane para kawula kabeh. Paribasan esuk lara sore tumekaning pati, bengi ketaman memala esuk tumekaning pralaya. Akehing memala andadekake paragaibing leluhur tansah prihatin sehingga akeh para kawula meh wae ora percaya apa sing dadi gegayuhaning para wali Allah anggone nyebarake agama Islam. Kaya mangkono iku kahanane para kawula kang ndadekake prihatin para wali Allah. Yen kahanan kang kaya mangkono iku paragaibing leluhur ora bisa ngadepi kanti becik mangka bakal ndadekake rusaking perkara bubare para kawula. Mula panjenengane Kanjeng Sunan Kali sinidikara nyuwun marang Gusti Kang Maha Agung Maha Suci supaya pinaringan daya kekuataning kabeh sahingga bisa rinampungan sakabehing perkara. Satemah epek-epeking asta panjenengane Kanjeng Sunan Kali njamah wewujudane bledug, satemah bledug kagawa saepek-epeke asta. Sawuse iku, saka daya kekuataning panyuwun panjenengane Kanjeng Sunan Kali bledug kacipta dadi wewujudan lempengan barang. Lempengan barang dicipta dadi pusaka dening Kyai Supo kang aran Kyai Carubuk. Pusaka kang tundone kasebut Kyai Carubuk. Gusti Kang Maha Agung Maha Suci paring daya katiyasan linuwih kang tundone Kyai Carubuk bisa digunakake kanggo nyingkirake memolo sahingga ing tanah Jawa ilang prahara kabeh kalebu ing Demak sakukubane. Panjenengane Kanjeng Sunan Kali sawuse bisa nyingkirake prahara njur pinercaya dening para kawula. Para kawula senajan isih adedasar percaya agama Hindu Budha lan sapanunggalane remen lan tansah mundi-mundi barang-barang gaib sing nduweni daya ketiyasan. Panjenengane Kanjeng Sunan Kali anggone nyipta barang kang nduweni daya katiyasan tundone bisa nglumpukake para kawula awit para kawula percaya marang Kanjeng Sunan Kali.

Sarampunge prahara, Kanjeng Sunan Kali satemah nglumpukake para kawula nganakake seslametan. Kanjeng Sunan Kali paring pangerten marang para kawula kang percaya sesaji lan sapanunggalane. Nalika para kawula pada kumpul nggawa sesaji, dening Kanjeng Sunan Kali tata carane sesaji kaowahi. Sesaji digawe njur digawakae bali para kawula kang pada teka. Sawuse para kawula diparingi pangerten seslametan diganti nama sodakoh. Para kawula ngetut wuri. Kanggo mantepake, rehne Kanjeng Sunan Kali aningali kahanane para kawula percaya barang-barang kang nduweni kekuatan gaib kanti nyuwun marang Gusti Kang Maha Suci nyipta barang kang bisa mancing atine para kawula. Kanjeng Sunan Kali nyuwun kanti sholat satengahing wengi. Nalika Kanjeng Sunan Kali nindakake sholat ana wewujudane godong kang tiniba kanti tinulisan kalimah sahadat :

Kepara Kanjeng Sunan Kali tansah nyuwun supaya barang bisa tiningalan para kawula nduweni kekuatan gaib. Saka kersaning Allah godong kacipta dadi wewujudaning ageman kang tundone bisa mancing para kawula. Ageman kang kacipta saka godong iku diarani kutang Onto Kusumo”. (Ketika itu, termasuk jaman Majapahit, Kanjeng Sunan Kali menghadapi kekuatan ilmu jin dan syetan. Terjadi banyak teluh, santet dan sejenisnya yang membikin sengsara rakyat semua. Ibarat pagi terjangkit penyakit sore meninggal dunia, malam sakit pagi meninggal dunia. Banyaknya penyakit menyebabkan para leluhur selalu prahatin sehingga hampir-hampir banyak orang yang tidak percaya terhadap apa yang menjadi cita-cita para wali Allah dalam menyebarkan agama Islam. Begitu itulah keadaan rakyat yang menjadikan para wali Allah prihatin. Kalau terhadap keadaan semacam itu para wali tidak bisa menghadapi dengan baik maka akan bikin rusak suasana yakni menjauhnya rakyat banyak dari para wali. Karena itu Kanjeng Sunan Kali berkontemplasi memohon kepada Allah supaya diberi kekuatan sehingga bisa menyelesaikan semua persoalan. Seketika itu telapak tangan Kanjeng Sunan Kali menyentuh debu. Seketika debu terbawa telapak tangan. Setelah itu, berkat kekuatan do’a dari Kanjeng Sunan Kali debu bisa tercipta menjadi lempengan bahan pembuatan pusaka. Dari lempengan itu tercipta sebuah pusaka. Pusaka yang kemudian diberi nama Kyai Carubuk. Allah memberi kekuatan luar biasa pada pusaka itu sehingga bisa digunakan untuk memberantas penyakit maka hilanglah prahara di tanah Jawa khususnya di wilayah Demak. Kanjeng Sunan Kali setelah memberantas prahara kemudian dipercaya oleh rakyat. Rakyat banyak meski masih berdasarkan kepercayaan agama Hindu-Budha dan yang lainnya senang dan selalu memuja-muja benda-benda berkekuatan gaib. Karena Kanjeng Sunan Kali bisa mencipta benda berkekuatan gaib maka bisa mengumpulkan rakyat banyak sebab mereka percaya kepada beliau. Setelah prahara hilang tersingkirkan, Kanjeng Sunan Kali mengumpulkan rakyat untuk mengadakan selamatan. Beliau memberi pengertian kepada rakyat yang percaya kepada sesaji dan sejenisnya. Ketika itu rakyat berkumpul membawa sesaji. Oleh Kanjeng Sunan Kali tata cara melakukan sesaji diubah. Sesaji dibikin setelah itu diberikan kepada orang-orang yang datang untuk dibawa pulang untuk dimakan bersama keluarga. Setelah rakyat diberi pengertian selamatan diganti nama dengan sodakoh. Rakyat mengikuti Kanjeng Sunan Kali. Untuk memantapkan keyakinan, karena Kanjeng Sunan Kali melihat rakyat masih percaya benda-benda berkekuatan gaib, dengan memohon kepada Allah beliau mencipta benda berkekuatan gaib untuk menarik hati rakyat Kanjeng Sunan Kali memohon dengan melakukan sholat tengah malam. Ketika beliau melakukan sholat malam ada daun jatuh dihadapannya. Daun tersebut bertuliskan kalimah sahadat. Maka beliau memohon supaya benda itu bisa dilihat banyak orang sebagai benda berkuatan gaib. Atas kehendak Allah, daun itu dicipta menjadi suatu bentuk pakaian yang bisa memancing hati rakyat. Pakaian yang tercipta dari daun itu diberi nama Kutang Onto Kusuma).

Terciptanya Pacul (cangkul)

Selain kelebihan-kelebihan yang secara khusus telah diceritakan oleh Ki Ageng Raga Sela masih banyak kelebihan beliau yang dapat penulis pahami dari beberapa kejadian yang diceritakan oleh Kanjeng Sunan Kali sendiri. Pada konsultasi yang penulis lakukan pada tanggal 14 Pebruari 2004 beliau menceritakan sebagai berikut, Nalika semono ingsun wis pinaringan kekuatan lahir batin dening panjenengane Bapa Kanjeng Sunan Bonang. Ingsun njajah desa milang kori sakukubaning Kadilangu kang tundone bisa mangerteni kahanane para kawula ing Kadilangu. Jaman semono pawongan ing kono isih cubluk. Ingsun rumangsa prihatin ningali kahananing para kawula. Nalika ingsun lan para cantrik njajah desa milang kori sakukubane Kadilangu, ing pinggiring desa ana pawongan lagi ngolah siti. Anggone ngolah siti migunakake alat-alat jugilan kaya linggis. Kapara ingsun maspadakake. Cantrik ndangu marang pawongan kanti pitakon lagi nglakokake apa. Pawongon iku njawab pitakone cantrik yen deweke lagi ngolah siti sing bakal ditanduri kanti mawa cara kajugil-jugil. Cantrik nuli takon kaya mangkono iku rampunge pirang ndina. Pawongan njawab pitakone cantrik rampunge mbutuhake wektu telung puluh telu dina. Sawuse telung puluh telu dina cantrik telu keduwung nggatekake kahanan rampunge jejugilan. Sarampunge telung puluh telu dina among rampung sak kotak. Ingsun terus mejang. Ing jaman iku durung ana sarana kanggo ngolah siti. Saka kersaning Gusti Kang Maha Agung Maha Suci ingsun nyipta wewujudane alat kanggo ngolah siti. Ngolah siti kanggo ngreka daya supaya pawongan Kadilangu kepencut manut ajaraning agama Islam. Kanti sinidikara ingsun nyuwun marang Gusti Kang Maha Agung Maha Suci. Anggone ingsun nyipta iku kaya dene nyipta tembung – sajleg dadi alat kang aran pacul. Kang tundone pacul digunakake supaya gegayuhane kasembadan. Mengkene werdining pacul : ing sajroning pacul ana telung perkara yaiku pacul, bawak lan doran. Kaping pisan, saka tembung pacul iku tegese nyiptaake barang kang muncul. Nyingkirake barang kang ora becik kang muncul utawa nongol. Kang ora rata kudu diratakake uga ngilangi perkara kang ora becik. Mangkono iku yen kepingin gegayuhane kasembadan. Kanggo nggayuh kanugrahan kudu bisa nyiptake kang muncul. Nyingkirake kang ora apik. Para pawongan bisa nampa piterangan ingsun. Kaping pindo, kang ora bisa pinisah saka kahananing pacul yaiku bawak. Bawak iku ateges obahing awak. Sawise nyingkirake perkara kang ora becik utawa ngipatake kang muncul supaya pikantuk kanugrahan iku kudu terus ngobahake awak ateges sregep mbudi daya kanti nggunaake akal pikiran kepiye bisane kecekel sing dikarepake. Kanti pamikir apa-apa kang wis sumadya digunakake kanggo mbudi daya sahingga obah awake. Obahing awak iku dalan anggone bisa nggayuh kanugrahan. Tanpa obahing awak ora bakal kanugrahan iku jumedul karepe dhewe. Dadi kanugrahan iku kudu diupaya kanti obahing awak (bawak). Kaping telu iku doran. Pacul, bawak lan doran iku telung perkara kang bisa pinisah dhewe-dhewe. Tanpa doran pacul lan bawak ora bakal migunani. Semono uga doran lan bawak tanpa pacul angel anggone nggunakake. Bisa diarani telu-teluning atunggal. Barang telu kang kudu tansah manunggal. Doran iku, bisa diudari dadi tembung ndonga ing pengeran. Nyuwun marang Gusti Kang Maha Agung Maha Suci. Amarga apa kang kedaden iku ya mung kersane Gusti Kang Maha Agung Maha Suci. Tanpa ndonga apa kang dilakokake ora ana paedahe, tanpa guna. Ora ana berkah. Manunggaling kang katelu iku bisa mujudake tumuruning kanugrahan. Ateges gegayuhaning kabeh kasembadan. Yen wus kasembadan gegayuhanira pada karo mbukak payung kang tundone kanggo pangiyuban bisa mayungi anak bojo, kadang lan mitra njur adem kahanane. Mangkono iku gegambaraning pacul minangka sanepa tuntunaning agama Islam. Tumuruning kanugrahan mbutuhake pambudi doyo kanti ora ninggal syari’at. Insya Allah, yen manungsa iku bisa nyekeli werdining pacul, Gusti Kang Maha Agung Maha Suci bakal paring kanugrahan”. (Ketika itu saya telah diberi kekuatan lahir batin oleh Bapa Kanjeng Sunan Bonang. Saya berkeliling desa di daerah Kadilangu yang akhirnya bisa mengetahui keadaan rakyat di Kadilangu. Waktu itu rakyat di situ masih bodoh. Saya prihatin melihat keadaan mereka. Ketika saya beserta para cantrik berkeliling di desa di daerah Kadilangu di pinggir desa ada orang sedang menggarap tanah. Cara orang itu mengolah tanah menggunakan alat jugilan seperti linggis. Saya pun memperhatikan. Cantrik bertanya kepada orang itu dengan pertanyaan sedang melakukan apa. Orang itu menjawab pertanyaan cantrik bahwa ia sedang menggarap tanah untuk ditanami dengan cara dijugil-jugil. Catrik pun bertanya lagi, dengan cara seperti itu bisa selesai berapa hari. Orang itu menjawab pertanyaan cantrik, bahwa sampai selesai memerlukan waktu tiga puluh tiga hari. Setelah tiga puluh tiga hari cantrik merasa kasihan memperhatikan keadaan tanah yang telah diolah. Sampai tiga puluh tiga hari hanya terselesaikan satu petak. Saya kemudian memberi wejangan. Pada waktu itu belum ada sarana untuk menggarap tanah. Atas kehendak Allah, Tuhan yang Maha Agung Maha Suci, saya mencipta suatu bentuk alat untuk menggarap tanah. Mengolah tanah untuk mengupayakan agar rakyat Kadilangu tertarik mengikuti ajaran Islam. Dengan bersemedi saya memohon kepada Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci. Cara saya mencipta alat itu bagaikan mengucap sebuah kata – seketika itu jadilah alat yang diberi nama pacul (cangkul). Kemudian cangkul digunakan supaya keinginan bisa terwujud. Berikut ini makna pacul. Pada pacul itu terdapat tiga hal yaitu pacul, bawak dan doran. Yang pertama kata pacul bermakna ngipatake barang kang muncul – membuang sesuatu yang muncul. Menyingkirkan barang tidak baik yang muncul atau nongol. Yang tidak rata diratakan juga bermakna menghilangi hal yang tidak baik. Begitulah kalau ingin yang diharapkan bisa tercapai. Untuk mendapat anugrah harus bisa membuang, melempar jauh barang jelek yang muncul. Menyingkirkan hal yang tidak baik. Orang-orang bisa menerima keterangan saya. Kedua, yang tidak bisa dipisahkan dari cangkul yaitu bawak. Bawak itu berarti obahing awak atau bergeraknya badan. Setelah menyingkirkan hal yang tidak baik atau ngipatake kang muncul supaya mendapatkan kanugerahan itu harus terus menggerakkan badan berarti rajin berupaya dengan menggunakan akal pikiran bagaimana bisa mendapatkan apa yang diharapkan. Dengan pikiran apa saja yang telah tersedia digunakan untuk berusaha sehingga badan ini tergerak atau obah awake. Tergeraknya badan itu merupakan jalan untuk mendapat anugrah. Tanpa menggerakkan badan tidak akan mungkin anugrah itu muncul dengan sendirinya. Jadi anugrah itu harus diupayakan dengan tergeraknya badan – obahing awak.Yang ketiga itu doran. Pacul, bawak dan doran itu tiga perkara yang tidak bisa dipisah-pisah. Tanpa doran, pacul dan bawak tidak berguna. Demikian juga doran dan bawak tanpa pacul sukar menggunakannya. Bisa dikatakan tiga hal yang menyatu. Tiga macam benda yang harus selalu disatukan. Doran, itu bisa diurai menjadi kata ndonga ing Pangeran. – berdoa kepada Tuhan. Memohon kepada Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci. Karena apa yang terjadi hanyalah kehendak Tuhan. Tanpa berdoa apa saja yang dilakukan tidak berpaedah, tanpa guna. Tidak membawa berkah. Bersatunya ketiga hal itu bisa mewujudkan turunnya anugerah. Berarti semua keinginan tercapai. Kalau sudah tercapai keinginanmu seperti hanlnya membuka payung yang selanjutnya untuk berteduh bisa melindungi – mengayomi anak istri saudara dan teman, kemudian sejuk suasananya. Begitu itulah perumpamaan tentang pacul sebagai ibarat tuntunan agama Islam. Turunnya anugerah memerlukan upaya dengan tidak meninggalkan syari’at. Insya Allah kalau manusia bisa memegangi makna pacul, Tuhan akan memberikan anugerah.

MENDIRIKAN MASJID DEMAK

Salah satu peninggalan sejarah para wali Allah yang bisa kita nikmati hingga saat ini adalah Masjid Agung Demak Bintoro. Masjid Agung Demak menjadi terkenal, tidak saja karena masjid ini dibangun oleh para wali, tetapi karena salah satu saka gurunya terbuat dari serpihan-serpihan kayu tatal hasil karya Kanjeng Sunan Kalijaga yang dikenal dengan sebutan “soko tatal”. Apa maksud dan tujuan dari keanehan ini penulis telah memperoleh informasi baik dari Ki Ageng Raga Sela maupun Kanjeng Sunan Kali sendiri. Berikut ini penuturan Ki Ageng Raga Sela kepada penulis dalam konsultasi pada tanggal 20 Pebruari 2004, “…Rikala jaman semana tahun 1401 Saka utawa yen ditengeri tahun Masehi ya tahun 1467. Para wali Allah kanti saiyeg saeko praya ngedegake Masjid Agung Demak. Para wali sajroning pamikir mbudi daya kepriye supaya Masjid bisa kuat. Sunan Bonang, Sunan Ampel uga Sunan Gunung Jati utusan cantrik supaya gawe saka guru patengahan telu cacahe. Sawise kang kaya mangkono, panjenengane Kanjeng Sunan Kali nduweni penggalih kurang prayogo. Yen saka guru mung telu iku mesjid kurang kuat. Kanjeng Sunan Kali sedakep nyuwun marang Gusti Kang Maha Agung Maha Suci supaya bisa gawe siji maneh. Sarampunge sinidikara Kanjeng Sunan Kali nglumpukake para cantrik. Para cantrik kuwi didawuhi supaya nglumpukake tatal. Para cantrik rumangsa bingung awit sing dibutuhake saka guru kok malah didawuhi nglumpukake tatal. Cantrik pitakon kangge punapa. Kanjeng Sunan Kali sinidikara kaya dene paring wewejangan marang para cantrik sakukubane para wali Allah. Tatal kang sumebar supaya diklumpukake didadekake saka guru. Cantrik kadawuhan supaya tanggap. Tatal kang sumebar iku sajatine nggambarake agama lan keyakinan ing tanah Jawa iku sumebar akeh cacahe mula supaya dikumpulake dadi siji ditaleni kanti ajaran Islam supaya dadi cekelan kang gumathok kang tundone bisa dadi kuwat. Kuwat amarga kang cilik-cilik saiyeg saeko praya njunjung kahaning perkara. Santri ngetut wuri, tatal katata, sawuse akeh Kanjeng Sunan Kali ngupadi kulit kanggo mbungkus tatal iku mau. Awit saka dayaning panyuwun Kanjeng Sunan Kali satemah tatal bisa dadi saka guru kang luwih apik katimbang sing digawe Sunan Ampel, Sunan Bonang lan Sunan Gunung Jati. Para wali lan cantrik saiyeg saeka praya ngedegake saka guru papat. Sawuse masjid bisa ngadeg Kanjeng Sunan Kali nyuwun supaya pinaringan pituduh. Tanpa kanyana-nyana ana kewan bulus teka. Diwaspadakake bulus kaya dene mangerteni penggalihe Kanjeng Sunan Kali. Kanjeng Sunan Kali tanggap ing sasmita menawa bulus iku dudu sabaene bulus. Kewan bulus iku wewujudane kewan sing bisa urip ing dedaratan lan ing sajroning banyu. Kahanan iku nggambarake yen panjenengane Kanjeng Sunan Kali iku bisa momong para kawula sajroning kahanan kang beda-beda tata carane. Bulus ditempelake ana ing mihrobing masjid sawise masjid ngadeg. Kewan bulus iku dadi pathokaning perkara mijiling Masjid Agung Demak. Kewan bulus iku nduweni arti mengkene; endase bulus pada karo siji, sikile ana papat, awake bulus bunder ateges nol lan buntute siji, satemah bulus kanggo pangeling-eling tahun 1401 Saka. Sawise dadi masjid kang gumleger para wali Allah pada bingung kiblate endi. Gandeng para Sunan kabeh tansah bingung, panjenengane Kanjeng Sunan Ampel ngendika supaya kahanan iku pinaringake marang Jebeng Sunan Kali. Panjenengane Sunan Kali njur nimbali siswane kang aran Mbah Haji Sonhaji supaya mbolongi tembok. Digoleki papan dunung sing bisa dibolongi. Yen ana kahanan kang nyolowadi anggone mbolongi tembok yaiku kiblate. Mbah Haji Sonhaji ngestoake dawuh mbolongi tembok. Sajroning bolongan tembok ana wewujudane gambar Masjidil Haram ing Mekah. La iku nyolowadi mula bolongan iku katetepake kiblate masjid. Mbah Haji Sonhaji mbolongi tembok satemah katingal Masjidil Haram”. (…Ketika itu tahun 1401 Saka atau kalau menggunakan hitungan Masehi tahun 1467. Para wali Allah bersama-sama mendirikan Masjid Agung Demak. Para wali berpikir bagaimana agar masjid yang didirikan itu kokoh. Sunan Bonang, Sunan Ampel juga Sunan Gunung Jati mengutus cantrik supaya membuat saka guru tengah sejumlah tiga buah. Setelah itu Sunan Kali tidak sependapat. Kalau saka guru itu hanya tiga masjid kurang kuat. Kanjeng Sunan Kali sedekap meminta kepada Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci supaya mendapat petunjuk bikin satu lagi. Setelah berkontemplasi Kanjeng Sunan Kali mengumpulkan cantrik. Para cantrik disuruh mengumpulkan tatal. Para cantrik merasa bingung karena yang dibutuhkan saka guru kok malah disuruh mengumpulkan tatal. Cantrik bertanya untuk apa. Kanjeng Sunan berkontemplasi sepertinya memberi wejangan kepada para cantrik sekitar para wali. Tatal yang berserakan supaya dikumpulkan dibikin saka guru. Cantrik diminta supaya tanggap. Tatal yang berserakan itu sebetulnya menggambarkan agama dan keyakinan di tanah Jawa itu tersebar banyak jumlahnya maka supaya dikumpulkan jadi satu diikat dengan ajaran Islam supaya bisa menjadi pegangan yang pada akhirnya menjadi kuat. Kuat karena yang kecil-kecil bersatu menjunjung agama Islam. Cantrik mengikuti, tatal ditata, setelah banyak Kanjeng Sunan Kali mencari kulit guna membungkus tatal itu. Karena kekuatan do’a Kanjeng Sunan Kali seketika tatal bisa menjadi saka guru yang lebih baik daripada yang dibuat oleh Sunan Ampel, Sunan Bonang dan Sunan Gunung Jati. Para wali dan cantrik bersama-sama mendirikan saka guru empat. Setelah masjid berdiri Kanjeng Sunan Kali memohon supaya diberi petunjuk. Tanpa diduga-duga ada seekor bulus datang. Ketika diperhatikan bulus itu sepertinya memahami hati Kanjeng Sunan Kali. Kanjeng Sunan Kali tanggap bahwa bulus itu bukan bulus biasa. Bulus itu adalah hewan yang bisa hidup di darat dan di dalam air. Keadaan itu menggambarkan bahwa Kanjeng Sunan Kali itu bisa ngemong/memimpin rakyat di dalam keadaan yang memiliki tata cara hidup yang berbeda-beda. Bulus itu ditempelkan di mihrab masjid setelah masjid berdiri. Bulus itu menjadi patokan berdirinya Masjid Agung Demak. Bulus memilik arti demikian; kepala bulus, satu, kakinya ada empat, badan bulus bundar berarti nol dan ekor satu, maka bulus dijadikan pengingat tahun 1401 Saka. Setelah masjid berdiri kokoh para wali Allah bingung mana kiblatnya. Karena para Sunan pada kebingungan, Kanjeng Sunan Ampel mengatakan supaya hal ini diserahkan kepada Sunan Kali. Kanjeng Sunan Kali kemudian memanggil muridnya yaitu Mbah Haji Sonhaji supaya melubangi tembok. Dicarilah bagian tembok yang bisa dilubangi. Kalau ada kejadian aneh ketika melubangi tembok ya itulah kiblatnya. Mbah Haji Sonhaji melaksanakan tugas melubangi tembok. Di dalam lubang tembok kelihatan bentuk gambar Masjidil Haram di Mekah. Lha itu sesuatu yang aneh, maka lubang itu ditetapkan sebagai arah kiblat Masjid Agung Demak. Mbah Haji Sonhaji melubangi tembok maka tampaklah Masjidil Haram).

Selain informasi atau keterangan dari Ki Ageng Raga Sela sebagaimana penulis kutip di atas, Kanjeng Sunan Kali memberikan tambahan keterangan bahwa untuk mengumpulkan orang banyak yang beraneka macam pendapat dan keyakinannya itu harus selalu berhati-hati. Beliau mengatakan juga bahwa Saka Guru itu merupakan lambang dari kekuatan. Keadaan yang demikian itu hanyalah pengingat bagi umat Tuhan. Dengan berdasar apa pun maka Qur’an dan Hadits adalah dasar utama bagi umat Islam. Apa pun yang telah terjadi itu manusia sekedar mengikuti perjalanan waktu.

Mengenai bulus di mihrab Masjid Demak Kanjeng Sunan Kali memberi penjelasan sebagai berikut, “Aja salah prasangka babagan bulus kang ana ing pangimaman utawa mihrab Masjid Demak. Bulus iku kena diarani barang haram miturut ajaran Islam. Amarga bulus iku kewan kang bisa urip ana ing banyu lan dedaratan. Sejatine bulus ing Masjid Agung Demak nggambarake rong perkara. Sepisan, nggambarake kesucian (Bulus, Bu iku tegese lumebu, Lus iku tegese suci utawa alus. Kanti wewujudan bulus iku ateges sapa bae kang lumebu ing Masjid Demak kudu wis suci lan gelem nyucekake utawa mbersihake pamikir. Kaping pindo, nggambarake sifating Gusti Kang Maha Agung Maha Suci iku ora ana awale ora ana akhire. Ora ana akhire ya ora ana awale. Bulus iku nduweni raga bunder. Barang kang bunder iku ya ora ana awale ora ana akhire. Gusti kang Maha Agung Maha Suci iku ora ana awal ora ana akhire. Mangkono sing dikarepake mula aja nganti salah tampa.

Sajroning agama Budha bulus iku dianggep kewan suci, mula anane bulus ana ing pengimamane Masjid Agung Demak bisa mikut atine para pawongan kang isih percaya marang agama sing biyen. Satemah rumangsa yen agama Islam ya ora akeh bedane kalawan agama Hindu, Budha”. (…. Jangan salah sangka mengenai bulus yang ada di tempat imam atau mihrab Masjid Demak. Bulus itu bisa dikatakan sebagai binatang yang diharamkan menurut ajaran Islam. Karena bulus itu hewan yang hidup di air dan di darat. Sebenarnya bulus di Masjid Agung Demak menggambarkan dua hal. Pertama, menggambarkan kesucian. Bulus berasal dari Bu yang berarti lumebu (masuk), Lus itu berarti halus atau suci. Dengan adanya bulus itu dimaksudkan siapapun yang masuk ke Masjid Demak harus sudah bersuci dan mau mensucikan pikiran. Kedua menggambarkan sifat Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci itu tidak berawal tidak berakhir. Bulus berbadan bundar –bentuk lingkaran – Barang yang bundar itu tidak ada awalnya tidak ada akhirnya. Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci tidak berawal tidak berakhir. Begitu yang dimaksudkan jangan sampai salah paham. Di dalam agama Budha bulus itu dianggap suci, maka adanya bulus di tempat imam – mihrab – Masjid demak dapat menarik hati rakyat yang masih percaya kepada agama yang lalu. Dengan begitu mereka merasa agama Islam tidak banyak berbeda dengan agama Budha).

Masih ada lagi suatu hal yang belum dijelaskan baik oleh Kanjeng Sunan Kali maupun oleh Ki Ageng Raga Sela, yaitu mengenai adanya gambar petir di pintu Masjid demak. Karena itu pada hari Jum’at malam Sabtu tanggal 27 Pebruari 2004 penulis memohon keterangan tambahan kepada Ki Ageng Raga Sela. Penjelasan beliau adalah sebagai berikut: “…..Gambar gludug utawa petir iku nggambarake para wali Allah wis bisa mikut anane wewujudan angkara murka kang tundone kapampang ana korining mesjid supaya para kawula mangerteni kang tumindak angkara murka bisa kapikut. Yen korining mesjid tumuju kainep gambaring petir ketok nanging yen kori kabukak gambaring petir ora ketok ateges ilanging angkara murka. Kang kepara kang kaya mangkono iku yen mesjid dibukak kanti para pawongan lumebu ing papan kang suci mangka angkara murka ana sajabaning pawongan kang wis lumebu. Para pawongan kang wis lumebu agama suci kalis ing sambikala ateges ilanging angkara murka. Petir ingkang mangkono iku kedaden nalika Syeh Siti Jenar kapidana, ing angkasa ana suaraning petir lan bledeg mangampar kanti suarane Syeh Siti Jenar kang ngancam-ngancam para wali Allah lan pandereke. Ingsun pinasrahan supaya ngleremake anane suara kang gawe memalaning para kawula”. (….Gambar petir itu punya makna bahwa para wali Allah telah bisa menangkap adanya angkara murka yang selanjutnya dipampang di pintu Masjid supaya rakyat mengerti bahwa yang bertindak angkara murka bisa ditangkap. Ketika pintu Masjid ditutup gambar petir kelihatan tetapi ketika pintu Masjid dibuka gambar petir tidak kelihatan bermakna hilangnya angkara murka. Yang demimkian itu bermakna apabila Masjid dibuka dan orang-orang masuk ke tempat suci ini maka angkara murka berada di luar diri orang yang masuk ke Masjid. Orang-orang yang telah masuk agama suci terbebas dari mara bahaya berarti hilangnya angkara murka. Petir yang dimaksud itu terjadi ketika Syeh Siti Jenar dipidana, di angkasa ada suara petir dan geledeg yang mengampar-ampar dengan suara Syeh Siti Jenar yang mengancam para wali Allah dan pengikutnya. Saya dipercaya untuk meredakan suara yang bikin penyakit rakyat tersebut).

Begitulah yang dapat penulis sampaikan kepada pembaca tentang ikhwal berdirinya Masjid Demak. Terlihat di dalam pembangunan Masjid tersebut adanya kekuatan gaib dan sisi filosofis seperti pembuatan saka (tiang) tatal. Di situ nampak kecuali kekuatan gaib, keanehan adanya serpihan tatal yang bisa menjadi tiang yang kuat juga sisi filosofis yakni kekuatan-kekuatan kecil yang disatukan akan menjadi kekuatan yang besar. Demikian pula tentang penetapan kiblat serta adanya bulus di mihrab Masjid serta gambar petir di pintu masjid memiliki bermacam-macam pengertian.

TUNTUNAN KANJENG SUNAN KALIJAGA

A. Ajaran Seni

Akhir jaman Majapahit bersamaan dengan masa pemerintahan Sultan Demak awal. Sultan Demak waktu itu adalah Raden Patah. Sultan pada waktu itu memberi wewenang kepada Sunan Kalijaga untuk menggempur Majapahit. Menurut keterangan Kanjeng Sunan Kalijaga kepada penulis pada konsultasi tanggal 12 Pebruari 2004 adalah demikian, “….Ingsun pinaringan purba wasesa supaya nggempur Majapahit. Sajatine wektu iku kahanane Majapahit wis porak-poranda kaya dene peksi kang brodol wulune wis ora nduweni kekuatan apa-apa. Apa maneh sak sedane Patih Gajah Mada ora ana sesulihe. Ora ana kang mandegani Majapahit. Mula ora perlu ginebaging banda yuda. Anggone ingsun mundi dawuhing Sultan, ingsun ora nglurug kanti wadya bala sagelar sapapan nanging nyipta wewujudaning tembang yaiku, Lir-Ilir kang ingsun tembangake ana ing ngarsane Sultan lan para punggawaning praja saha para kawula kabeh. Apa sejatine tembang lir ilir iku?

Lir ilir Lir ilir tandure tandure wus sumilir

Tak ijo royo-royo dak sengguh temanten anyar

Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno kanggo masuh dhodotiro

Dhodotiro dhodotiro kumintir bedhah ing pinggir

Ndomono njlumatono kanggo seba mengko sore

Mumpung jembar kalangane

Mumpung padang rembulane

Sorako sorak hiya

Tembang kang ingsun cipta iku minangka sarana kanggo ngelekake raja lan para punggawane uga para kawula kang nduweni teges mengkene

- Lir ilir tandure wus sumilir, nggambarake Islam agama nembe tumancep kaya dene tandur kang wis sumilir

- Tak ijo royo-royo, ijo royo-royo iku lambanging agama Islam

- Dak sengguh temanten anyar, Agama Islam ing tanah Jawa iku agama anyar ibarate kaya dene temanten anyar kang tansah gawe rena. Sapa bae kang ningali temanten anyar iku mesti seneng. Mangkono uga para kawula tanah Jawa ningali agama Islam kaya dene ningali temanten anyar

- Bocah angon bocah angon. Bocah angon iku bocah kang angon, yaiku para punggawa, ya raja kang angon para kawula. Supaya tansah nggatekake lan nuntun para kawulane

- Penekna blimbing kuwi. Cah angon supaya menek blimbing

- Blimbing iku ya gegambaraning rukun Islam. Cah angon penekna blimbing kuwi padha karo supaya para punggawaning praja mbudi daya nyinaoni lan mengerteni ajaraning Islam

- Lunyu-lunyu penekna, senajan lunyua kaya apa supaya menek sahingga pikantuk blimbing. Angela kaya apa supaya tansah mbudi daya kanggo mangerteni lan nindakake rukun Islam

- Kanggo masuh dhodhotira. Dhodhot iku ya ageman. Ageman iku agama. Supaya agamane dibersihake aja nganti dikotori kanti pamikir lan tumindak kang ora becik

- Dhodhotira-dhodhotira kumitir bedhahing pinggir nalika semono agama bedah, rusak porak poranda, ora karu-karuan kahanane. Takhayul kanggo cekelan. Ora ana kang bisa dienggo gocekaning ati. Mula ndomono jlumatono. Agama kudu di dondomi kudu dibenekake supaya bener kahanane. Kanggo seba mengko sore, kanggo nyiapake anggone kabeh bakal ngadep ngarsaning Gusti Kang Maha Agung Maha Suci.

- Mumpung jembar kalangane

- Mumpung padang rembulane, mumpung urip, mumpung isih ana wektu kanggo manguwasi ajaraning Islam agama anyar kang tundone ora keduwung yen mbesuk ngadep ngarsaning Gusti Kang Maha Agung Maha Suci

Sorako sorak hiya

Tegese pada bungah para kawula kang nyekel agama kang anyar, agama kang bener. Para kawula tanah Jawa satemah pada kepencut marang agama Islam

Kang kawitan tembang iku kasebar kanggo ngadepi kawula-kawula kang maneka warna kapercayane kanti bebarengan nggelar ringgit purwa. Para kawula nalika semono isih remen budaya lawas kang wis tumancep yaiku budaya Hindu lan Budha. Angel anggone para kawula ninggalake keyakinane mula ingsun tansah ngati-ati, ibarate njala ora nganti buthek banyune nanging kena iwake. Tundone ngajarake agama tanpa ngrusak suasana agama kang wis ana satemah tanah Jawa katon ijo royo-royo”.

(…Saya diberi wewenag untuk menggempur Majapahit. Sebenarnya keadaan Majapahit waktu itu sudah porak poranda bagaikan burung tak berbulu, tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Apalagi sepeninggal Patih Gajah Mada tidak ada gantinya. Tak ada yang menopang Majapahit. Maka tidak perlu dilakukan penyerangan. Cara saya melaksanakan perintah Sultan, saya tidak melakukan penyerangan tetapi mencipta sebuah tembang yaitu Lir Ilir. Yang saya lantunkan dihadapan Raja/Sultan dan para pejabat kerajaan serta rakyat banyak. Apa sebenarnya tembang Lir Ilir itu?

Lir ilir Lir ilir tandure tandure wus sumilir

Tak ijo royo-royo dak sengguh temanten anyar

Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekna kanggo masuh dhadatira

Dhodotiro dhodotiro kumintir bedhah ing pinggir

Ndomono njlumatono kanggo seba mengko sore

Mumpung jembar kalangane

Mumpung padang rembulane

Sorako sorak hiya

Tembang yang saya ciptakan itu sebagai sarana untuk mengingatkan raja dan pejabat kerajaan juga rakyat banyak yang maknanya demikian

- Lir ilir tandure wus sumilir, menggambarkan Islam agama yang baru datang seperti tanaman padi yang mulai tumbuh

- Tak ijo royo-royo, ijo royo-royo itu melambangkan agama Islam

- Dak sengguh temanten anyar, Agama Islam di tanah Jawa itu sebagai agama baru bagaikan pengantin baru yang selalu bikin senang hati, siapapun yang melihat pengantin baru tentu senang. Demikian juga rakyat di tanah Jawa melihat agama Islam seperti halnya melihat pengantin baru.

- Bocah angon bocah angon. Bocah angon itu anak gembala, yaitu para pejabat, para pemimpin, yaitu raja yang memimpin rakyat supaya raja selalu memperhatikan dan menuntun rakyatnya.

- Penekna blimbing kuwi. Anak gembala supaya memanjat pohon blimbing. Blimbing itu merupakan perumpamaan rukun Islam

- Cah angon penekna blimbing kuwi artinya supaya para pejabat kerajaan berupaya mempelajari dan memahami ajaran Islam

- Lunyu-lunyu penekna, walaupun licin seperti apapun agar memanjat sehingga mendapatkan blimbing. Sesukar apapun supaya berupaya untuk memahami dan mengerjakan rukun Islam

- Kanggo masuh dhodhotira. Dhodhot itu pakaian. Pakaian itu agama, supaya agama mereka dibersihkan, jangan sampai dikotori dengan pikiran dan tindakan yang tidak baik

- Dhodhotira-dhodhotira kumitir bedhahing pinggir. Ketika itu agama rusak, porak poranda. Keadaannya tidak karuan. Takhayul menjadi pegangan.tak ada yang bisa dijadikan pegangan bagi hati

- Ndomono njlumatono. Agama ibarat pakaian harus dijahit, harus dibetulkan supaya menjadi benar

- Kanggo seba mengko sore, untuk mempersiapkan diri menghadap Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci

- Mumpung jembar kalangane

- Mumpung padang rembulane, selagi hidup, mumpung ada kesempatan untuk menguasai ajaran Islam sebagai agama baru pada akhirnya tidak menyesal pada saat manghadap Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci.

- Sorako sorak hiya.maknanya rakyat bergembira karna telah memegangi agama baru, agama yang benar. Rakyat tanah Jawa seketika itu terpikat hatinya pada agama Islam

Yang pertama kali tembang itu disebar luaskan untuk menghadapi rakyat yang beragam kepercayaannya dengan bersama-sama menggelar wayang purwa. Rakyat pada waktu itu masih mencintai kebudayaan lama yang telah tertanam yaitu budaya Hindu dan Budha. Sulit bagi mereka untuk melepaskan keyakinan mereka maka saya berhati-hati, ibarat menjala ikan tidak sampai keruh airnya tetapi ikan bisa ditangkap. Akibatnya bisa mengajarkan agama baru tanpa merusak suasana agama yang sudah ada agama lebih dahulu. Dan tampaklah tanah Jawa hijau royo-royo).

Pada kesempatan yang berbeda yakni pada konsultasi yang penulis lakukan pada tanggal 23 Februari 2004 Kanjeng Sunan Kalijaga menambahkan keterangan sebagai berikut, “…Ingsun bebarengan para wali nyiptakake wayang. Wayang kang Ingsun cipta bebarengan panjenengane Sunan Ampel, Sunan Bonang lan Sunan Giri iku kanggo sarana nyebarake agama Islam. Manungsa nalika semana isih maneka warna kahanane, remen lan durung bisa ninggalake budaya Hindu Budha. Wayang kang Ingsun cipta bebarengan iku wewujudane punakawan papat cacahe. Panjenengane Sunan Ampel nyiptakake Semar. Sunan Giri nyiptakake Gareng. Sunan Bonang nyiptakake Petruk lan ingsun nyiptakake Bagong.

Semar iku saka tembang simar. Simar iku tegese paku. Tatananing agama Islam iku kaya dene paku tinancep ing wewujudaning kayu, kenceng ora obah. Gareng kang dicipta dening panjenengane Sunan Giri iku saka tembung Nala Qorin tegese tansah ngupadi kanca bala kang akeh. Manungsa urip iku becike duwe kanca bala kang sak akeh-akahe. Kena diarani bala sewu iku sithik nanging mungsuh siji bae iku akeh. Panjenengane Sunan Bonang nyipta Petruk, saka tembung Fatruk kulu man siwalahi………………….…… tegese ninggaake sakabehing perkara kajaba Gusti Kang Maha Agung Maha Suci. Kena diarani sumarah lan pasrah marang kersaning Gusti. Apa bae kang kedaden iku ya among kersaning Gusti. Ingsun nyipta Bagong saka tembung ba gha tegese lucut utawa brontak ateges mbrontaki perkara-perkara kang ndolim. Dene kang katela ingsun nate dadi dhalang. Dhalang saka tembung da la. Tembung iku ingsun pundut saka Hadits yaiku

Kang tegese sapa wonge kang paring pituduh kabecikan Insya Allah pawongan iku pada karo nglakoni kabecikan. Dhalang uga saka tembung ngudal piwulang.

Ingsun nate paring piweling yaiku

1. Aja gawe omah kanti payon lemah yaiku gendeng

Lemah iku asal usule manungsa. Manungsa yen wis mati bali maneh dadi lemah. Kang kapara wong kang isih urip aja pinayungan wong mati. Tegese aja nganti mati sajroning urip. Wong urip iku aja nganti mati pamikire lan mati pambudi dayane. Nganti seprene ing Kadilangu lan Muria isih ana pawongan kang nyekeli kahanan iki. Ora gawe omah kanti payon gendeng nanging nganggo welit. Kahanan kang kaya mangkono iku kanggo patokan jaman semono. Ing jaman saiki wis ora treb.

2. Ingsun kaya dene paring pangeling-eling aja nganggo sarung palekat.

Sarung palekat iku agemane bangsa Arab. Kang insun karepake para kawula tanah Jawa aja ngetut wuri adate bangsa Arab jaman semono. Awit bangsa Arab jaman semono iku murang tata, ngugu karepe dhewe.

3. Dadi manungsa iku bisa tapa ngeli.

Tapa ngeli iku ya sajroning banyu. Dadi kawula iku kudu bisa ngetut wuri lakuning banyu nanging ora kentir, kudu bisa ngetutwuri umume kahanan nanging ora kapikut ing kahanan amarga tansah mangerteni dhodhok selehe perkara.

( Saya bersama para wali menciptakan wayang. Wayang yang saya ciptakan bersama Kanjeng Sunan Ampel, Kanjeng Sunan Bonang dan Sunan Giri itu untuk digunakan sebagai sarana menyebarkan agama Islam. Manusia ketika itu masih beraneka ragam kepercayaannya, sangat mencintai dan belum bisa meninggalkan budaya Hindu Budha. Wayang yang kami ciptakan itu berupa empat punakawan. Kanjeng Sunan Ampel menciptakan Semar, Kanjeng Sunan Giri menciptakan Nala Gareng. Kanjeng Sunan Bonang menciptakan Petruk dan saya sendiri menciptakan Bagong.

Semar itu berasal dari kata simar. Simar itu berarti paku. Tatanan agama Islam itu seperti paku tertancap dikayu, kuat tidak bergerak. Nala Gareng yang diciptakan oleh Kanjeng Sunan Giri itu dari kata Nala Qorin, yang artinya mencari teman sebanyak mungkin. Manusia hidup sebaiknya punya banyak teman bisa dikatakan teman seribu orang itu sedikit sedangkan musuh satu orang saja itu sudah banyak. Kanjeng Sunan Bonang menciptakan Petruk dari kata Fatruk kuluman siwalahi……………

Artinya meninggalkan semua perkara kecuali Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci. Bisa dikatakan berpasrah kepada kehendak Tuhan. Apa saja yang terjadi adalah kehendak-Nya.

Saya menciptakan Bagong, berasal dari kata ba gha artinya brontak maksudnya memberontak kedhaliman. Tertulis dalam sejarah bahwa saya pernah menjadi dhalang. Dhalang berasal dari kata da la. Kata itu saya ambil dari Hadits Rasulullah yaitu :

Artinya : Siapapun yang memberi petunjuk kebaikan Insya Allah sama halnya orang itu melakukan kebaikan. Dhalang juga berasal dari kata-kata ngudal piwulang, memberikan ajaran.

Saya pernah memberikan peringatan yaitu :

1. Jangan membuat rumah dengan atap tanah atau genting.

Tanah itu merupakan asal usul manusia. Manusia setelah meninggal kembali menjadi tanah. Maksud dari nasihat ltu adalah orang hidup jangan berlindung kepada orang yang sudah meninggal. Janganlah mati di dalam hidup ini. Orang yang masih hidup jangan sampai mati pikirannya dan mati semangat usahanya. Sampai saat ini di Kadilangu dan Muria masih ada orang yang memegangi nasihat ini. Mereka tidak membikin rumah dengan atap genting tetapi dengan welit (daun rumbia).

2. Saya memberikan nasihat jangan mengenakan sarung palekat.

Sarung palekat itu pakaian ciri khas bangsa Arab. Yang saya maksud rakyat tanah Jawa jangan mengikuti adat istiadat bangsa Arab waktu itu. Karena bangsa Arab waktu itu tidak punya sopan santun, menuruti hawa nafsunya, semau gue.

3. Hendaklah bisa bertapa ngeli.

Tapa ngeli itu didalam air. Jadi orang harus bisa mengikuti arus air tetapi tidak hanyut, harus bisa mengikuti yang umum terjadi pada jamannya tetapi tidak terhanyut oleh keadaan itu karena selalu memahami duduk persoalan yang dihadapi.

Kecuali menciptakan wayang, empat punakawan, seperti telah diuraikan didepan Kanjeng Sunan Kali sekaligus menjadi dalang. Cerita yang ditampilkan beliau susun sendiri. Penuturan beliau tentang hal ini penulis peroleh pada konsultasi Jum’at malam tanggal 27 Pebruari 2004 sebagai berikut, “….Kapara kanggo pengeling-eling ingsun nate dadi dhalang. Anggone ingsun ndalang ingsun nyipta lelakon kanti babad ingsun dhewe yaiku babad Lokajaya. Rikala semono jejer carita ana negara Ngamarta. Kang ngasto bawat pangadilaning praja yaiku Prabu Darma Kusuma, Yudhistira ya Puntadewa. Rikala semono Raden Lokajaya tinimbalan ana kedaton Praja Ngamarta supaya mbrasta angkara murka lan gawe titi tentreming praja. Setemah kang kaya mangkono para kawula tansah mirengake. Kahanan kang kaya mangkono nggambarake kasunyatan ingsun dhewe. Sawise Lokajaya tinimbalan, Darma Kusuma ningali kridhaning Raden Lokajaya gawe mareming penggalih. Prabu Puntadewa mbombong kanti paring serat kang aran Serat Jamus Kalimasada. Sawise Raden Lokajaya nampa Serat Jamus Kalimasada satemah Prabu Puntadewa ilang sanalika saka dayaning Jamus Kalimasada. Ilanging Darma Kusuma ateges ilanging agama lawas, agama kang percaya marang para dewa. Prabu Puntadewa iku pinercaya pangejawantahing dewa. Ilanging Darma Kusuma Raden Lokajaya nggawa Jamus Kalimasada. Kalimasada iku sejatine ya gegambaraning sahadatain ateges kanti lelakon iku ya jumeduling sahadatain. Satemah kalimasada kanggo pusaka lan ageman kang diridhoi Allah. Para kawula geger uyel pada tansah mirengake lelakon Babad raden Lokajaya iku. Lelakon iku tansah diremeni lan dipirengake dening para kawula. Satemah kanti kahanan iku para nayaga tansah nenabuh gamelan. Kang tinabuhan ana unine kendang, kenong, giur, kempul, gender lan sapanunggalane. Yen diwaspadakake kanti pratitis unine tetabuhan iku mengkene – ndang-ndang keneyo-keneyo pada giur kumpul-kumpul. Ndang mangkene pada kumpul ambyur lumebu agama kang suci. Mangkono iku syiaring agama kanti lelakon carita wayang”.

(..…Untuk bisa di kenang bahwa saya pernah menjadi dalang. Ketika saya mendalang saya menyusun cerita tentang riwayat saya sendiri yaitu Babad Lokajaya. Ketika itu adegan cerita di negeri Ngamarta. Yang memegang pemerintahan yaitu Prabu Darma Kusuma, Yudhistira juga disebut Puntadewa. Saat itu Raden Lokajaya dipanggil ke kerajaan Ngamarta untuk memberantas angkara murka dan membikin tentram negeri Ngamarta. Dengan cerita yang semacam itu rakyat selalu mendengarkan. Hal ini menggambarkan kenyataan saya sendiri. Setelah Lokajaya dipanggil, Darma Kusuma menyaksikan kerja dari Raden Lokajaya memuaskan hati Prabu Darma Kusuma. Prabu Puntadewa membuat senang hati Lokajaya dengan memberinya hadiah. Raden Lokajaya diberi sebuah surat yang bernama Serat Jamus Kalimasada seketika itu Prabu Puntadewa menghilang (lenyap) terkena kekuatan Jamus Kalimasada. Hilangnya Darma Kusuma berarti hilangnya agama lama. Agama yang percaya kepada para dewa. Prabu Puntadewa itu juga dipercaya sebagai penjelmaan dewa. Bersamaan hilangnya Prabu Darma Kusuma Raden Lokajaya membawa Jamus Kalimasada. Kalimasada itu sebenarnya adalah menggambarkan sahadatain berarti dengan cerita itu munculnya Sahadatain. Maka kalimasada digunakan sebagai pusaka dan pakaian yang diridhai Allah. Rakyat banyak ramai membicarakan dan mendengarkan selalu cerita Babad Raden Lokajaya itu. Cerita itu selalu digemari dan didengarkan rakyat banyak. Dengan keadaan semacam itu para nayaga atau penabuh gamelan selalu menabuh gamelan. Yang ditabuh itu ada suara kendang, kenong, giur, kempul, gender dan lain-lainnya. Kalau diperhatikan dengan seksama bunyi dari tabuhan gamelan itu seperti ini – ndang-ndang keneyo artinya cepat-cepat kesini pada giur kumpul-kumpul, untuk bersama-sama berkumpul. Cepatlah kemari bersama berkumpul segera masuk agama yang suci. Begitulah menyiarkan agama melalui cerita wayang).

B. Ajaran Tata Negara

Dikatakan oleh Ki Ageng Raga Sela bahwa Kanjeng Sunan Kalijaga disamping seorang wali Allah yang memiliki banyak kesaktian dan kewaskitaan beliau juga ahli ilmu falak dan ahli tata negara. Di sebagian besar kota di daerah pesisir tata letak bangunan pusat pemerintahan masih mengikuti rancangan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Berikut ini keterangan beliau mengenai tata letak bangunan pusat pemerintahan tersebut, “……Jaman semana ing saben kadipaten ana wewujudane bangunan kedaton, alun-alun, masjid lan pakunjaran kanggo dedasaring gambaraning urip kanti tata caraning pamarentahan.

Kedaton iku papaning raja kang ngatur pamarentahan lan paring pengayoman, nuntun uga paring pengadilan marang para kawula kabeh. Mula sangareping kedaton ana wewujudane alun-alun, papan kang jembar kanggo pakumpulaning para kawula. Sawektu-wektu ana kaperluaning pamarentahan para kawula bisa kakumpulake sahingga raja bisa paring sabda apa bae kanti dimirengake para kawula kabeh. Raja paring pituduh kanti sak jembaring alun-alun.

Ing sisih kulone alun-alun ana bangunan masjid kang ateges, raja nuntun marang kawula pinangka pangayomaning urip nylametake para kawula lahir tumusing batin. Raja nuntun para kawula ngadep ngabekti marang ngarsaning Gusti Kang Maha Agung Maha Suci sahingga pikantuk kaberkahing kabeh, bisa mujudake baldatun toyibatun wa robbun ghafur, negara kang titi tentrem kerta raharja pikantuk ridhaning Gusti Kang Maha Agung Maha Agung Maha Suci.

Pakunjaran ateges raja kudu bisa paring pengadilan marang para kawula kanti ora mbedak-mbedakake. Sing sapa salah bakal seleh ana papane dhewe. Pakunjaran kanggo paring pahukuman marang sapa bae kang tumindak ora becik utawa nerak angger-angger hukuming negara.

Kedaton iku ngadepake segara tegese raja utawa punggawaning praja kudu nduweni ati jembar kaya jembaring segara anggone ngadepi para kawula kang maneka warna kahanane, beda-beda tata carane. Ateges para pangembating praja kudu nduweni watak sabar, bisa ngemot utawa momot kahananing para kawula.

Kedaton iku ngungkurake gunung. Kang kaya mangkono iku nggambarake raja utawa punggawapraja kudu bisa ngungkurake utawa ninggalake watak adigang-adigung. Ora kena raja utawa punggawaning praja tumindak nggugu karepe dhewe, nyalahgunakake panguwasane. Senajan nduweni kekuatan ora tansah tumindak sawenang-wenang lan nindes para kawula cilik sing ora nduweni kekuatan.

Nah mangkono iku anggone ingsun nata bawat pamarentahan. Mula bisaha para kawula mangerteni kersane para wali Allah anggone tansah nuntun tumuju marang kabecikan”.

( Pada jaman itu di setiap kadipaten ada bentuk bangunan kedaton, alun-alun, masjid dan penjara untuk dasar gambaran kehidupan dengan tata cara pemerintahan.

Kedaton itu tempat tinggal raja yang mengatur pemerintahan dan memberi pengayoman, menuntun juga memberikan pengadilan kepada semua rakyat. Maka di depan kedaton ada bentuk alun-alun, tempat yang longgar untuk berkumpul rakyat. Sewaktu-waktu ada keperluan pemerintah rakyat bisa dikumpulkan sehingga raja bisa memberikan perintah/sabda apa saja dengan bisa didengarkan rakyat semua. Raja memberi petunjuk dengan seluas alun-alun.

Di sebelah barat alun-alun ada bangunan masjid yang berarti raja menuntun rakyat sebagai pengayoman dalam kehidupan menyelamatkan rakyat lahir batin. Raja menuntun rakyat menghadap beribadah kepada Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci sehingga semuanya mendapatkan keberkahan, bisa mewujudkan baldatun toyibatun wa robbun ghafur, negara yang tentram aman sentosa mendapat ridha Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci.

Penjara berarti raja harus bisa memberikan keadilan kepada rakyat dengan tidak membeda-bedakan. Siapa yang bersalah akan diberi hukuman ada tempatnya tersendiri. Penjara untuk memberi hukuman kepada siapa saja yang berbuat jahat atau melanggar aturan hukum negara. Kedaton itu menghadap ke arah laut artinya raja atau pejabat negara harus berhati lapang bagaikan luasnya laut dalam menghadapi rakyat yang keadaannya beraneka ragam, berbeda-beda tata caranya. Berarti pengendali negara harus memiliki sifat sabar, bisa menyerap atau menampung keadaan rakyat.

Kedaton itu membelakangi gunung. Yang demikian itu menggambarkan raja atau pejabat kerajaan harus bisa meninggalkan sifat adigang-adigung atau congkak. Tidak boleh raja atau punggawa kerajaan mengandalkan kekuasaannya. Walaupun memiliki kekuatan tidak berbuat sewenang-wenang dan menindas rakyat kecil yang tidak punya kekuatan.

Nah begitulah cara saya mengatur pemerintahan. Maka saya harapkan rakyat semua memahami kehendak para wali Allah dalam rangka selalu menuntun kepada kebaikan).

Penjelasan tentang dasar-dasar tata cara pemerintahan yang disampaikan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga ini penulis peroleh pada konsultasi tertanggal 26 Pebruari 2004.

Kecuali Rancangan/tata bangunan pemerintahan Kanjeng Sunan Kalijaga juga memberikan prinsip-prinsip dasar di dalam memimpin rakyat. Prinsip-prinsip tersebut adalah Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani. Tentang hal ini beliau sampaikan kepada penulis demikian, “… ….Kahanan jaman semono sajatine wus katetepake ana wewujudane panguwasaning Nagari Demak. Para wali ngersakake Raden Patah supaya tansah paring tuladha sahingga anggone mangun nagari kawula-kawula tansah rengkut lan nyengkuyung kang tundone katrepake ular-ular kanggo para raja utawa punggawaning praja kanti adedasar Ing Ngaro Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa lan Ngetut Wuri Handayani. Kanti kang kaya mengkono kang dikarepake supaya para raja nduweni watak bir budi bawa leksana, asah-asih-asuh. Raja iku kudu bisa nuntun kawulane. Paring tuntunan kang becik iku ora mung paring dhawuh nanging kudu kanti conto utawa tepa palupi. Apa bae kang ditindakake dening punggawaning praja kudu tansah dadi kaca benggala tumpraping para kawula. Ing Madya Mangun Karsa ateges raja utawa punggawaning praja ana satengahing para kawula kudu bisa gawe becike uripe para kawula. Kebutuhane para kawula kudu tansah pinikirake. Raja dadi pepayunging kawula tansah paring pitulung marang kawula kang mbutuhake saha bisa gawe tentrem ayom-eyeming kawula. Kang kaya mangkono iku ibarat aweh boga wong kang kaluwen, aweh sandang kang kawudan, aweh teken marang wong kang wuta uatawa aweh obor marang pawongan kang nandang pepeteng. Ngetut Wuri Handayani iku kang luwih trep. Awit raja anggone momong kawulane ora mung tansah ngetut wuri.Amarga yen para punggawaning praja among ngetut wuri malah ora becik wusanane. Raja kudu bisa paring pepatokan kanti netepake hukuming nagari. Ambeg adil para marta iku dedasare. Sapa bae kang gedhe lelabuhane tumpraping nagari iku kang pantes nampa ganjaran dene kang tumindak nerak angger-anggering nagara pikantuk pidana sak murwate. Jejering raja ngetut wuri kanti handayani marang para kawula kabeh…” (Keadaan saat itu sebetulnya telah ditetapkan adanya pemerintahan Negara Demak. Para wali menghendaki Raden Patah supaya selalu memberi contoh sehingga di dalam membangun negara rakyat selalu mendukung sepenuhnya karena itu ditetapkan pedoman untuk para raja atau pejabat kerajaan dengan dasar Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani. Dengan itu diharapkan supaya raja memiliki sikap berbudi bawa leksana (bijak), asah-asih-asuh. Raja harus bisa menuntun rakyatnya. Memberikan tuntunan yang baik itu bukan sekedar perintah tetapi harus dengan contoh.

Apa pun yang dilakukan pejabat kerajaan harus selalu menjadi cermin bagi rakyat. Ing Madya Mangun Karsa berarti Raja atau pejabat kerajaan di tengah-tengah rakyat harus bisa membangun kehidupan rakyat yang baik. Kebutuhan hidup rakyat harus selalu dipikirkan. Raja menjadi pelindung rakyat, selalu memberikan pertolongan kepada rakyat yang membutuhkan dan bisa membuat tentram dan bahagia. Yang demikian itu seperti halnya memberi makan orang yang kelaparan, memberi pakaian yang tidak punya pakaian, memberi tongkat orang buta atau memberikan obor pada orang yang kegelapan. Ngetut wuri handayani itu yang lebih tepat. Karena raja di dalam memimpin rakyat tidak hanya ngetut wuri. Karena apabila para pejabat kerajaan hanya ngetut wuri-mengikuti-malah tidak baik akhirnya. Raja harus bisa memberikan pedoman dengan menetapkan hukum negara. Bersikap adil bijaksana itu dasarnya. Siapapun yang berjasa kepada negara pantas mendapat ganjaran sedangkan yang melanggar hukum mendapat hukuman setimpal. Seorang raja ngetut wuri – mengikuti – rakyat dengan memberi aturan hukum dan semangat pada rakyat.

C. Syeh Siti Jenar menurut Sunan Kali

Tentang keberadaan Syeh Siti Jenar sebagian masyarakat berspekulasi bahwa yang ada itu bukanlah seorang tokoh melainkan hanya sebuah mainstream suatu ajaran yang pernah disampaikan oleh Al Hallaj. Memang terdapat persamaan antara ajaran Al Hallaj dengan ajaran Syeh Siti Jenar yakni paham panteisme. Pada saat ini mulai banyak beredar buku-buku tentang Syeh Siti Jenar bahkan merupakan buku-buku yang tergolong best seller. Barangkali karena di era global ini ajaran Syeh Siti Jenar dianggap logis dan praktis maka banyak diminati. Tetapi fenomena larisnya buku-buku mengenai Syeh Siti Jenar merupakan respond masyarakat baik bersikap mendukung maupun hendak mengkritisi ajarannya.

Untuk menepis spekulasi sebagian masyarkat tetang eksistensi Syeh Siti Jenar penulis telah melakukan konsultasi untuk meminta klarifikasi kepada Sang Guru Gaib, Kanjeng Sunan Kalijaga. Berikut ini keterangan beliau tentang Syeh Siti Jenar.

“….Rikala ingsun pinaringan wejangan dening panjenengane Kanjeng Sunan Bonang ingsun supaya nyebarake agamaning Allah, kang tundone tekane pesisir-pesisir kabeh, lor, kidul lan kulon. Ana ing pesisir kulon ingsun pinanggih gaibe Nabi Khidir. Nalika iku ingsun diwejang. Jroning wejangan iku Nabi Khidir ngendika supaya ingsun ngati-ati, ana tetesing tirto kang tundone kang tinetes iku wewujudaning rah putih saka krajiman kang dumuung ana tanah manca negara ing Arab sakukubane yaiku Turki, kang aran Syeh Ukel. Syeh Ukel iku rajane krajiman ing tanah Arab, numurunake perkara kanggo ngganggu gawe ing alam donya. Rah putih iku muncrat kasebar tekan tanah Jawa. Muncrating rah putih iku tiba ana pesisir kulon. Sawise tumiba dumadakan ana raja pandita utawa begawan kang lagi tapa ana sapinggiring sendang. Raja pandita iku aran begawan Bungsu. Nalika iku ana jalma tumiba ing mustakane begawan Bungsu. Sawise iku jalma kang tumiba mau nyawiji sak kojuring badane begawanan Bungsu. Raja pandita kagungan putra kang tundone mijil kakung pinaringan asma Pangeran Bang-bang utawa Bambang. Bocah iku nduweni kasekten nanging murang tata patrape. Bocah katundung. Nganti tumekane gedhe nduweni nalar njumangkah tansah tapa brata sahingga kasektene linuwih. Pangeran Bambang wis bosen anggone nduweni ilmu kang tanpa guna kanggo kabecikan. Pangeran Bambang nduweni kepinginan kanggo nggoleki ilmu Allah. Ingsun nembe diwejang ilmu pamungkas dening panjenengane Sunan Bonang. Anggone mejang ora ana kang kepareng mangerteni kajaba ingsun lan Kanjeng Sunan Bonang. Awit nyalawadi, supaya ora ana sing mangerteni, anggone mejang numpak prahu ana segara. Dumadakan prahune bocor ingsun kadawuhan supaya nambal nganggo siti. Pangeran Bambang bisa mirengake pangandikane Sunan Bonang lan ingsun awit njalma dadi cacing. Cacing kaya dene ana sajroning siti kang ingsun tambalake ana ing prahu. Sanalika Kanjeng Sunan Bonang mangerteni ana wewujudane jalma kang mirengake. Saka kasekteni Kanjeng Sunan Bonang cacing membawarna iku maujud dadi manungsa. Awit anggone membawarna nelik sandi dadi cacing ana siti kang kajupuk saka siti warna abang jalma iku diarani Siti Jenar. Siti Jenar katundung njur lumaku mangetan terus tumuju panjenengane Sunan Giri. Kanjeng Sunan Giri uga bakal mejang ilmu tasawuf. Siti Jenar njelma dadi kodok bedindang putih ndelik ana panggonane Kanjeng Sunan Giri. Panjenengane Sunan Giri mangerteni apa sing kedaden. Kodok bedindang putih kasebul maujud dadi Siti Jenar njur sumingkir. Siti Jenar golek akal supaya ora kadenangan anggone nelik sandi. Siti Jenar membawarna dadi godong. Makaping-kaping anggone Siti Jenar membawarna nanging tansah kadenangan. Kahanan kang kaya mangkono iku yen dikendelake bisa ndadekake perkara kang kurang becik. Sawise kanti dedelikan Kanjeng Sunan Giri tansah mangerteni, panjenengane rumangsa luput yen ana pawongan kang bakal ngecep ilmu ora diparengake. Kang mangka ilmu tasawuf iku ilmu suci, apa lupute yen diparingake marang umat kang mbutuhake. Wasana Siti Jenar sawuse nelik sandi makaping-kaping njur diparengake nampa wejangan ilmu tasawuf kanti ikhlasing penggalih Kanjeng Sunan Giri. Sawuse dadi Syeh Siti Jenar manguasani ilmu tasawuf, njur disalahgunakake kanti nerak angger-anggering para wali Allah. Syeh Siti Jenar nglakokake ajaran marang para kawula yaiku kang disebut Manunggaling Kawula – Gusti ( wahdatul wujud ) lan terang-terangan ngaku dzat Allah kang mangka ajaran iku gawe sesating para kawula. Para wali Allah ora sarujuk lan Syeh Siti Jenar tinimbalan supaya ngadep para wali. Syeh Siti Jenar wis numurunake ilmu marang para cantrik. Kalebu Adipati Pengging, Ki Kebokenanga, dadi agul-agule Syeh Siti Jenar. Syeh Siti Jenar mbalela sahingga para wali kagungan pamikir kang kaya mangkono iku ora bisa dienengake. Yen ajarane Syeh Siti Jenar dikendelake mangka bakal gawe rusak kabeh tataning urip. Rusaking kabeh tataning urip ndadekake murkaning Gusti Kang Maha Agung Maha Suci sahingga bumi digulung lan cukup tekan semono sejarahe manungsa. Mula para wali pinaringan pituduh babagan perkara kang gawe rusaking bumi. Syeh Siti Jenar dihukum pati. Kapasung njur kapenggal janggane. Muncrat rahe sumebar madyaning bantala. Muncrating rah bebarengan suarane bledeg ngampar kaya dene ngancam-ngancam marang para wali Allah. Suara iku ya suarane Syeh Siti Jenar. Mula dipasrahake marang Raga Sela. Bledeg kaleremake dening Ki Raga Sela. Nalika iku mujudake daya panas makantar-kantar ana ing pasewakane para wali. Kanti mengkono para wali wis bisa mbrasta angkara murka. Mula kahanan kang kaya mangkono aja ndadekake salah tampa”.

(Ketika saya telah diberi wejangan oleh Kanjeng Sunan Bonang saya diwajibkan untuk menyebarkan agama Allah, hingga sampai ke semua pesisir, utara, selatan dan barat. Di pesisir barat saya bertemu gaib Nabi Khidir, guru gaib saya. Kala itu saya diberi wejangan. Di dalam wejangan itu Nabi Khidir mengatakan supaya saya berhati-hati, ada tetesan air yang merupakan tetesan darah putih yang berasal dari jin yang berada di tanah Arab yaitu Turki bernama Syeh Ukel. Syeh Ukel adalah raja jin di tanah Arab yang menurunkan hal-hal guna mengganggu alam dunia. Darah putih itu menyembur menyebar hingga ke tanah Jawa. Semburan darah putih itu jatuh di pesisir barat. Setelah saat darah putih itu jatuh kebetulan ada seorang raja pendeta (begawan) sedang bertapa di pinggir sendang. Raja pendeta itu bernama begawan Bungsu. Ketika itu ada gaib (jalma) terjatuh di kepala sang begawan. Setelah itu gaib yang terjatuh tersebut menyatu dalam diri begawan Bungsu. Raja pendeta memiliki putra diberi nama Pangeran Bang-bang atau Bambang. Anak tersebut memiliki kesaktian tetapi tidak punya tata susila. Anak tersebut diusir. Hingga dewasa memiliki nalar selalu melakukan pertapaan sehingga kesaktiannya luar biasa. Singkat cerita Pangeran Bambang telah bosan memiliki ilmu kesaktian yang tidak berguna untuk kebaikan. Pangeran Bambang ingin mencari ilmu Allah. Saya baru saja diwejang ilmu pamungkas oleh Kanjeng Sunan Bonang. Di dalam memberikan wejangan tidak boleh ada yang mendengar kecuali saya dan Sunan Bonang. Karena merupakan suatu hal yang bersifat rahasia, supaya tidak terdengar atau diketahui siapa pun, wejangan disampaikan dengan naik perahu ke laut. Kebetulan perahu bocor, saya diperintah untuk menambal dengan tanah. Pangeran Bambang bisa mendengarkan pembicaraan Sunan Bonang dan saya karena menjelma menjadi cacing. Cacing itu berada di dalam tanah yang saya gunakan untuk menambal perahu. Seketika itu Sunan Bonang mengerti bahwa ada yang mendengarkan. Dengan kesaktian Sunan Bonang cacing jelmaan Pangeran Bambang itu berubah menjadi manusia. Karena di dalam melakukan penyamaran menjadi cacing berada di dalam tanah yang diambil dari tanah yang berwarna merah maka disebutlah manusia itu Siti Jenar (tanah merah). Siti Jenar diusir kemudian berjalan ke arah timur menuju tempat Sunan Giri. Kanjeng Sunan Giri juga akan memberikan wejangan ilmu tasawuf. Siti Jenar menyamar menjadi katak bedindang putih bersembunyi di tempat dimana akan digunakan memberikan wejangan oleh Kanjeng Sunan Giri. Kanjeng Sunan Giri mengetahui apa yang terjadi. Katak bedindang putih ditiup berubah menjadi Siti Jenar. Siti Jenar kemudian menyingkir. Siti Jenar mencari akal supaya tidak ketahuan di dalam penyamarannya. Siti Jenar menjelma menjadi daun. Berkali-kali Siti Jenar melakukan penyamaran tetapi selalu ketahuan. Keadaan semacam itu apabila dibiarkan akan menimbulkan hal yang kurang baik. Setelah dengan cara sembunyi-sembunyi Sunan Giri selalu mengetahui, Sunan Giri merasa bersalah apabila ada orang yang ingin mendapatkan ilmu tidak diperkenankan. Padahal tasawuf itu ilmu suci, apa salahnya kalau diberikan kepada orang yang membutuhkan. Akhirnya Siti Jenar setelah melakukan penyamaran berkali-kali kemudian diperkenankan menerima wejangan ilmu tasawuf dengan keikhlasan Sunan Giri. Setelah Syeh Siti Jenar menguasai ilmu tasawuf, lalu disalahgunakan dengan melanggar kode etik para wali Allah. Syeh Siti Jenar memberikan kepada rakyat banyak ajaran yang disebut Manununggaling Kawula – Gusti (Wahdatul Wujud) dan secara terus terang mengaku Dzat Allah. Padahal ajaran tersebut membikin sesat rakyat. Para wali Allah tidak setuju dan Syeh Siti Jenar dipanggil untuk menghadap para wali. Syeh Siti Jenar telah menurunkan ilmunya kepada para cantrik. Termasuk Adipati Pengging Ki Kebokenanga, menjadi andalan Syeh Siti Jenar. Syeh Siti Jenar membangkang sehingga para wali berpendapat yang demikian itu tidak bisa dibiarkan. Apabila ajaran Syeh Siti Jenar dibiarkan maka akan membikin rusak semua tatanan kehidupan. Rusaknya tatanan kehidupan menyebabkan Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci marah sehingga bumi segera digulung dan sejarah manusia berakhir di situ. Maka para wali mendapatkan petunjuk mengenai hal yang akan membuat rusak di bumi. Syeh Siti Jenar dihukum mati. Dipasung kemudian dipenggal. Menyembur darahnya tersebar di tanah. Tersemburnya darah bersamaan suara petir menggelegar dengan mengancam-ancam para wali Allah. Suara itu adalah suara Syeh Siti Jenar. Maka diserahkanlah kepada Ki Ageng Raga Sela. Suara petir diredakan oleh Ke Ageng Raga Sela. Saat itu menimbulkan hawa panas luar biasa di tempat pertemuan para wali. Dengan begitu para wali telah berhasil memberantas angkara murka. Maka keadaan yang demikian janganlah menjadikan salah paham).

D Mengkritisi Ajaran Syeh Siti Jenar

Di dalam sebuah buku yang berjudul Syeh Siti Jenar pada bab sepuluh halaman 196 – 219 tentang penolakan syari’at, ada dua bait tembang Dandanggula dari Serat Syeh Siti Jenar gubahan Raden Panji Natarata pada abad XIX Masehi. Dijelaskan bahwa pada masa Siti Jenar ibadah ritual tidak mempunyai manfaat lagi bagi kehidupan. Semuanya sudah menjadi palsu. Keterangan yang demikian tentu tidak logis apabila diverifikasi dengan fakta sejarah. Hal yang demikian bisa dikatakan sebagai sebuah keterangan yang tidak logis karena masa Siti Jenar adalah bersamaan dengan para Walisongo di mana saat itu Islam merupakan agama yang baru disebarkan oleh para wali. Artinya rakyat tanah Jawa baru mengenal Islam. Islam baru tumbuh, seperti yang digambarkan oleh Sunan Kali dalam tembang yang diciptakannya yaitu Lir Ilir. Dalam tembang itu digambarkan bahwa Islam ibarat tandur kang wus sumilir – tanaman padi yang baru tumbuh. Bagaimana mungkin agama yang baru dikenali sekaligus dipalsukan juga oleh pemeluknya. Apalagi pernyataan tentang pemalsuan syari’at Islam pada waktu itu dengan mengatakan bahwa para wali bisa menerima pendapat Siti Jenar tetapi Raja Demak, yang tidak dapat menerimanya. Pernyataan yang demikian adalah memutarbalikkan fakta sejarah, karena para wali jelas tidak pernah mendukung sikap penolakan terhadap syari’at. Karena itulah Syeh Siti Jenar dijatuhi hukuman mati. Tidak ada bukti bahwa para wali menerima pendapat Siti Jenar bahwa ibadah ritual telah menjadi palsu.

Namun demikian pernyataan dalam buku itu bisa dipahami karena penulisnya tidak secara langsung menerima wejangan dari sang Syeh tetapi sekedar menginterpretasikan sebuah tembang yang digubah oleh Raden Panji Natarata. Jadi apabila dipahami secara mendalam, yang menyatakan bahwa ibadah ritual tidak mempunyai manfaat lagi bagi kehidupan bahkan sudah menjadi palsu adalah penggubah tembang itu. Atau pada masa hidup Raden Panji Natarata bentuk ibadah ritual dianggap telah menjadi palsu.

Menurut keterangan Kanjeng Sunan Kali yang penulis terima secara gaib, Syeh Siti Jenar sendiri tidak sampai menyatakan semacam itu. Apabila Syeh Siti Jenar menyatakan bahwa ibadah ritual telah menjadi palsu sama artinya Syeh Siti Jenar mengatakan para wali telah memalsukan sahadat, sholat, puasa, zakat dan haji.

SAHADAT

Menurut buku itu juga sahadat yang dilakukan Syeh Siti Jenar bukan hanya berupa formalitas, tetapi berupa pengakuan dan kesaksian. Kalau memang itu yang benar-benar dilakukan Siti Jenar maka tidak logis bagi Siti Jenar menolak syari’at Islam. Dengan sahadat berarti ada pengakuan dan kesaksian bahwa Allah itu adalah Tuhannya dan sekaligus mengaku dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Apabila pengakuan dan kesaksian hanya pada Allah dan tidak mengakui Muhammad sebagai utusan-Nya maka tidak bisa disebut beragama Islam dan pengakuan dirinya sebagai orang Islam adalah omong kosong. Konsekuensi logis dari sahadat yang tulus yang berupa pengakuan dan kesaksian adalah menjalankan syari’at Islam sesuai yang diajarkan dan dilaksanakan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Pernyataan bahwa apabila suatu ibadah telah menjadi palsu, tidak dapat dipegangi dan hanya untuk membohongi orang lain; maka semuanya merupakan keburukan di bumi itu betul. Tetapi kemudian dikatakan bahwa kelima rukun Islam itu tak dapat dirasakan manfaatnya bagi kesejahteraan hidup dan hanya digunakan sebagai alat untuk melegitimasi kekuasaan adalah tidak tepat. Pernyataan semacam itu adalah misleading dan terasa bahwa syari’at Islam dianggap keliru. Sekiranya benar terjadi bahwa seseorang atau sekelompok orang melakukan ibadah dalam bentuk rukun yang lima tetapi masih melakukan kebohongan serta tindakan tercela lainnya maka yang keliru bukan syari’atnya tetapi manusianya yang tidak mampu atau tidak mau melakukan syari’at dengan benar. Jadi berdasarkan pikiran yang sehat yang tidak diliputi hawa nafsu maka tidak benar dikatakan bahwa syari’at itu menjadi palsu lantaran ada orang yang tidak mampu menjalankan syari’at dengan benar.

Dikatakan bahwa ketika buku yang berjudul Syeh Siti Jenar itu ditulis banjir telah seminggu melanda negeri ini dan ada hotel berbintang lima yang terlanda banjir juga. Katanya ini semua bisa terjadi karena kita semua cuma riya’ dalam beragama. Kita telah melakukan kejahatan di bumi. Syari’at hanya digunakan sebagai topeng. Kalau memang diyakini begitu keadaannya maka marilah kita ajak agar umat tidak riya’ di dalam beragama dan tidak menjadikan syari’at sebagai topeng tetapi menjalankan syari’at dengan benar sebagai tuntunan hidup.

SHALAT

Makna atau substansi shalat adalah berdzikir kepada Allah dan tujuan shalat itu untuk mencegah perbuatan keji dan munkar. Siti Jenar mengkritik shalat karena shalat sudah kehilangan makna dan tujuannya. Sebagai konsekuensi logis dari pandangannya, dia tidak melakukan tata cara shalat yang diajarkan oleh para wali.

Apabila Siti Jenar adalah orang yang benar-benar mau mengajarkan dan menyebarkan Islam ketika dia melihat bahwa shalat telah kehilangan makna dan tujuannya maka yang dilakukan bukanlah meninggalkan tata cara shalat yang telah diajarkan Rasulullah dan diajarkan kepada orang Jawa oleh para wali dan bahkan mengajarkan shalat menurut pikiran dia sendiri dengan dalih melakukan shalat secara hakikat atau shalat daim. Yang seharusnya ia lakukan adalah meluruskan hal-hal yang telah dilakukan secara salah sehingga orang yang shalat tidak mencapai hakikat dan tujuan shalatnya itu dengan benar dapat memperbaiki dirinya.

Pernyataan bahwa pelaksanaan shalat lima waktu itu bukan shalat yang sebenarnya dan hanya merupakan hiasan dari shalat daim adalah pandangan Jawa, itu jelas tidak benar. Karena tidak semua orang Jawa berpandangan demikian. Yang berpandangan begitu adalah Siti Jenar dan orang Jawa yang mengikutinya. Sunan Kalijaga itu orang Jawa tetapi tidak memiliki pikiran begitu.

Memang Al-Qur’an tidak menyatakan secara tegas bentuk dan rangkaian gerakan dalam shalat hanya maksud dan tujuan shalat yang ditegaskan. Karena Al-Qur’an adalah memuat nilai-nilai dan pedoman pokoknya sedangkan rincian secara teknis opersional diberikan oleh Rasulullah SAW sebagai makhluk Allah yang secara langsung menerima perintah shalat itu. Jadi tata cara shalat yang benar ya yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW bukan yang menurut pikiran Siti Jenar.

Bila direnungkan secara mendalam pandangan-pandangan yang telah dilontarkan Siti Jenar dan para pengikutnya itu adalah usaha untuk merusak ajaran Islam dari dalam. Secara lahiriyah nampaknya Siti Jenar dan pengikutnya itu hendak mengajarkan Islam yang hakiki, yang sebenar-benarnya tetapi sebenarnya itu merupakan cara penyimpangan orang Islam dari agamanya. Ambil contoh satu kasus tentang shalat, Siti Jenar memiliki tata caranya sendiri tidak mengikuti yang diajarkan Rasulullah SAW. Kalau setiap orang Islam melakukan hal yang sama seperti Siti Jenar dan pengikutnya maka tidak ada bedanya antara Islam dengan agama yang lainnya. Tidak jelas status agama seseorang karena cara ibadahnya tidak memiliki ciri Islam atau bukan. Ketika Islam dan bukan Islam itu sama saja maka sama artinya Islam telah terhapus dari muka bumi.

Dikatakan oleh pengikut Siti Jenar bahwa ketika Islam ditawarkan kepada orang Jawa, “ilmu” yang melandasi amalan rukun Islam yang lima itu tidak ada. Sehingga praktek keagamaan itu tidak berimplikasi terhadap amar ma’ruf nahi munkar. Seolah-olah praktek rukun Islam itu tak terkait dengan akhlaq atau budi pekerti dan perjuangan hidup dan timbul istilah, “shalat jalan terus dan maksiat jalan terus”. Dengan kata lain, rukun Islam dikerjakan dan perintah serta larangan pun diabaikan. Syiar lebih ditonjolkan daripada fungsi agama yang sebenarnya.

Sekiranya yang benar-benar terjadi adalah seperti yang digambarkan ini maka hal tersebut memang bukan yang dimaksudkan atas diturunkannya syari’at Islam. Dan benar-benar merupakan argumen yang keliru kalau kejadian semacam itu menjadi alasan penolakan terhadap pelaksanaan syari’at Islam. Yang keliru adalah tindakan mencampuradukkan shalat dan maksiat bukan syari’atnya. Kalau ilmu yang melandasi pelaksanaan rukun Islam dianggap tidak ada, ya ilmunya diberikan bukan pelaksanaan rukun Islam yang ditolak.

ZAKAT

Baiklah, kini diceritakan bahwa Syeh melakukan penafsiran kembali terhadap ajaran Islam. Dengan demikian, beragama Islam tidak sebatas kepercayaan. Sahadat ditafsirkan kembali. Juga shalat, puasa, zakat dan haji. Zakat tidak lagi dipahami sebagai mengeluarkan harta milik sebesar dua setengah persen. Tapi menolong kehidupan orang lain yang kekurangan. Menolong orang lain agar dapat hidup. Yang ditonjolkan dalam cerita ini adalah kedermawanan Syeh dalam memberikan hasil panennya yang besarnya lebih dari lima persen kepada yang kekurangan. Dan itulah yang disebut sebagai zakat.

Sebenarnya dalam hal zakat ini substansinya tidak ada perubahan yang berarti. Hanya terkesan terjadinya kesalahpahaman karena Syeh dan pengikutnya mengira bahwa zakat harus diberikan sejumlah dua setengah persen dari harta milik. Padahal Syeh sendiri bisa memberikan lebih besar dari lima persen. Maka ketentuan zakat dua setengah persen adalah tidak dipandang sebagai zakat karena belum bisa menolong yang kekurangan. Syeh dan para pengikutnya lupa bahwa jumlah dua setengah persen itu sesungguhnya merupakan batasan minimal bagi pemberi zakat. Ajaran syari’at Islam jelas tidak melarang pemberian zakat lebih dari lima persen. Presentase pemberian yang lebih besar jelas memiliki nilai lebih dalam pandangan Islam.

PUASA

Tentang puasa Siti Jenar dan atau pengikutnya berpandangan bahwa puasa bukan sekedar mengatur lapar di bulan Ramadhan tetapi mampu “nglakoni weteng kudu luwe”, membiasakan diri lapar bukan kelaparan. Sehingga tercipta masyarakat yang terkendali hawa nafsunya. Pandangan semacam itu jelas selaras dengan yang dikehendaki oleh syari’at Islam. Tetapi pengertian weteng kudu luwe perlu adanya tafsir ulang, supaya weteng kudu luwe ini sesuai kebutuhan gizi untuk pembangunan bangsa. Hasil dari penafsiran ulangnya tentang tahan lapar adalah kemampuan untuk tidak tergoda melakukan manipulasi. Tidak membentuk jaringan KKN. Dengan berpuasa manusia diharapkan untuk mampu menahan diri dari gejolak emosi maupun kegundahan hidup. Dan ternyata tidak ada konsep baru yang dihasilkan karena syari’at Islam tentang puasa memang demikian kehendaknya.

HAJI

Pandangan Siti Jenar dan atau pengikutnya mengenai haji adalah bahwa haji itu merupakan olah spiritual. Dengan ‘ngeraga sukma’ mereka mampu ke Mekkah. Namun bagi mereka Mekkah letaknya bukan di Arab Saudi. Tapi di dalam spirit manusia yang tidak dapat ditempuh dengan menggunakan bekal uang. Haji adalah olah spiritual untuk mencapai keyakinan hidup yang hak, yaitu sanggup mati dalam kebenaran, serta sabar dan ikhlas dalam hidup di dunia. Hidup ikhlas adalah hidup yang tidak terkontaminasi nafsu berebut kekuasaan, harta dan kelezatan hidup di dunia.

Tujuan haji adalah ikhlas dalam hidup ini. Caranya adalah berani dan sanggup mati dalam kebenaran disertai tindakan sabar. Berani dan sanggup untuk hidup bersahaja dan bersih dari segala perbuatan yang mungkar dan tercela. Untuk membebaskan hati dan pikiran dari kotoran diperlukan kesabaran. Sabar artinya memiliki daya juang dan tidak mudah menyerah dalam upaya mencapai tujuan.

Dalam ibadah haji semua bentuk usaha menciptakan keberanian dan kesanggupan untuk mati serta sabar diwujudkan dalam simbol-simbol. Kesanggupan hidup bersahaja dilambangkan dengan pakaian ihram. Ikhtiar untuk mempertahankan hak hidupnya dilambangkan dengan sa’i, lari-lari kecil bolak-balik 7 kali dari bukit Shofa ke bukit Marwah. Tujuan mencapai titik spiritual dalam kehidupan ini disimbolkan dengan thawaf. Untuk menjaga keharmonisan alam disimbolkan dengan larangan dalam masa ihram untuk menebang pohon, membunuh binatang dan larangan-larangan lainnya.

Uraian di atas walaupun sebagian diungkapkan dengan cara terbalik misalnya kesanggupan hidup bersahaja dilambangkan dengan pakaian ihram yang semestinya berpakian ihram yang sederhana melambangkan kesanggupan hidup bersahaja, tampak cocok dengan syari’at haji yang kita pahami. Tetapi ketika dikatakan bahwa Ka’bah letaknya bukan di Arab Saudi adalah tampak adanya penyimpangan dan pemutarbalikan fakta. Apalagi referensi yang disodorkan adalah Suluk Wujil yang menerangkan bahwa Ka’bah yang sebenarnya tak diketahui letaknya, karena di alam spiritual. Sedangkan Ka’bah yang di kota Mekkah, dikatakan sebagai tiruan. Pernyataan tersebut jelas bertentangan dengan logika dan akal sehat.

Apalagi diterangkan dengan premis yang keliru yaitu orang Jawa sudah tidak tertarik terhadap simbol-simbol karena sudah terlalu banyak simbol yang dilakukan di Jawa. Karena itu orang Jawa (Siti Jenar dan atau pengikutnya) tidak mau dibebani lagi dengan simbol-simbol dari luar yang hakikatnya sama, yaitu untuk mencapai kesejahteraan hidup selamanya. Pernyataan ini mengandung maksud orang Jawa tidak perlu berhaji, karena sudah cukup memadai simbol-simbol yang ada di tanah Jawa ini dengan simbol-simbol ketika berhaji.

Sungguh nampak adanya tendensi untuk menggiring orang-orang Islam Jawa khususnya untuk meninggalkan syari’at Islam dengan pendekatan logika sekalipun tidak logis.

Diterangkan dalam buku yang berjudul Syeh Siti Jenar ini bahwa Syeh Siti Jenar tidak tertarik dengan aspek lahiriah suatu syari’at agama karena dia beranggapan bahwa aspek lahiriah suatu syari’at agama tidak lepas dari pengaruh budaya tempat kelahiran agama itu. Di sini diterangkan juga bahwa dalam berbagai literatur disebutkan baik oleh para wali maupun Syeh sendiri bahwa syari’at Islam yang diterapkan adalah syari’at Arab. Karena itu, meski Syeh tetap mengakui dirinya sebagai orang Islam dia tidak mau mempraktikkan syari’at yang diajarkan oleh para wali.

Siti Jenar menganggap bahwa syari’at Islam merupakan syari’at Arab itu wajar, tetapi penulis benar-benar mempertanyakan sumber atau literatur yang menjelaskan bahwa para wali berpikiran syari’at Islam sebagai syari’at Arab. Nampaknya hal ini mengada-ada.

Siti Jenar menerima isi dan tujuan syari’at Islam. Tapi dia menolak bentuk syari’at yang berasal dari tanah Arab. Bentuk syari’at diibaratkan sebagai warna dan bentuk baju yang tergantung pada selera dan budaya orang yang memakai. Pengambilan ibarat yang semacam itu adalah tidak tepat. Syari’at lebih tepat diibaratkan dengan rambu-rambu lalu lintas yang setiap icon-nya telah ditetapkan maknanya. Sehingga siapa pun yang tidak mematuhi rambu itu akan tersesat atau mendapatkan kesulitan dalam perjalanannya. Apalagi referensi ayat yang digunakan untuk menopang penolakan terhadap syari’at adalah sebuah ayat yang artinya “Allah tidak ingin menyulitkan kehidupan hamba-Nya, tetapi dia ingin membersihkan dan mencukupkan nikmat-Nya kepada hamba-Nya dan agar sang hamba bisa bersyukur”. Walaupun di dalam ayat tersebut ada ungkapan Allah tidak ingin menyulitkan kehidupan hamba-Nya bukan berarti kita bisa semau gue dalam menjalankan syari’at agama tetapi tetap berpedoman pada tuntunan Rasulullah SAW.

Menurut buku tersebut bentuk syari’at hanyalah cara bukan tujuan. Tetapi harus diingat Islam mengajarkan bahwa tujuan harus dicapai dengan cara yang benar bukan dengan cara yang semau gue. Menghalalkan segala cara asal tujuan bisa tercapai itu bertentangan dengan ajaran Islam.

PERJALANAN HIDUP MANUSIA

Di dalam Al Qur’an Surat Al Mukminun ayat 12-16 Allah menjelaskan proses perjalanan hidup manusia sebagai berikut :

- Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dari sari tanah (ayat 12).

- Kemudian Kami jadikan dia air mani yang disimpan di dalam tempat yang kokoh (rahim) (ayat 13)

- Kemudian mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan sepotong daging, lalu sepotong daging itu Kami jadikan tulang, lalu tulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian dia Kami ciptakan makhluk yang lain (manusia yang sempurna). Maka Maha Suci Allah yang sebaik-baik yang menciptakan (ayat 14).

- Kemudian sesudah itu kamu mati (ayat 15).

- Kemudian pada hari kiamat kamu dibangkitkan kembali (ayat 16).

Di samping menggambarkan proses perjalanan hidup manusia enam ayat di atas juga menuturkan secara gamblang bahwa yang tercipta dari sari tanah bukan hanya Nabi Adam a.s. tetapi semua manusia. Sebagaimana kita ketahui bahwa kita merupakan hasil pembuahan (bertemunya sperma dan ovum) sebagai konsequensi hubungan antara pria dan wanita. Sperma dan ovum itu sendiri merupakan extrak dari segala yang dikonsumsi oleh manusia baik berupa sumber nabati maupun hewani dan bahan mineral. Dan semuanya bersumber dari tanah. Maka jelas bahwa manusia tercipta dari tanah melalui suatu proses siklus kehidupan di bumi.

Berdasarkan firman Allah dalam surat Al Mukminun tersebut di atas, Kanjeng Sunan Kalijaga menjelaskan bahwa ada empat macam alam yang ditempuh oleh manusia dalam rangkaian kehidupannya yaitu :

- Alam kandungan (alam gua garba)

- Alam dunia

- Alam kubur

- Alam mahsyar (akhirat).

Wejangan Kanjeng Sunan Kalijaga tentang perjalanan hidup manusia antara lain sebagai berikut.

Manungsa iku kacipta dening Gusti Kang Maha Agung Maha Suci kaya kang katela sajroning Al Qur’an mengkene. Kang kawitan sajroning patang puluh dina awujud tirta suci sinimpen ana ing rahim. Banjur patang puluh dina sateruse awujud rah kenthel. Sawuse kang mangkono patang puluh dina maneh dadi wewujudane segumpal daging. Nalika tumekan wektu satus rong puluh dina Gusti Kang Maha Agung Maha Suci numurunake sukma utawa roh. Ya ana ing wektu iku sinerat apa kang bakal linampahan dening manungsa utamane babagan dina kelahiran, jodo, rejeki lan pati. Mula ana ing wektu iku prayoga banget kanggo nyenyuwun supaya putra utawa putri kang bakal mijil mengkone pinaringan kaberkahaning kabeh saha bisa dadi manungsa kang sholeh ana ing tembe mburine. Anane seslametan pitonan iku sajatine salah kaprah bener ora lumprah.”

“ Manusia itu diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Agung Maha suci sebagaimana tertuang dalam Al Qur’an demikian. Awalnya selama empat puluh hari berupa air suci yang tersimpan dalam rahim. Kemudian empat puluh hari berikutnya berupa darah kental. Setelah yang demikian empat puluh hari selanjutnya menjadi segumpal daging. Ketika mencapai waktu seratus dua puluh hari Tuhan meniupkan sukma atau roh. Pada waktu itulah dituliskan hal-hal yang akan dijalani manusia terutama hal yang berkaitan dengan hari kelahiran, jodoh, rejeki dan datangnya ajal. Maka pada waktu itulah sangat baik kita memohon agar anak yang akan lahir kelak mendapat keberkahan dan bisa menjadi orang sholeh. Adanya selamatan tujuh bulan sebenarnya kurang tepat, salah kaprah.”

Ketika dalam alam kandungan juga manusia telah bersaksi kepada Tuhan seraya menjawab pertanyaan Alastu birabbikum ? Bala Syahidna. Tetapi setelah lahir ke alam dunia banyak manusia yang melupakan kesaksian tersebut. Karena itulah tuntunan agama sangat penting artinya agar manusia bisa diingatkan dan kembali kepada jalan Tuhannya.

Ketika usia kandungan mencapai + sembilan bulan maka manusia siap untuk berpindah alam dari alam kandungan ke alam dunia. Tangis seorang bayi menandai adanya respond terhadap dunia yang jauh lebih luas dari alam kandungan. Tanpa tangis pada waktu kelahiran dimungkinkan terjadi kelainan pada bayi itu. Kelahiran seorang bayi itu disambut dengan senyum suka cita oleh setiap anggota keluarga.

Untuk menghadapi kehidupan alam dunia yang berciri fisik-material setiap manusia dibekali dengan akal budi kata hati beserta petunjuk ilahi yang berupa kitab suci.

Alam dunia yang diciptakan oleh Allah dalam enam hari diperuntukkan untuk manusia. Makhluk lain yang berupa tumbuhan dan hewan merupakan pelengkap bagi kepentingan hidup manusia itu sendiri. Dan Allah menciptakan dunia ini dengan segala ketetapan kodratnya yang biasa disebut sebagai Sunnatullah atau hukum alam. Manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi diberi wewenang untuk mengatur, menjaga dan memanfaatkan dunia ini.

Akal budi sebagai anugerah Ilahi dimanfaatkan untuk menemukan Sunnatullah sehingga bisa menjadi bekal untuk berkreasi. Hasil kreasi dari manusia itu merupakan budaya dan peradapan. Temuan dari sunnatullah yang dilakukan melalui penelitian dan kompilasi pengalaman akan menghasilkan teknologi yang digunakan untuk kepentingan hidup manusia baik untuk mendapatkan kemudahan dan kenyamanan maupun untuk mengupayakan keselamatan. Sekali lagi teknologi hanyalah mengupayakan keselamatan dan yang menentukan keselamatan hanya Allah semata.

Kata hati beserta akal budi harus digunakan secara seimbang untuk memahami petunjuk-petunjuk Ilahi. Namun demikian sebagian besar manusia sering lebih didominasi oleh akal budi dan mengabaikan kata hati. Bahkan kadang-kadang manusia terlalu memuja-muja akal dan teknologi yang dihasilkannya. Suatu kebenaran hanya diterima apabila masuk akal. Hal yang tidak bisa dinalar selalu dianggap salah. Mengapa demikian? Kenyataan demikian terjadi karena pengalaman manusia lebih banyak bersentuhan dengan akal budi yang berkorespondensi dengan empiri yang bersifat fisik material.

Untuk itulah Tuhan Yang Maha Agung Maha Suci menurunkan kitab suci guna membimbing dan mengimformasikan pada manusia segala hal yang tidak terjangkau oleh akalnya.

Tujuan dari diciptakannya manusia tidak lain hanyalah agar manausia itu mengabdi kepada Allah. Seperti yang tertera dalam Al- Qur’an surat Adz Dzariyat ayat 53 :

Wa ma khalaqtul jinna wal insa illa li yakbudun

Artinya : Tidaklah Kami ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk mengabdi kepada Ku.

Kehidupan dunia sebagai alam kedua yang ditempuh manausia ini bersifat sangat singkat sehingga dalam bahasa Jawa diibaratkan sebagai “mampir ngombe”. Al Qur’an menyatakan kehidupan dunia sebagai main-main dan senda gurau. Maksudnya adalah bukan sebagai sesuatu yang haqiqi karena kesementaraannya itu.

Sebagai bagian dari rangkaian proses menuju kembali kepada Allah, kehidupan dunia oleh Rasulullah diibaratkan sebagai kebunnya akhirat maksudanya sebagai tempat mempersiapkan dan mencari bekal menuju ke hadapan Ilahi di akhirat nanti.

Kanjeng Sunan Kalijaga menggambarkan kehidupan manusia di dunia sebagai orang yang pergi ke pasar yang akan ditanyakan oleh-olenya ketika kembali yaitu di alam kubur. Kehidupan dunia seperti halnya pasar karena di sana banyak hal yang terjadi, ada godaan-godaan dan bahkan ada pencopet yang mencuri barang kita. Orang yang tergiur oleh kehidupan dunia dan tidak mempersiapkan diri dengan amal baik seperti orang yang kecopetan sehingga pulang dalam keadaan tangan kosong tanpa oleh-oleh.

Pada saat ajal datang mau tak mau, suka atau tidak manusia harus berpindah alam, memasuki tahapan lain yang disebut dengan alam kubur. Maut pasti mendatangi siapa saja makhluk yang bernyawa. Peristiwa kematian merupakan saat yang sangat menyakitkan bagi orang-orang yang memuja-muja kenikmatan dunia (hedonisme). Segala yang diusahakannya akan ditinggalkan karena tidak mungkin untuk dibawa serta. Semua harta benda diitinggalkan di rumah. Anak-anak dan istri atau suami tercinta beserta sahabat dan kerabat hanya mengantarkan hingga ke liang lahat. Setelah itu mereka kembali tanpa permisi. Hanya amal sholeh/jariyah dan ilmu yang bermanfaat serta iman kita yang turut serta menemani kita di alam kubur.

Memasuki alam kubur itu roh dan jasad dipisahkan. Di alam kubur roh-roh itu dikurung dalam suatu tempat ada yang mendapat nikmat dan ada yang mendapat siksa. Roh yang selalu dikurung mendapatkan siksaan kubur. Ada juga roh-roh yang diberi kebebasan seperti arwah para nabi dan rasul, para aulia dan syuhada serta arwah orang-orang soleh.

ALAM GAIB

Seperti telah penulis uraikan di bagian awal buku ini bahwa salah satu ciri orang muttakin adalah mengimani eksitensi alam gaib. Bagi orang beriman mahluk atau alam gaib bukanlah sesuatu yang tidak masuk akal tapi merupakan bagian dari keimanannya. Namun demikian persepsi tentang alam gaib ini sangat beragam. Sebagian orang berpendapat bahwa yang tergolong alam gaib adalah suga dan neraka ( akhirat ), malaikat, jin/syetan dan Allah SWT yang Maha Gaib. Mereka menggolongkan mahluk gaib hanya ke dalam dua golongan yakni malaikat dan jin atau syetan. Bahkan syetan itu dipahami sebagai suatu phenomena perangai buruk pada diri manusia bukan golongan mahluk tertentu.

Karena adanya persepsi yang beragam ini pembicara tentang alam gaib menimbulkan pro dan kontra. Bahkan pembicaraan tentang alam empiri pun juga mnimbulkan pro dan kontra ketika persepsi kita tentan suatu objek itu berbeda. Maka pro dan kontra dalam hal mahluk/alam gaib adalah hal yang wajar.

Orang-orang yang pengalamannya telah bersinggungan dengan alam gaib dapat memahami bahwa alam gaib bukanlah suatu hal yang tidak masuk akal, mereka juga bisa memahami bahwa dimensi alam gaib itu sangat komplek dan jauh lebih komplek dari alam nyata. Tidak setiap mahluk gaib merupakan malaikat atau jin. Ada golongan mahluk gaib lain seperti halnya siluman yang tidak tergolong jenis jin. Adajuga mahluk gaib yang berasal dari hamba-hamba Allah yang sholeh yang dialam kuburnya diberi rezeki dan kenikmatan tersendiri oleh Allah SWT. Yang termasuk dalam golongan ini adalah para Rosul dan Nabi serta para Aulia maupun ulama sebagai pewaris nabi.

Di dalam Al-Qur’an diterangkan bahwa orang yang mati syahid adalah sesungguhnya tidak mati melainkan hidup disisi Allah dan diberi rizki. Apabila kita mengacu kepada keterangan Al Qur’an tersebut maka dapat kita mengerti bahwamahluk gaib bukanlah hanya jin dan malaikat melainkan juga kelompok yang tersebut diatas. Sebagai contoh bahwa arwah para nabi dan rosul serta para aulia dan ulama masih diberi kesempatan untuk melakukan hubungan dengan manusia yang ada di alam nyata adalah Nabi Khidzir yang menjadi guru Nabi Musa dan pada kurun waktu yang jauh berselang juga menjadi guru Syech Abdul Qodir Jailani dan bahkan menjadi guru Kanjeng Sunan Kalijaga secara gaib.

Di depan telah penulis jelaskan bahwa sebagian besar dari isi buku ini merupakan wejangan dan pengalaman yang penulis peroleh selama berguru secara gaib kepada Kanjeng Sunan Kalijaga. Yang beliau berikan kepada penulis adalah bimbingan batin dan amalan-amalan yang penulis manfaatkan untuk kemaslahatan umat. Pengalaman ini dapat menambah keyakinan penulis bahwa sesungguhnya hamba Allah yang sholeh dan yang mati syahid itu sesungguhnya tidak mati tetapi hidup di sisi Allah dalam dimensi gaib dan masih diberi rizki sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an. Atas ijin dan ridha Allah komunikasi antara kita yang masih berada di alam materi dengan orang-orang yang sudah berada di alam gaib bisa terjadi. Memang ada ilmu khusus untuk berkomunikasi dengan orang yang ada di alam gaib yang disebut ilmu Mukasyafah. Berkomunikasi dan berguru kepada beliau-beliau yang berada di alam gaib ini bukan merupakan suatu kemampuan melainkan sebuah anugerah dari Allah yang tidak setiap orang memperolehnya.

Perlu kita ketahui bahwa berkomunikasi dengan beliau-beliau yang telah berada di alam gaib itu dapat diibaratkan seperti kita masuk ke dalam hutan belantara yang tidak kita ketahui arah kiblatnya dan di dalamnya benyak resiko dan bahaya yang malang melintang. Untuk itu kita harus berhati-hati dan selalu waspada dengan mengacu syari’at Allah dalam Al-Qur’an dan Hadits nabi Muhammad SAW.

Penulis katakana demikian karena mahluk gaib jenis jin dan siluman sering datang kepada kita dengan menyamarkan diri dan mengaku sebagai wali Allah. Mereka datang dengan dalih memberikan bimbingan. Tetapi hasil dari bimbingan dari jin dan silman itu pada akhirnya akan membawa kita kepada kesengsaraan. Dampak negatif dari bimbingan jin dan siluman itu dapat berupa sifat, ujub tak ajub, dan takabur bahkan menimbulkan kegoncangan jiwa, tidak ada keselarasan antara akal budi dan hati nurani serta ingin selalu menyimpang dari sunnatullah atau hokum alam. Manusia yang sebenarnya adalah manusia yang masih tetap dalam koridor sunnatullah. Karena itu ketika kita menghadapi persoalan yang berkaitan dengan mahluk gaib ini maka kompasnya adalah syari’at Allah yang termuat dalam Al-Qur’an dan Hadits serta Sunnatullah dengan landasan kebersihan aqidah.

Interaksi antara manusia di alam nyata dengan mahluk Allah di alam gaib yang berupa jin dan siluman juga bisa dilakukan. Dalam hal ini ada orang-orang yang melakukannya dengan meminta pertolongan juru kunci. Setelah dibimbing oleh juru kunci dengan melakukan ritual khusus seseorang bisa memasuki alam gaib yang dihuni oleh jin dan siluman. Di sini biasanya orang meminta kekayaan secara instant. Mahluk dari alam gaib pun mengajukan syarat-syarat dengan suatu konsequensi yang harus ditanggung oleh pemohon kekayaan itu apabila disepakati. Baik jin maupun siluman dengan alam gaibnya dan kita manusia di alam nyata tidak perlu saling bekerja sama apalagi saling usik dan mengganggu. Kita punya alam yang berbeda dan berjalan di jalurnya masing-masing. Al-Qur’an menjelaskan bahwa ketika manusia meminta pertolongan jin maka menjadikan jin itu sombong.

Bilamana yang berinteraksi dengan kita adalah para gaib leluhur suci yang berasal dari hamba-hamba Allah yang sholeh seperti gaib para syuhada aulia maupun ulama insya Allah tidak menjadi masalah.

Tetapi hal ini haruslah tidak menggeser keyakinan kita bhwa segalanya adalah dibawah kekuasaanAllah. Segalanya bisa terjadi hanya karena kudrat dan iradat Allah. Allah Maha menentukan segalanya sebagai causa prima. Manusia apapun derajat dan tingkatannya tidak boleh dikultuskan karena hanya Allah yang berhak dikultuskan. Beliau-beliau para aulia maupun syuhada tidak bisa menurunkan keberkahan dan keselamatan tetapi sekedar lantaran dengan petunjuk-petunjuk dan kelebihan yang dianugerahkan Allah kepada mereka. Yang harus kita lakukan adalah menghormati dan menempatkan beliau secara proporsional sesuai dengan kesalehan, ketaqwaan dan kemuliaannya.

1 komentar: